Keterangan Gambar:
Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, drh. Sri Panggarti, memimpin rapat koordinasi bersama pengurus Koperasi Jasa Andong Yogyakarta guna memperkuat sinergi pelayanan kesehatan kuda andong sebagai ikon wisata budaya Kota Yogyakarta. (Foto: Dok. Humas Kota Yogyakarta)
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
Oleh: Ibnu Sultan
Wartawan Palapa Media Group DIY
SUARA PALAPA, YOGYAKARTA — Di antara derap langkah kuda yang saban hari mengantar wisatawan menyusuri denyut Kota Yogyakarta, tersimpan sebuah amanah yang sering luput dari perhatian. Di balik roda andong yang berputar perlahan, ada makhluk hidup yang setia mengabdi, menghidupkan denyut ekonomi keluarga, sekaligus menjaga warisan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Merawat seekor kuda, sesungguhnya bukan sekadar menjaga kesehatan hewan. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar memelihara nilai kemanusiaan, merawat tradisi, dan menunaikan tanggung jawab moral kepada setiap makhluk ciptaan Allah SWT yang telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban.
Kesadaran itulah yang menjadi semangat Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta melalui Bidang Perikanan dan Kehewanan saat menggelar rapat koordinasi bersama Koperasi Jasa Andong Yogyakarta, Rabu (5/8). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat sinergi dalam menjaga kesehatan kuda andong sebagai salah satu ikon wisata budaya Kota Yogyakarta.
Rapat dipimpin oleh Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan, drh. Sri Panggarti, serta dihadiri jajaran Dinas Pertanian dan Pangan bersama pengurus Koperasi Jasa Andong Yogyakarta. Suasana berlangsung hangat, penuh semangat kebersamaan, menandai komitmen bersama untuk menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi para pelaku wisata tradisional.
Dalam arahannya, drh. Sri Panggarti menegaskan bahwa keberadaan kuda andong bukan sekadar alat transportasi wisata. Lebih dari itu, ia merupakan simbol budaya yang telah melekat dalam identitas Kota Yogyakarta.
Karena itu, kesehatan kuda harus dijaga melalui pelayanan kesehatan hewan yang terencana, berkelanjutan, dan terpadu. Pemerintah Kota Yogyakarta, kata dia, berkomitmen menghadirkan layanan kesehatan hewan secara rutin, memberikan edukasi kepada para kusir dan pengelola andong mengenai kesehatan serta kesejahteraan kuda, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman.
Koordinasi tersebut juga membahas penguatan sinergi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama dalam menjaga kebersihan andong, kebersihan lingkungan, serta penataan ruas jalan yang dilalui andong agar tetap aman, nyaman, dan mendukung wajah pariwisata Kota Yogyakarta yang berkelas.
Tak hanya itu, berbagai program strategis pemberdayaan pelaku wisata andong turut menjadi perhatian. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan hewan menjadi salah satu prioritas, agar pelayanan terhadap kuda-kuda andong semakin profesional dan berstandar tinggi.
Salah satu gagasan yang mendapat sambutan hangat ialah rencana penyelenggaraan Kontes Kesehatan Andong. Namun, kegiatan ini tidak dimaknai sebagai ajang perlombaan semata. Lebih dari itu, ia diharapkan menjadi ruang edukasi, apresiasi, sekaligus motivasi bagi para kusir dan pemilik andong untuk terus menjaga kesehatan kuda, kebersihan andong, serta menerapkan standar pemeliharaan yang baik.
Pengurus Koperasi Jasa Andong Yogyakarta pun menyatakan kesiapan untuk terus berjalan seiring dengan Pemerintah Kota Yogyakarta. Sinergi tersebut diyakini akan memperkuat kualitas pelayanan wisata, meningkatkan kesejahteraan para kusir, sekaligus menjaga kelestarian ikon budaya yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta.
Pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dikenang karena bangunan megah atau hiruk-pikuk destinasi wisatanya. Ia akan selalu hidup dalam ingatan ketika mampu memuliakan warisan budayanya dengan kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab.
Sebab dalam pandangan iman, setiap makhluk yang diperlakukan dengan penuh kasih akan menjadi saksi bahwa manusia masih menjaga amanah sebagai khalifah di bumi. Dan selama derap langkah kuda andong masih mengiringi senyum wisatawan di Kota Yogyakarta, selama itu pula denyut budaya akan tetap hidup, mengajarkan bahwa kemajuan tidak pernah boleh meninggalkan belas kasih kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.












