Penulis: Abd. Azis
Editor: Alimuddin
WATAMPONE — Rabu pagi, 17 Juni 2026, di Annur Grand Hotel Watampone, kebahagiaan itu akhirnya tiba setelah menempuh perjalanan panjang yang dipenuhi doa, harapan, dan kesabaran. Di tengah suasana yang khidmat, Muh. Yusuf Ramadhani duduk tenang di hadapan penghulu untuk mengucapkan janji suci pernikahan dengan Annisa. Namun di balik momen yang menyatukan dua insan itu, tersimpan kisah yang lebih dalam: kisah seorang ibu yang selama bertahun-tahun menggenggam, membimbing, dan membesarkan anaknya hingga tiba di gerbang kehidupan baru.
Bagi banyak orang, pernikahan adalah puncak dari perjalanan cinta dua insan. Akan tetapi bagi seorang ibu, pernikahan anak adalah salah satu tanda bahwa amanah yang selama ini dijaga dengan penuh kasih sayang mulai memasuki babak baru kehidupan.
Hari itu, perhatian banyak tamu tidak hanya tertuju kepada kedua mempelai yang duduk bersanding di pelaminan. Ada sosok Asmiati yang tampak mendampingi putranya dengan wajah teduh dan senyum yang tak henti mengembang. Senyum yang sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang tidak pernah mengenal batas.
Di balik senyum yang menghiasi wajah Asmiati di pelaminan, tersimpan jejak perjalanan hidup yang tidak semua orang sempat menyaksikannya. Bertahun-tahun lamanya ia mengabdikan hidupnya untuk membesarkan kelima anaknya. Dalam setiap fase kehidupan yang mereka lalui, ia hadir sebagai ibu yang menjaga, mendidik, menguatkan, sekaligus menjadi tempat kembali ketika kehidupan menghadirkan berbagai ujian.
Ada masa ketika hari-hari harus dijalani dengan penuh ketabahan. Ada malam-malam panjang yang diisi dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi. Sebab setiap ibu memahami bahwa membesarkan anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi juga menanamkan nilai, akhlak, dan keyakinan agar kelak mampu berdiri tegak menghadapi kehidupan.
Doa-doa itulah yang seakan mengiringi setiap langkah Yusuf hingga hari bahagia itu tiba.
Sebelum sampai pada akad nikah, Yusuf terlebih dahulu menjalani berbagai rangkaian prosesi yang sarat makna. Ia melewati mappacci, tradisi Bugis yang menjadi simbol penyucian diri dan permohonan restu keluarga. Pada prosesi itu, telapak tangannya disentuh pacci, sementara doa-doa kebaikan mengalir dari keluarga dan para tetua yang hadir.
Beberapa hari kemudian, ia kembali menjalani prosesi siraman. Tetes demi tetes air kembang yang disiramkan ke tubuhnya bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan simbol penyucian lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam setiap rangkaian itu, kehadiran sang ibu menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Seolah Allah sedang memperlihatkan bahwa perjalanan seorang anak menuju pelaminan tidak pernah berdiri sendiri. Di belakangnya selalu ada doa orang tua yang menjadi penopang langkahnya.
Ketika waktu akad nikah tiba, suasana di Annur Grand Hotel Watampone berubah menjadi lebih hening dan khusyuk. Keluarga besar kedua mempelai, kerabat, dan para tamu undangan memusatkan perhatian ke tempat berlangsungnya akad.
Mewakili orang tua mempelai laki-laki, Pamanda Yusuf, Anwar Taat, mengambil peran dalam prosesi tersebut. Sementara Alimuddin, S.I.P., yang juga merupakan pamanda dari pihak ibu, bertindak sebagai saksi.
Di hadapan penghulu dari Kantor Urusan Agama Tanete Riattang, Yusuf tampak tegar. Meski demikian, siapa pun dapat memahami bahwa di balik ketenangannya tersimpan getaran yang lazim dirasakan oleh setiap laki-laki yang akan mengucapkan janji paling penting dalam hidupnya.
Ijab diucapkan.
Kabul pun terlantun dengan suara tegas dan lancar.
Sesaat setelah itu, para saksi menyatakan satu kata yang selalu dinantikan dalam setiap akad nikah umat Islam.
“Sah.”
Kata itu hanya terdiri dari tiga huruf, tetapi maknanya begitu besar. Ia menjadi penanda lahirnya sebuah ikatan yang halal di hadapan Allah SWT. Ia menjadi awal dari tanggung jawab baru yang akan dipikul oleh seorang laki-laki sebagai suami dan seorang perempuan sebagai istri.
Bagi Yusuf, saat itu adalah awal dari perjalanan baru bersama Annisa.
Namun bagi Asmiati, momen itu menghadirkan makna yang jauh lebih dalam.
Anak yang dahulu digandeng tangannya ketika belajar berjalan kini duduk sebagai seorang laki-laki dewasa. Anak yang dahulu dipeluknya ketika menangis kini bersiap menjadi tempat bersandar bagi perempuan yang dicintainya. Anak yang dahulu selalu menjadi bagian dari doanya kini sedang menerima amanah besar untuk memimpin sebuah keluarga.
Tidak ada yang lebih membahagiakan hati seorang ibu selain menyaksikan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan menempuh jalan kehidupan dalam ridha Allah SWT.
Barangkali itulah yang terpancar dari wajah Asmiati saat duduk mendampingi putranya di pelaminan. Wajah yang tenang. Wajah yang bersyukur. Wajah yang menyimpan ribuan cerita yang tidak semuanya perlu diucapkan.
Usai akad nikah, suasana kembali hangat. Para tamu secara bergiliran maju untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Keluarga besar dari kedua belah pihak berfoto bersama, mengabadikan momen yang kelak akan menjadi kenangan berharga sepanjang hidup.
Tawa, senyum, dan ucapan doa memenuhi ruangan.
Namun di antara semua itu, ada harapan yang sama yang dipanjatkan oleh setiap orang yang hadir: semoga Yusuf dan Annisa mampu membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Rumah tangga yang tidak hanya dipenuhi cinta, tetapi juga kesabaran, saling pengertian, dan keteguhan iman dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Sebab pernikahan bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan.
Pernikahan adalah awal dari perjalanan yang sesungguhnya.
Dan pada hari itu, ketika Yusuf resmi menjadi suami Annisa, bukan hanya dua hati yang dipersatukan dalam ikatan suci. Hari itu juga menjadi saksi bagaimana doa seorang ibu menemukan salah satu jawaban terindahnya.
Dari genggaman tangan yang dahulu menuntun langkah kecil seorang anak, hingga pelaminan tempat ia menyaksikan putranya mengucapkan janji suci pernikahan, Asmiati telah menunaikan bagian besar dari amanah kehidupannya.
Sementara Yusuf dan Annisa kini memulai lembaran baru, membawa serta restu keluarga, doa para kerabat, dan cinta seorang ibu yang akan terus mengiringi langkah mereka, ke mana pun kehidupan membawa keduanya melangkah.






