Teladan yang Berawal dari Hal-Hal Sederhana

TAJUK RENCANA11 Dilihat

Keterangan Gambar:

AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H., S.I.K., M.H., M.Krim memimpin apel perdana sebagai Kepala Bagian Pembinaan Karier (Kabagbinkar) Biro SDM Polda Sulawesi Selatan, Kamis (6/8/2026). Dalam arahannya, ia mengajak seluruh personel membangun budaya kerja yang bersih, disiplin, profesional, dan berorientasi pada pelayanan prima sebagai wujud pengabdian kepada institusi dan masyarakat.
Foto: Humas Polda Sulsel. (Foto: Dok. Humas Polda Sulsel)

TAJUK RENCANA PALAPA
Sikap Redaksi untuk Kepentingan Publik

Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Ada kebijakan yang lahir melalui lembaran surat keputusan. Ada pula kepemimpinan yang tumbuh melalui keteladanan. Sejarah hampir selalu membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Ia sering bersemi dari kesadaran untuk menata hal-hal yang tampak sederhana, tetapi memiliki makna mendasar bagi kehidupan sebuah organisasi.

Pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan kerja yang disampaikan Kepala Bagian Pembinaan Karier Biro SDM Polda Sulawesi Selatan, AKBP Dr. Fantry Taherong, pada apel perdananya, Kamis (6/8/2026), patut dibaca lebih dalam daripada sekadar ajakan membersihkan ruangan. Di balik pesan itu tersimpan sebuah filosofi kepemimpinan: bahwa budaya kerja yang baik selalu diawali oleh penghormatan terhadap lingkungan tempat pengabdian dijalankan.

Redaksi memandang bahwa kebersihan bukan hanya persoalan estetika. Kebersihan adalah bahasa yang tidak diucapkan, tetapi dapat dibaca oleh setiap orang yang datang mencari pelayanan. Ruang yang tertata mencerminkan pikiran yang tertata. Lingkungan yang terawat mencerminkan disiplin yang hidup. Dari sanalah kepercayaan publik perlahan tumbuh.

Dalam perspektif pelayanan publik, masyarakat sesungguhnya tidak hanya menilai cepat atau lambatnya pelayanan. Mereka juga menilai wajah institusi melalui hal-hal yang sering dianggap kecil: keramahan petugas, kerapian ruang pelayanan, ketepatan waktu, serta kepedulian terhadap kenyamanan bersama. Hal-hal sederhana itulah yang justru membangun kesan pertama dan meninggalkan kesan terakhir.

Karena itu, keteladanan seorang pemimpin menjadi lebih bermakna ketika ia memulai perubahan dari dirinya sendiri. Perintah dapat menghadirkan kepatuhan, tetapi teladan melahirkan kesadaran. Dan kesadaran adalah fondasi yang jauh lebih kokoh bagi tumbuhnya budaya organisasi yang profesional.

Nilai seperti ini sesungguhnya tidak hanya relevan bagi institusi kepolisian. Ia berlaku bagi seluruh lembaga pelayanan publik, bahkan bagi setiap ruang kerja di negeri ini. Reformasi birokrasi tidak selalu harus dimulai dengan program yang rumit dan anggaran yang besar. Ia dapat dimulai dari meja yang tertata, halaman yang bersih, disiplin yang ditegakkan, dan hati yang ikhlas melayani.

Dalam ajaran agama, kebersihan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari kemuliaan akhlak. Ketika kebersihan dipadukan dengan kejujuran, disiplin, dan amanah, lahirlah pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga bermartabat. Di situlah pengabdian menemukan makna yang sesungguhnya: melayani manusia sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Palapa berpandangan bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang membangun budaya sebelum mengejar pencapaian. Sebab prestasi dapat mengangkat nama sebuah institusi, tetapi budaya yang baik akan menjaga kehormatannya untuk waktu yang panjang.

Maka, apabila setiap pemimpin menjadikan keteladanan sebagai bahasa pertama dalam memimpin, dan setiap aparatur menjadikan pengabdian sebagai kehormatan, harapan akan birokrasi yang bersih, profesional, dan dipercaya masyarakat bukanlah angan-angan. Ia akan tumbuh perlahan, seteguh akar yang menembus bumi, lalu menjulang menjadi pohon pengabdian yang menaungi siapa pun yang datang mencari keadilan dan pelayanan. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *