Lantunan Syukur Mappadendang: Simfoni Spiritual dan Harmoni Warga Datae

BUDAYA DAN SENI14 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG – Angin perbukitan Marioriawa berembus lembut membelai keteduhan rumah-rumah panggung di Kampung Datae, Desa Bulue, Jumat (4/9/2026). Di bawah naungan langit Soppeng yang teduh, sebuah simfoni kehidupan mengalun indah—bukan dari instrumen modern, melainkan dari dentam ritmis alu kayu yang menumbuk lesung.

Itulah Mappadendang, sebuah riak tradisi suci yang menyatukan bumi dan langit, menjalin daya upaya manusia dengan ketetapan Sang Maha Kuasa.

Bagi warga Dusun Datae, Mappadendang melampaui sekat pesta panen biasa. Ia adalah napas doa komunal yang dilantunkan lewat gerak dan irama. Selama dua hari penuh, aroma bulir-bulir gabah yang ditumbuk menyatu dengan rasa syukur yang membumbung tinggi kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas melimpahnya berkah rezeki di bumi Bulue.

Di atas tanah yang kokoh, belasan jemari warga saling bertaut memegang alu-alu panjang. Dalam ketukan yang cepat dan presisi, terlahir tarian tanpa koreografi. Keajaiban hadir di ruang lesung itu: meski belasan alu menukik tajam secara beruntun, tak satupun berbenturan. Sebuah keteraturan memukau yang menyiratkan ajaran sunnatullah, bahwa dalam keselarasan, kebersamaan, dan penanggalan ego, persatuan adalah sumber kekuatan sejati.

“Ritual ini adalah titian pusaka, tongkat tradisi yang senantiasa kami rawat sebagai wujud syukur teramat dalam kepada Tuhan Sang Pencipta. Ini adalah amanah turun-temurun dari para leluhur yang tak boleh putus,” ujar Kepala Desa Bulue, Abdul Majid, S.E., dengan mata berbinar di tengah riuhnya prosesi.

Kehangatan kebersamaan itu kian terpancar dengan hadirnya Bhabinkamtibmas Polsek Marioriawa, Aiptu Ibrahim. Menyampaikan pesan Kapolsek Marioriawa AKP Musmuliadi, ia mengajak warga untuk senantiasa menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan, sembari memelihara nilai-nilai kegotongroyongan yang selama ini menjadi perekat jiwa masyarakat Datae. Di tengah bayang-bayang musim kemarau, warga juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap krisis air dan ancaman bahaya kebakaran, agar kedamaian desa tetap terjaga.

Mappadendang hari itu menjelma menjadi ruang silaturahmi yang sejuk. Gelak tawa dan gurau hangat berpadu dengan suguhan penganan khas Bugis yang disajikan penuh keramahan, melipat jarak dan mempererat ikatan persaudaraan antarwarga desa.

Saat mentari perlahan tergelincir di ufuk barat, dentam lesung tak lantas usai begitu saja. Ia meninggalkan jejak zikir komunal yang khusyuk di hati setiap insan yang hadir. Di tengah bayang-bayang kemarau yang mulai menyapa, Mappadendang menjadi prasasti doa yang dilantunkan lewat gerak—sebuah penyerahan diri agar berkah dan rahmat-Nya senantiasa memeluk tanah Datae, hari ini dan selamanya.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *