Menelusuri Jejak Peradaban Desa Pengabuan: Naskah Kuno di Media Tanduk dan Bambu Ungkap Warisan Leluhur

BUDAYA DAN SENI12 Dilihat

Keterangan Gambar:

Tim Goresan Aksara melakukan kajian langsung terhadap naskah kuno Surat Ulu berbahan tanduk kerbau dan bambu di Desa Pengabuan Timur, Kabupaten PALI, yang diyakini menyimpan jejak peradaban dan sistem sosial masyarakat masa lampau.

Oleh: Ibnu Sultan

Di atas meja kayu sederhana itu, lembaran-lembaran tua terbuka perlahan, rapuh namun sarat makna. Guratan aksara kuno terukir di atas tanduk dan bambu, seolah menjadi suara masa lalu yang kembali diperdengarkan. Di Desa Pengabuan Timur, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan jejak peradaban lama itu kini tengah ditelusuri kembali dengan penuh kehati-hatian.

Pada 25 April 2026, Tim Goresan Aksara yang tergabung dalam Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan turun langsung ke lapangan. Mereka bukan sekadar meneliti benda, melainkan membuka lapisan-lapisan sejarah yang tersimpan dalam naskah kuno Surat Ulu, aksara Kaganga yang pernah hidup dan berkembang di tengah masyarakat setempat.

Tiga naskah autentik menjadi fokus kajian. Dua di antaranya ditulis di atas tanduk kerbau, sementara satu lainnya menggunakan media bambu. Pilihan media ini bukan sekadar teknis, tetapi mencerminkan cara hidup, nilai, dan interaksi sosial masyarakat masa lampau.

Dari pembacaan awal, para peneliti menemukan perbedaan yang mencolok. Naskah pada tanduk kerbau diduga kuat menggunakan dialek asli masyarakat Pengabuan. Ia seperti cermin yang memantulkan bahasa tutur lokal yang telah mapan dan terlembagakan dalam bentuk tulisan sejak ratusan tahun silam.

Sebaliknya, naskah pada bambu menghadirkan nuansa berbeda. Gaya bahasa yang digunakan terasa asing dibandingkan dua naskah lainnya. Hal ini membuka kemungkinan adanya pengaruh dari luar wilayah, sebuah petunjuk tentang hubungan historis, baik melalui jalur perdagangan maupun diplomasi, yang pernah terjalin antara masyarakat Pengabuan dengan daerah lain.

Tak hanya dari sisi bahasa, fungsi sosial naskah-naskah ini juga memperlihatkan tingkat peradaban yang terstruktur. Salah satu naskah tanduk kerbau diyakini berisi penetapan tapal batas wilayah, sebuah bukti bahwa masyarakat adat telah mengenal sistem pengaturan ruang hidup yang tertib dan disepakati bersama.

Sementara itu, naskah tanduk lainnya mengarah pada bentuk hukum adat yang mengatur tata cara pembukaan lahan. Dari sini tergambar bahwa leluhur Desa Pengabuan telah memiliki sistem agraria yang terorganisir, jauh sebelum konsep modern diperkenalkan.

Adapun naskah bambu menghadirkan sisi yang lebih reflektif. Isinya sarat pesan moral dan spiritual, mengajak untuk menuntut ilmu serta berbuat kebajikan. Ia bukan sekadar teks, melainkan warisan nilai yang melintasi waktu.

Penelitian ini turut mendapat dukungan penuh dari pemilik pusaka, Alam Sadat dan Ibu Komria, yang selama ini merawat naskah-naskah tersebut. Namun, proses pengungkapan makna tidaklah sederhana. Tim peneliti menegaskan bahwa hasil terjemahan final masih memerlukan waktu, mengingat kompleksitas aksara serta kebutuhan sinkronisasi kosakata.

Lebih dari sekadar penelitian, upaya ini menjadi langkah penting dalam merangkai kembali sejarah peradaban Desa Pengabuan. Potongan-potongan kisah yang tersebar di atas tanduk dan bambu itu perlahan disusun, membuka kemungkinan keterkaitannya dengan era Kesultanan Palembang.

Di tengah arus modernitas, naskah-naskah ini mengingatkan bahwa masa lalu bukanlah sesuatu yang hilang. Ia hanya menunggu untuk dibaca kembali, dengan kesabaran, ketelitian, dan penghormatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *