Merawat Syukur, Menjemput Berkah: Senandung Ritual Mappadendang di Tanah Laringg

BUDAYA DAN SENI36 Dilihat

Keterangan Gambar:

SEMAYAMKAN HARMONI TRADISI DI TENGAH PANGAN: Sejumlah warga dan tokoh masyarakat di Dusun Welonge, Desa Laringgi, Soppeng, berhimpun dalam lingkaran kebersamaan untuk melaksanakan prosesi Mappadendang. Tampak kekompakan tangan-tangan warga yang memegang alu, menumbuk gabah di atas lesung, menciptakan harmoni ritual syukur atas hasil panen. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi yang bermartabat dan upaya pelestarian warisan budaya yang religius. [Foto: Suara Palapa]

Oleh: Idris

SOPPENG, SUARA PALAPA — Angin kemarau yang mulai terasa di perbukitan Marioriawa membawa desau yang khas. Namun, di bawah keteduhan rumah panggung khas Bugis di Dusun Welonge, Desa Laringgi, sebuah harmoni terdengar melampaui suara alam. Itu adalah suara ‘dendang’, irama ritmis dari lesung dan alu yang beradu, pertanda sebuah tradisi suci sedang berlangsung.

Mappadendang, bagi masyarakat Desa Laringgi, bukanlah sekadar pesta panen biasa. Ini adalah sebuah ritual sakral yang menyatukan bumi dengan langit, usaha manusia dengan ketetapan Ilahi. Selama satu hingga dua hari penuh, desa ini diselimuti suasana syukur yang mendalam, merayakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala atas panen yang melimpah.

“Ritual ini adalah titian pusaka, tongkat tradisi yang senantiasa kami rawat sebagai wujud syukur teramat dalam kepada Tuhan Sang Pencipta. Ini adalah amanah turun-temurun dari para leluhur yang tak boleh putus,” ujar Kepala Desa Laringgi, Eka Wahyuni, S.E., saat ditemui, Senin (27/07/2026).

Sekcam Marioriawa Ingatkan Waspada Kebakaran dan Krisis Air saat ini memasuki musim kemarau.

Di tengah lesung panjang, belasan warga tampak berhimpun dalam lingkaran kebersamaan. Tangan-tangan mereka memegang alu kayu yang panjang, menumbuk bulir-bulir gabah dengan penuh penjiwaan. Ada tarian tanpa koreografi dalam setiap gerakan. Alu terangkat serempak, lalu menukik tajam, menciptakan ketukan yang jernih namun berwibawa.

Keajaiban terjadi di ruang lesung itu. Meskipun belasan alu bekerja secara bersamaan dengan tempo yang cepat, tak satupun dari alu itu yang saling bertabrakan. Ia adalah simfoni kekompakan, cermin dari keseimbangan dan keteraturan alam semesta (sunnatullah).

Dalam kebersamaan itu, setiap warga menanggalkan ego, menyatu dalam ketukan yang sama, menanamkan ajaran bahwa persatuan adalah sumber kekuatan.
Antusiasme menyelimuti senyum setiap wajah yang hadir.

Mappadendang, yang diinisiasi oleh Kelompok Tani Lampu Lajeng Dusun Welonge ini, seakan memanggil pulang ikatan kekeluargaan. Bukan hanya warga Desa Laringgi, namun masyarakat dari desa-desa tetangga, bahkan kerabat Bugis yang merantau, turut hadir untuk menyaksikan prosesi adat ini dan menikmati suguhan penganan khas Bugis yang disajikan dengan penuh keramahan. Ini adalah ruang silaturahmi yang sejuk, mempertemukan kembali yang jauh, mengeratkan yang dekat.

Saat mentari mulai tergelincir di ufuk barat, Mappadendang tidak sekadar berakhir menjadi hiburan rakyat. Ia meninggalkan jejak doa di setiap hentakannya. Sebagaimana ajaran agama yang mengajarkan untuk mengingat-Nya dalam setiap nikmat, Mappadendang adalah pengingat visual yang luhur. Di tengah bayang-bayang kemarau yang mulai datang, tradisi ini adalah zikir komunal yang khusyuk, sebuah permohonan yang dilantunkan melalui gerak, agar keberkahan senantiasa membersamai Tanah Laringgi, hari ini dan selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *