Ketika Kemarau Mengetuk, Soppeng Menengadah Memohon Hujan

SYI'AR ISLAM29 Dilihat

Keterangan Gambar:
Kapolsek Lilirilau AKP Aidil bersama masyarakat, tokoh agama, serta para santri mengikuti Shalat Istisqa di Lapangan Pondok Pesantren Darussolihin Berru, Kelurahan Ujung, Kecamatan Lilirilau, Soppeng, Jumat (7/8/2026). Doa dan ikhtiar itu menjadi ikhtiar spiritual masyarakat memohon rahmat Allah SWT di tengah musim kemarau. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Oleh: Syamsuddin Andy

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada saat ketika manusia menyadari bahwa sehebat apa pun ikhtiar, pada akhirnya ia tetap makhluk yang menengadah kepada Sang Pencipta.

Ketika kemarau memanjangkan hari-harinya dan tanah mulai menanti sentuhan air dari langit, masyarakat Soppeng memilih untuk tidak hanya menunggu. Mereka berkumpul, merendahkan diri, melafalkan zikir, lalu bersama-sama menunaikan Shalat Istisqa—sebuah doa yang dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa kehidupan dan keberkahan.

Jumat, 7 Agustus 2026, halaman dan lapangan di dua wilayah Kabupaten Soppeng menjadi saksi sebuah ikhtiar yang sederhana, tetapi sarat makna.

Di Kecamatan Donri-Donri, Shalat Istisqa dipusatkan di Lapangan Sepak Bola Latemmamala, Desa Tottong. Sekitar 350 jamaah hadir dalam suasana khidmat. Rangkaian kegiatan diawali dengan zikir dan penyampaian tata cara pelaksanaan shalat, kemudian dilanjutkan dengan Shalat Istisqa yang dipimpin Ustaz H. Muh. Wardi Maqqi, S.Ag.

Setelah shalat, jamaah mengikuti khutbah dan doa bersama. Tidak ada jarak antara pejabat dan rakyat, antara orang tua dan anak-anak, antara mereka yang memiliki banyak dan mereka yang mungkin sedang kekurangan.

Semua berdiri sebagai hamba.

Semua menengadah pada langit yang sama.

Sementara di Kecamatan Lilirilau, suasana serupa berlangsung di Lapangan Pondok Pesantren Darussolihin Berru, Kelurahan Ujung. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) bersama Pemerintah Kecamatan Lilirilau itu diikuti unsur pemerintah kecamatan, Kapolsek Lilirilau AKP Aidil, Kepala KUA beserta staf, para kepala sekolah, serta santri dan santriwati.

Di tempat itu, doa tidak sekadar menjadi rangkaian acara keagamaan. Ia menjadi bahasa batin manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar kuasanya.

Kemarau mengajarkan manusia tentang batas.

Dan doa mengajarkan bahwa di balik batas kemampuan manusia, ada kekuasaan Allah SWT yang tidak berbatas.

Polri Hadir di Tengah Umat

Di antara jamaah yang larut dalam suasana ibadah, kehadiran aparat kepolisian menjadi bagian dari wajah pelayanan negara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Jajaran Polres Soppeng hadir memberikan pengamanan di kedua lokasi pelaksanaan Shalat Istisqa. Kehadiran itu memastikan rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib, sekaligus menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak berhenti pada menjaga keamanan di jalan dan ruang publik.

Ada ruang lain yang juga perlu dijaga: ruang kebersamaan manusia.

Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan Polri tidak hanya hadir untuk memberikan rasa aman, tetapi juga mendukung kegiatan keagamaan yang memperkuat persatuan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Shalat Istisqa mengajarkan kita tentang kerendahan hati, kebersamaan, dan pentingnya ikhtiar serta doa kepada Allah SWT. Polri hadir untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib, sekaligus menjadi bagian dari masyarakat dalam menjaga keharmonisan dan persatuan,” ujar Kapolres.

Ia berharap doa yang dipanjatkan bersama tersebut mendapat ijabah dari Allah SWT, sehingga hujan segera turun membawa rahmat dan keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Soppeng.

Ketika Manusia Menengadah

Barangkali, yang paling indah dari Shalat Istisqa bukan hanya tentang hujan yang dinanti.

Lebih dari itu, ia mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak seluruhnya dapat ditentukan oleh kekuatan, jabatan, teknologi, ataupun kemampuan akal.

Ada saat ketika manusia harus berhenti sejenak dari kesibukan dunia.

Melepas segala kesombongan.

Merapatkan barisan.

Lalu menundukkan kepala.

Sebab hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah kehidupan bagi sawah, kebun, ternak, pepohonan, dan segala makhluk yang menggantungkan hidup pada keseimbangan alam.

Karena itu, doa memohon hujan sesungguhnya juga merupakan doa agar manusia kembali menyadari tanggung jawabnya menjaga bumi.

Di tengah kemarau, manusia belajar tentang kesabaran.

Di tengah kekeringan, manusia belajar tentang kepedulian.

Dan di tengah keterbatasan, manusia belajar kembali tentang arti tawakal.

Doa yang Menunggu Jawaban Langit

Seluruh rangkaian Shalat Istisqa di Donri-Donri dan Lilirilau berlangsung aman, tertib, dan lancar. Sinergi pemerintah, tokoh agama, masyarakat, dan aparat keamanan menjadi bagian penting dari terselenggaranya kegiatan tersebut.

Namun setelah sajadah dilipat dan jamaah kembali ke rumah masing-masing, ada satu hal yang masih tersisa: doa yang menggantung di antara bumi dan langit.

Mungkin hujan akan segera turun.

Mungkin manusia masih harus menunggu.

Tetapi hari itu, masyarakat Soppeng telah melakukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menanti.

Mereka telah berikhtiar.

Mereka telah berdoa.

Dan mereka telah mengingat kembali bahwa ketika langit terasa begitu jauh, hati seorang hamba selalu memiliki jalan untuk mendekat kepada Allah SWT.

Sebab dalam setiap tetes hujan yang kelak jatuh ke bumi, ada rahmat yang tidak ternilai.

Dan dalam setiap doa yang tulus, selalu ada harapan yang tidak pernah benar-benar kering.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *