Ketika Maulid Menjadi Jalan Pulang kepada Keteladanan Rasulullah

SYI'AR ISLAM6 Dilihat

Keterangan Gambar:

Jamaah Masjid Nurul Ikhwan, Talang Kacang, Kelurahan Kedondong Raye, mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Jumat (28/8) malam. (Foto: Dokumentasi)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA

Refleksi Nurani di Atas Fakta

SUARA PALAPA, BANYUASIN — Malam itu, Masjid Nurul Ikhwan di Talang Kacang, Kelurahan Kedondong Raye, bukan sekadar dipenuhi jamaah. Ia menjadi ruang tempat manusia kembali mengingat seorang teladan, Nabi Muhammad SAW, dan menimbang kembali sejauh mana akhlak beliau telah menemukan tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat (28/8) malam, sekitar pukul 19.30 WIB selepas Isya, jamaah berdatangan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Di dalam masjid, lantunan ayat suci Al-Qur’an membuka rangkaian acara. Suasana khusyuk perlahan mengikat hati, sebelum Ketua Pengurus Masjid Nurul Ikhwan, H. Firmansyah Shihab, S.Ag., MM., menyampaikan sambutan.

Tetapi Maulid malam itu tidak berhenti pada seremonial.

Ada pesan pemerintah yang turut disampaikan kepada jamaah: ajakan untuk menghadiri Sholat Istisqa berjamaah pada Senin, 31 Agustus 2026, di Lapangan Upacara Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Sholat tersebut akan dipimpin Ustadz Taharudin Sakyan, S.Pd.I., dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi di tingkat Kabupaten Banyuasin.

Di situlah sebuah peristiwa keagamaan menemukan maknanya yang lebih dalam.

Ketika hujan belum juga turun, manusia diingatkan bahwa tidak semua perkara dapat diselesaikan dengan kekuatan tangan dan perhitungan akal. Ada saat ketika manusia harus menengadah. Memohon. Mengakui keterbatasannya di hadapan kebesaran Allah SWT.

Doa bukan tanda kelemahan.

Doa adalah pengakuan bahwa manusia, betapapun kuat ikhtiarnya, tetap memiliki batas.

Suasana semakin menggetarkan ketika penceramah utama, Ustadz Ciknang, S.Ag., M.Si., mengajak jamaah melantunkan Shalawat As-Syifa dan memanjatkan doa bersama, memohon rahmat Allah berupa turunnya hujan.

Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan jamaah kepada firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 tentang Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah—teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat-Nya.

Pesan itu sesungguhnya sederhana, tetapi kedalamannya tidak sederhana.

Memperingati kelahiran Rasulullah bukan hanya tentang mengingat tanggal dan sejarah. Bukan pula semata tentang meramaikan masjid dengan lantunan shalawat. Lebih jauh dari itu, Maulid semestinya menjadi ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah sifat amanah, kasih sayang, kesabaran, kejujuran, dan kepedulian Rasulullah menemukan cermin dalam diri kita?

Sebab mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan suara yang lantang menyebut namanya.

Cinta membutuhkan pembuktian dalam perilaku.

Ia hidup dalam cara seseorang memperlakukan tetangganya, dalam kesediaan berbagi kepada sesama, dalam kejujuran ketika tidak seorang pun melihat, dan dalam kesanggupan menahan diri ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti orang lain.

Mungkin karena itulah suasana Maulid di Masjid Nurul Ikhwan terasa lebih dari sekadar sebuah peringatan.

Setelah tausiyah dan doa bersama, jamaah kemudian duduk dalam kebersamaan. Hidangan disantap bersama. Masakan Padang yang dibawa ibu-ibu jamaah menjadi bagian kecil dari sebuah pemandangan besar: warga yang memilih merawat persaudaraan melalui hal-hal sederhana.

Di meja makan, sekat-sekat sosial menjadi lebih tipis.

Yang tersisa adalah kebersamaan.

Ketua IKM Banyuasin III pun mengapresiasi kekompakan warga. Ia mengajak seluruh dunsanak untuk terus meramaikan kegiatan Maulid Nabi di Masjid Nurul Ikhwan, sebagaimana warga sebelumnya bergotong royong menyemarakkan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pesannya sederhana: semakin kompak, semakin erat, semakin dekat.

Barangkali memang demikian hakikat sebuah masjid dalam kehidupan masyarakat. Ia bukan hanya tempat manusia bersujud secara vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga tempat manusia belajar berdiri berdampingan dengan sesamanya.

Maulid akhirnya bukan sekadar tentang sebuah malam.

Ia adalah perjalanan batin untuk kembali kepada keteladanan.

Dan ketika manusia berkumpul di rumah Allah, melantunkan shalawat, memanjatkan doa memohon hujan, lalu berbagi makanan dalam suasana persaudaraan, sesungguhnya ada satu pesan yang sedang dirawat bersama: bahwa kehidupan akan terasa lebih teduh ketika manusia kembali mengingat Tuhannya dan meneladani Rasul-Nya.

Hujan boleh jadi belum turun.

Tetapi malam itu, setidaknya, hati-hati yang hadir telah lebih dahulu belajar meneduhkan diri. (PMG/Ibnu/Aris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *