Asmiati dan Kemenangan Doa Seorang Ibu

SYI'AR ISLAM130 Dilihat

Ilustrasi

EDITORIAL SUARA PALAPA

Ada banyak peristiwa yang layak diberitakan. Ada akad nikah yang khidmat, siraman yang haru, mappacci yang sakral, hingga senyum bahagia di pelaminan yang menghiasi wajah dua insan yang dipersatukan dalam ikatan suci.

Namun, di balik seluruh rangkaian kisah tentang Muh. Yusuf Ramadhani dan Annizaa, sesungguhnya ada sosok lain yang patut mendapat tempat terhormat dalam ruang perenungan kita. Sosok itu adalah seorang ibu bernama Asmiati.

Ia bukan pejabat. Bukan tokoh besar yang namanya sering menghiasi panggung-panggung kehormatan. Ia hanyalah seorang ibu biasa. Tetapi justru dari tangan perempuan sederhana itulah lahir sebuah kisah luar biasa tentang kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan yang tak pernah padam kepada Allah SWT.

Puluhan tahun silam, kehidupan menghadapkan Asmiati pada ujian yang tidak ringan. Suaminya, Ambo Tang Mas, dipanggil Sang Khalik ketika anak sulung mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, langit seakan runtuh di atas pundaknya.

Lima orang anak menatap masa depan yang belum jelas. Mereka membutuhkan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, dan biaya hidup. Di saat yang sama, sosok ayah yang selama ini menjadi sandaran keluarga telah tiada.

Tidak sedikit perempuan yang mungkin akan menyerah pada keadaan. Tidak sedikit yang mungkin akan tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan. Tetapi Asmiati memilih jalan yang berbeda.

Ia menangis, tetapi tidak berhenti melangkah.

Ia bersedih, tetapi tidak membiarkan anak-anaknya kehilangan harapan.

Ia berduka, tetapi tetap berdiri tegak demi masa depan buah hatinya.

Sejak hari itu, ia tidak hanya menjadi ibu. Ia juga menjadi ayah.

Ia menjadi pelindung ketika anak-anaknya membutuhkan rasa aman. Ia menjadi penyemangat ketika mereka mulai lelah. Ia menjadi guru kehidupan yang mengajarkan arti kesabaran. Ia menjadi tempat pulang bagi segala keresahan yang tumbuh dalam perjalanan menuju kedewasaan.

Tidak ada tepuk tangan yang mengiringi perjuangannya. Tidak ada sorotan kamera yang mengikuti langkah-langkah sunyinya. Yang ada hanyalah doa-doa panjang yang dipanjatkan dalam kesendirian malam.

Barangkali hanya Allah yang benar-benar mengetahui berapa banyak air mata yang jatuh ketika anak-anaknya tertidur. Hanya Allah yang mengetahui berapa banyak harapan yang ia selipkan dalam setiap sujudnya.

Dan hari ini, sebagian dari doa-doa itu telah menjelma menjadi kenyataan.

Dua orang anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Strata Satu. Sebuah pencapaian yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi seorang ibu yang berjuang sendirian membesarkan lima anak, itu adalah kemenangan yang sangat besar.

Seorang putranya kini tengah menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta pada bidang Ilmu Komunikasi. Sementara seorang putrinya sedang melanjutkan studi di Jakarta pada bidang kesehatan.

Dan kini, satu lagi kebahagiaan datang menghampiri.

Muh. Yusuf Ramadhani, salah satu putra yang dibesarkannya dengan penuh cinta dan perjuangan, telah memasuki gerbang kehidupan baru sebagai seorang suami. Dari prosesi siraman, mappacci, hingga akad nikah yang berlangsung khidmat, terselip kisah panjang tentang perjalanan seorang ibu yang tak pernah berhenti berdoa.

Air mata yang terlihat di berbagai prosesi pernikahan itu bukan semata-mata karena haru melihat anak menikah. Di dalamnya tersimpan kenangan panjang tentang masa-masa sulit yang pernah dilalui bersama.

Tentang hari-hari ketika masa depan terasa begitu jauh.

Tentang malam-malam ketika harapan hanya bergantung pada pertolongan Allah.

Tentang perjuangan seorang perempuan yang harus menjalankan dua peran sekaligus demi menjaga anak-anaknya tetap berdiri di jalan kehidupan.

Dalam perspektif Islam, kemuliaan seorang ibu memang tidak pernah lahir dari kemewahan hidupnya. Kemuliaan itu lahir dari kesabaran dan pengorbanannya. Rasulullah SAW bahkan menempatkan ibu tiga kali lebih utama dalam penghormatan seorang anak sebelum kemudian menyebut ayah.

Mungkin karena Islam memahami bahwa di balik setiap anak yang tumbuh menjadi manusia baik, sering kali ada pengorbanan seorang ibu yang tidak terlihat oleh dunia.

Asmiati adalah salah satu wajah dari ribuan bahkan jutaan ibu Indonesia yang menjalani perjuangan serupa. Mereka tidak meminta penghargaan. Mereka tidak menuntut balas jasa. Mereka hanya ingin melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.

Dan ketika satu per satu doa itu terjawab, ketika anak-anak mulai menggapai pendidikan tinggi, membangun keluarga, dan menata masa depan, maka sesungguhnya yang sedang dipanen adalah hasil dari benih-benih kesabaran yang ditanam bertahun-tahun lamanya.

Pernikahan Yusuf dan Annizaa bukan hanya kisah tentang bertemunya dua insan dalam ikatan suci. Lebih dari itu, pernikahan tersebut menjadi penanda bahwa perjuangan panjang seorang ibu perlahan-lahan menemukan buahnya.

Tentu perjalanan belum selesai. Masih ada harapan-harapan yang tersimpan di hati seorang ibu untuk anak-anaknya. Namun setidaknya hari ini, Allah telah memperlihatkan kepadanya bahwa tidak ada doa yang sia-sia.

Karena pada akhirnya, sejarah besar sebuah keluarga sering kali tidak ditulis oleh orang-orang yang berdiri di depan panggung. Sejarah itu justru ditulis oleh sosok yang diam-diam berjuang di belakang layar.

Dan dalam kisah keluarga ini, nama itu adalah Asmiati.

Seorang ibu.

Seorang ayah.

Sekaligus seorang pejuang kehidupan yang menemukan kemenangan melalui kesabaran dan doa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *