KARNAVAL KECIL, SEMANGAT BESAR ANAK-ANAK MARIIORIWAWO

PENDIDIKAN41 Dilihat

Keterangan Gambar:

Peserta PAUD Keluarga Besar Aisyiyah Beringin Lappa Bakke, Desa Marioritengnga, tampil dalam Karnaval PAUD di Lapangan Hikmah Takalala, Marioriwawo, Soppeng, Rabu (19/8/2026). Anak-anak tampil dalam balutan seragam profesi, antara lain polisi, TNI, dan pilot, dengan penuh semangat dan keceriaan. (Foto: Dok. Syukur Mariorante Katalawala)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SUARA PALAPA, SOPPENG — Pagi belum terlalu tinggi ketika lapangan itu berubah menjadi panggung kecil bagi mimpi-mimpi yang sedang tumbuh. Di antara riuh tepuk tangan, warna-warni pakaian dan langkah-langkah mungil yang belum selalu sempurna, anak-anak PAUD Marioriwawo membawa satu pesan sederhana: kemerdekaan juga berarti memberi ruang kepada anak-anak untuk bermimpi.

Rabu, 19 Agustus 2026, Lapangan Hikmah Takalala, Kecamatan Marioriwawo, Soppeng, dipenuhi keceriaan. Karnaval PAUD menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sekitar pukul 08.35 Wita, para peserta mulai dilepas oleh Bunda PAUD Kabupaten Soppeng, Hj. Suarni Suwardi, didampingi Bunda PAUD Kecamatan serta sejumlah Bunda PAUD desa dan kelurahan.

Dari lapangan, barisan anak-anak bergerak menyusuri jalan. Jaraknya kurang lebih satu kilometer. Mereka berjalan ke arah selatan menuju Kantor Kecamatan Marioriwawo dan Kantor Urusan Agama (KUA), kemudian berbalik ke arah utara menuju garis finis di lapangan tempat mereka memulai perjalanan.

Namun, yang tampak di jalan pagi itu bukan sekadar sebuah karnaval.

Ada dunia kecil yang sedang belajar mengenal dunia yang lebih besar.

Anak-anak hadir dalam beragam kostum. Ada yang mengenakan seragam polisi, TNI, pilot, hingga pakaian adat Bugis. Wajah-wajah mungil itu sesekali tampak serius, tetapi segera berubah menjadi senyum ketika menyadari banyak mata sedang memperhatikan mereka.

Di antara barisan tersebut, peserta dari Keluarga Besar Aisyiyah Beringin Lappa Bakke, Desa Marioritengnga, tampil mencuri perhatian.

Rombongan yang dipimpin Sunarti Kanda, A.Ma.Pd., bersama Ibu Sutra, tampil dengan nomor peserta 04. Sejumlah anak mengenakan pakaian profesi—polisi, TNI dan pilot—seolah hendak menyampaikan sebuah cita-cita yang sederhana tetapi luhur: kelak mereka ingin menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan sesama.

Salah seorang peserta, El Shanum, tampil sebagai bagian dari barisan tersebut.

Di tengah perjalanan, anak-anak itu bahkan memberi hormat kepada personel kepolisian yang sedang berjaga mengatur ketertiban jalannya karnaval. Gerakan kecil itu sontak mengundang tepuk tangan dan apresiasi dari sejumlah penonton.

Sebuah penghormatan yang mungkin sederhana bagi orang dewasa, tetapi memiliki makna yang dalam bagi anak-anak.

Sebab dari hal-hal kecil seperti itulah nilai tentang disiplin, penghormatan, keberanian dan pengabdian mulai dikenalkan.

Di belakang mereka, suara drum band ikut mengiringi langkah. Drum Band SDN 147 Kakempang, Desa Marioritengnga, serta Drum Band peserta karnaval KB Mambaul Ulum Marioriwawo turut menghidupkan suasana.

Dentang musik berpadu dengan sorak penonton. Jalanan sejenak menjadi ruang perjumpaan antara anak-anak, orang tua, guru, aparat dan masyarakat.

Semua larut dalam satu kegembiraan.

Kemerdekaan, pada akhirnya, bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu. Ia juga tentang bagaimana generasi hari ini menanamkan harapan kepada generasi yang akan datang.

Anak-anak itu mungkin belum memahami seluruh makna kemerdekaan. Mereka belum mengenal panjangnya sejarah, beratnya perjuangan para pendiri bangsa, atau bagaimana sebuah negeri dibangun dengan pengorbanan.

Tetapi mereka sedang belajar.

Belajar berjalan bersama. Belajar mengikuti barisan. Belajar menghormati. Belajar tampil dengan percaya diri. Dan yang paling penting, belajar bahwa menjadi bagian dari Indonesia berarti memiliki mimpi sekaligus tanggung jawab.

Di bawah langit Marioriwawo yang cerah, langkah-langkah kecil itu akhirnya kembali menuju garis finis.

Barangkali karnaval itu hanya berlangsung beberapa jam.

Tetapi bagi anak-anak, kenangan itu bisa tinggal jauh lebih lama.

Sebab masa kanak-kanak adalah halaman pertama dari sebuah perjalanan panjang. Di sanalah cita-cita mulai ditulis, sering kali dengan bahasa yang sederhana dan polos.

Dan mungkin, di antara anak-anak yang hari itu berjalan membawa bendera kecil, mengenakan seragam polisi, TNI, pilot maupun pakaian adat Bugis, kelak akan tumbuh seseorang yang benar-benar mengabdi kepada negeri.

Mereka berjalan dengan kaki-kaki kecil hari ini.

Tetapi di dalam doa orang tua, guru dan masyarakat, tersimpan harapan yang jauh lebih besar: semoga langkah itu kelak menjadi jalan menuju manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, mencintai tanah air dan mengabdikan hidupnya bagi sesama.

Karena kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu bukan hanya untuk dirayakan.

Ia adalah amanah untuk diteruskan.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *