Menjemput Wajah yang Lama Hilang: Doa dan Rindu Menyatu Menanti Andi Yusnani di Reuni Smabo 83

PENDIDIKAN78 Dilihat

Penulis: Alimuddin
Alumni Smabo 83

Angin pegunungan di Bollangi, Malino, seakan telah lebih dulu membawa kabar, kabar tentang pertemuan yang tertunda puluhan tahun, tentang rindu yang diam-diam dipelihara dalam ingatan, dan tentang nama-nama lama yang kembali dipanggil dengan penuh harap.

Di sanalah, di sebuah villa sederhana yang akan menjadi saksi, para alumni SMAN 156 Watampone angkatan 1983, yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 1 Bone, bersiap merajut kembali tali silaturrahmi. Reuni yang dijadwalkan pada 9–10 Mei 2026 itu bukan sekadar agenda pertemuan, melainkan perjalanan batin untuk kembali ke masa lalu, ketika tawa masih ringan dan mimpi masih sederhana.

Di antara sekian banyak nama yang akan hadir, terselip satu nama yang menghadirkan getar tersendiri: Andi Yusnani.

Bagi sebagian teman seangkatannya, nama itu bukan sekadar kenangan, tetapi juga misteri yang lama mengendap. Sejak perpisahan di tahun 1983, sosoknya seolah menghilang ditelan waktu. Tak pernah tampak dalam reuni-reuni sebelumnya, tak terdengar kabarnya dalam riuh percakapan alumni, hingga akhirnya, sebuah kabar datang seperti cahaya kecil di ujung lorong panjang penantian.

Kabar itu datang dari seorang sahabat di Jakarta, H. Ansyaruddin, yang menyebut bahwa Andi Yusnani tengah bersiap untuk hadir. Sebuah kabar sederhana, namun mampu mengguncang rasa, menghidupkan kembali serpihan memori yang hampir pudar.

Upaya menghubunginya melalui WhatsApp sempat tak berbalas. Nada dering yang menggantung tanpa jawaban seakan menjadi simbol jarak yang belum sepenuhnya terjembatani. Namun waktu bekerja dengan caranya sendiri. Perlahan, namanya muncul dalam grup WhatsApp alumni, didaftarkan oleh seorang sahabat lain, Fahrurrazid. Sejak saat itu, komunikasi yang sempat terputus mulai menemukan jalannya.

Di ruang digital itu, antusiasme mengalir. Teman-teman lama menyambut kabar kehadirannya dengan hangat. Ada rasa bahagia yang sederhana, namun tulus, bahwa pertemuan nanti bukan lagi sekadar wacana, melainkan harapan yang hampir nyata.

Bagi penulis, yang pernah duduk sebangku dan berbagi cerita di kelas IPA 2, Andi Yusnani adalah potret remaja yang ceria, cerdas, mudah bergaul, dan menyimpan pesona dalam kesederhanaannya. Waktu boleh saja mengubah rupa, namun kenangan memiliki caranya sendiri untuk tetap utuh.

Kini, setelah hampir setengah abad berlalu, bayangan tentang dirinya kembali hidup. Seperti apakah wajahnya kini? Bagaimana kisah hidup yang telah ia jalani? Pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi sekadar rasa ingin tahu, tetapi menjadi bagian dari kerinduan yang ingin dituntaskan.

Reuni di Bollangi bukan hanya tentang bertemu. Ia adalah tentang memaafkan jarak, merangkul waktu, dan mensyukuri kesempatan. Dalam setiap langkah menuju pertemuan itu, terselip doa, semoga semua yang telah lama terpisah dapat dipertemukan kembali dalam keadaan terbaik.

Dan untuk Andi Yusnani, jika langkahmu benar-benar mengarah ke Bollangi, ketahuilah, di sana, ada banyak hati yang menunggumu. Bukan dengan tuntutan, tetapi dengan pelukan kenangan.

Sebab dalam hidup, ada pertemuan yang bukan sekadar kebetulan, melainkan jawaban dari doa-doa yang lama dipanjatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *