Dari Balikpapan ke Bollangi: Puisi, Rindu, dan Jejak Silaturahmi yang Tak Pernah Usai

PENDIDIKAN94 Dilihat

Pewarta: Alimuddin (Alumni Smabo 83)

Di tengah riuh dunia yang terus berlari, ada ruang sunyi tempat kenangan berdiam dengan setia, ruang itu bernama persahabatan. Dari sanalah sebuah puisi lahir, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang menjelma rindu. Itulah yang dilakukan Jamaluddin Jamal, alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, yang menulis puisinya dari Balikpapan untuk sebuah pertemuan hati bernama reuni Smabo 83 di Bollangi, Malino.

Nama Jamaluddin Jamal bukanlah sosok asing bagi rekan-rekannya, khususnya dari kelas IPA 2. Jejak hidupnya mengalir seperti sungai yang setia pada muara: dari masa remaja di Watampone, menapaki dunia kampus di Universitas Muslim Indonesia, hingga meraih gelar Insinyur di bidang Teknik Sipil, sebuah perjalanan yang lebih dahulu diawali dengan capaian Sarjana Muda Teknik, sebagaimana lazim pada masa itu.

Namun kisah Jamal tidak berhenti pada gelar akademik. Di balik kesibukannya sebagai mahasiswa, ia telah menanam benih kemandirian. Jiwa kewirausahaan yang telah tumbuh sejak bangku sekolah, menjelma nyata ketika ia bekerja di perusahaan negara di bidang teknik sipil, bahkan dipercaya menjalin kemitraan melalui usaha miliknya sendiri. Di kota yang kala itu masih dikenal sebagai Ujungpandang, ia merintis usaha warung kopi, sebuah langkah sederhana yang sarat makna: meringankan beban orang tua sekaligus membuka pintu rezeki bagi orang lain.

Kini, sebagai Direktur Utama di perusahaan tambang batu bara yang dipimpinnya, Jamal tetap menyimpan ruang hangat bagi kenangan masa lalu. Ketika panitia reuni mempercayakan pembacaan puisi sebagai bagian dari rangkaian acara, sebuah jembatan pun terbangun. Dari sebuah pesan yang dikirim, hingga balasan yang dinanti, puisi itu akhirnya tiba, mengalir melalui layar kecil, namun membawa getar yang besar.

Dalam pesannya, Jamal menyiratkan kerendahan hati: ia berharap dapat hadir, namun jika takdir berkata lain, ia merelakan puisinya dibacakan oleh siapa saja dari sahabat seperjuangan. Sebab baginya, yang terpenting bukanlah siapa yang membacakan, melainkan makna yang sampai, bahwa persaudaraan tak pernah benar-benar berjarak.

Puisi itu sendiri adalah cermin perjalanan: tentang waktu yang berlalu, tentang rambut yang memutih, tentang langkah yang mungkin tak lagi secepat dulu. Namun di atas segalanya, ia berbicara tentang ikatan yang tetap utuh, ikatan yang, dalam keyakinan terdalam, adalah anugerah dari Tuhan.

Reuni di Bollangi bukan sekadar temu kangen. Ia adalah ziarah rasa, perjumpaan jiwa yang pernah ditempa dalam ruang dan waktu yang sama. Di sana, jabatan ditanggalkan, sekat diluruhkan, dan manusia kembali pada hakikatnya: makhluk yang saling merindukan.

Dan di antara desir angin pegunungan Malino, puisi Jamaluddin Jamal akan menemukan suaranya, menjadi pengingat bahwa persahabatan, bila dirawat dengan cinta dan dilandasi iman, adalah cahaya yang tak akan padam hingga akhir zaman.

Berikut Puisinya:

SMABO 83, Reuni di Puncak Rindu: Jejak Alumni SMA 156 Watampone

Karya: Jamaluddin Jamal

Di sini, di bawah hamparan langit Bollangi yang tenang
Kita berdiri membawa sisa-sisa kenangan dari tanah Bone
Bukan lagi tentang seragam putih abu-abu yang kini telah disimpan
Tapi tentang ikatan hati yang tak pernah lekang oleh zaman.

Ingatkah kawan?
Empat puluh tiga tahun yang lalu, di gerbang SMA Negeri 156 Watampone
Kita pernah duduk bersama, merajut mimpi di Bumi Arung Palakka

Di antara lorong kelas dan tawa yang pecah di bawah sinar matahari
Kita adalah remaja yang percaya bahwa dunia ada dalam genggaman.

Waktu telah membawa kita melintasi banyak muara
Ada yang menjadi ombak, ada yang menjadi dermaga
Rambut mungkin telah memutih seiring musim yang berganti
Namun di mata kita, binar persaudaraan itu tak pernah mati.

Hari ini, di Villa Bollangi, kita letakkan sejenak segala lelah
Menanggalkan jabatan, melupakan sekat, dan melepas segala gundah
Karena di hadapan kenangan, kita hanyalah kawan seperjuangan
Alumni delapan puluh tiga yang dipersatukan oleh takdir dan kasih sayang.

Lihatlah wajah-wajah ini…
Masih ada tawa yang sama saat menceritakan kisah-kisah lama
Tentang masa sekolah di Watampone yang penuh warna
Suka, duka, hingga nakalnya masa muda, semua kembali nyata.

Smabo 83…
Adalah rumah yang pintunya selalu terbuka bagi kita
Tempat untuk pulang saat rindu mulai menyesaki dada
Tempat untuk saling menguatkan meski usia terus bertambah tua.
Biarlah angin pegunungan ini menjadi saksi
Bahwa kita yang pernah berjanji di tahun delapan puluh tiga
Tetap akan menjaga api silaturahmi ini agar terus menyala
Hingga akhir perjalanan, hingga waktu yang memisahkan kita.

Terima kasih, kawan…
Telah menjadi bagian dari sejarah hidup yang tak terlupakan
Di Bollangi ini, kita abadikan kembali sebuah pesan:
Bahwa persaudaraan SMA Negeri 156 Watampone adalah selamanya.

Smabo 83… Salama’ Ki’ To pada Salama!

Balikpapan, April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *