EDITORIAL PALAPA: Ketika AI Masuk Sekolah, Akal Sehat dan Etika Tak Boleh Tertinggal

EDITORIAL22 Dilihat

Keterangan gambar:


Personel Polres Wajo memberikan edukasi dan sosialisasi pemahaman Artificial Intelligence (AI) kepada siswa SMA Negeri 3 Wajo, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Rabu (26/8/2026). Edukasi menekankan pemanfaatan AI secara positif, kritis, aman, dan bertanggung jawab. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo/PMG/Sabri).

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, WAJO — Teknologi tidak pernah benar-benar datang hanya membawa kemudahan. Ia selalu membawa pertanyaan: untuk apa ia digunakan, oleh siapa, dan dengan nilai apa ia dijalankan?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mulai hadir semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Di tangan generasi muda, AI dapat menjadi jendela pengetahuan yang luas. Tetapi tanpa nalar dan etika, jendela yang sama dapat berubah menjadi pintu masuk bagi kesalahan informasi, ketergantungan, bahkan penyalahgunaan teknologi.

Di titik inilah langkah Polres Wajo patut dibaca lebih jauh daripada sekadar sebuah kegiatan sosialisasi.

Pada Rabu, 26 Agustus 2026, melalui Bagian Sumber Daya Manusia (SDM), Polres Wajo memberikan edukasi dan sosialisasi pemahaman AI kepada siswa SMA/SMK sederajat. Kegiatan berlangsung di SMA Negeri 3 Wajo, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, sebagai bagian dari implementasi Program Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026, khususnya Kegiatan 9 dengan indikator 9.1 dan 9.2.

Di hadapan para siswa, tim trainer memberikan pemahaman mengenai perkembangan dan pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial. Pesannya sederhana, tetapi sangat penting: AI bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga kemampuan memahami manfaat, risiko, batasan, dan tanggung jawab di balik penggunaannya.

Bagi Palapa, pesan tersebut layak mendapatkan perhatian.

Sebab sekolah bukan sekadar tempat anak-anak belajar menjawab pertanyaan. Sekolah adalah tempat manusia belajar membedakan yang benar dan yang keliru, yang bermanfaat dan yang merusak, yang pantas dan yang tidak pantas.

AI boleh membantu mencari jawaban. Tetapi ia tidak boleh menggantikan akal sehat.

AI dapat membantu menyusun tulisan, mengolah informasi, menerjemahkan bahasa, mencari gagasan, bahkan mendukung proses pembelajaran. Namun teknologi tetaplah alat. Ia tidak memiliki tanggung jawab moral sebagaimana manusia yang menggunakannya.

Karena itu, ketika AI masuk ke ruang-ruang pendidikan, yang harus tumbuh bukan hanya kecakapan digital, tetapi juga kedewasaan berpikir.

Kabag SDM Polres Wajo AKP Agussalim, S.H., M.H., mengingatkan bahwa perkembangan AI perlu diikuti dengan pemahaman yang baik, terutama bagi pelajar sebagai generasi yang akan berhadapan langsung dengan perkembangan teknologi tersebut.

Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendukung pembelajaran, meningkatkan kreativitas, serta membantu mencari dan mengolah informasi, sepanjang digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Pernyataan itu menemukan maknanya ketika disertai satu pesan penting: setiap informasi yang diperoleh melalui AI tetap harus diperiksa dan diverifikasi.

Inilah barangkali pelajaran paling berharga dari kegiatan tersebut.

Di tengah banjir informasi, kemampuan menerima informasi tidak lagi cukup. Manusia harus memiliki kemampuan mempertanyakan informasi.

Apa sumbernya?

Apakah benar?

Apakah dapat dipertanggungjawabkan?

Apakah bermanfaat?

Dan yang tidak kalah penting: apakah penggunaannya merugikan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu merupakan benteng yang tidak dapat dibangun oleh teknologi. Benteng itu hanya dapat tumbuh melalui pendidikan, keteladanan, kesadaran, dan karakter.

Karena itu pula, perhatian terhadap privasi dan keamanan digital tidak boleh dipandang sebagai urusan teknis semata. Data pribadi adalah bagian dari martabat manusia. Sekali tersebar tanpa kendali, tidak selalu mudah untuk dikembalikan.

Pelajar perlu memahami bahwa dunia digital memiliki jejak. Apa yang dilakukan hari ini dapat meninggalkan konsekuensi pada hari esok.

Maka, literasi AI sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana membuat teknologi bekerja untuk manusia. Lebih dalam daripada itu, literasi AI adalah tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia ketika teknologi semakin cerdas.

Polres Wajo patut diapresiasi karena membawa isu tersebut ke lingkungan sekolah. Edukasi semacam ini menunjukkan bahwa tugas menjaga generasi muda tidak hanya berkaitan dengan keamanan secara konvensional, tetapi juga dengan membangun kesadaran menghadapi perubahan zaman.

Namun Palapa berpandangan, edukasi AI tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sosialisasi satu hari.

Ia perlu menjadi gerakan literasi yang berkelanjutan.

Sekolah, keluarga, pemerintah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dan masyarakat perlu berjalan bersama. Anak-anak perlu diajarkan bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga kapan harus menggunakannya, kapan harus meragukannya, dan kapan harus mengatakan tidak.

Sebab teknologi yang canggih tanpa moral dapat melahirkan kecanggihan yang kehilangan arah.

Sebaliknya, teknologi yang dipandu ilmu, iman, etika, dan tanggung jawab dapat menjadi jalan bagi kemajuan manusia.

Di sinilah pendidikan menemukan kembali tugas luhurnya.

Mendidik bukan hanya membuat seseorang menjadi pintar. Pendidikan harus membuat manusia mampu menggunakan kepintarannya dengan benar.

AI boleh semakin cerdas.

Tetapi manusia tidak boleh kehilangan kebijaksanaan.

Kemajuan teknologi hendaknya tidak membuat generasi muda semakin jauh dari nilai kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan kepedulian kepada sesama. Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan bukanlah seberapa pintar mesin mampu menjawab pertanyaan, melainkan seberapa bijaksana manusia menggunakan jawaban itu.

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Pesan tersebut menemukan relevansinya di tengah zaman ketika informasi dapat hadir hanya dalam hitungan detik.

Maka, di hadapan kecerdasan buatan, manusia membutuhkan kecerdasan yang lebih mendasar: kecerdasan nurani.

Dari ruang kelas di Wajo, pesan itu semestinya bergema lebih jauh.

Ajarkan anak-anak kita mengenal teknologi.

Ajarkan pula mereka untuk meragukan informasi yang belum teruji.

Ajarkan mereka memanfaatkan AI untuk belajar, bukan untuk kehilangan proses belajar.

Dan yang paling penting, ajarkan mereka bahwa kecanggihan tanpa etika bukanlah kemajuan.

Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu menguasai teknologi, tetapi generasi yang mampu mempertanggungjawabkan setiap penggunaannya.

AI adalah alat. Manusia adalah penentu arah. Dan etika adalah kompasnya.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *