Di Balik Jeruji dan di Dalam Diri Kita

EDITORIAL14 Dilihat

Oleh: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group

Ada sesuatu yang sunyi di dalam rumah tahanan.
Bukan hanya bunyi pintu besi yang ditutup perlahan, bukan pula langkah para penjaga yang hilir mudik di lorong sempit. Kesunyian itu tinggal di mata orang-orang yang pernah kehilangan arah hidupnya.

Sabtu pagi itu, di Rutan Kelas IIB Soppeng, kesunyian itu seperti diajak berbicara.

Beberapa polisi dari Sat Resnarkoba datang membawa penyuluhan tentang bahaya narkoba. Sebuah kegiatan yang, dalam laporan resmi, mungkin hanya disebut “pembinaan dan edukasi”. Kalimat yang pendek. Administratif. Nyaris dingin.

Tetapi manusia tidak pernah sesederhana administrasi.

Di ruangan itu ada 124 warga binaan. Mungkin sebagian pernah menjadi anak yang dibanggakan ibunya. Mungkin ada yang dulu bercita-cita menjadi guru, petani, tentara, atau sekadar ayah yang baik. Lalu hidup berbelok. Kadang pelan, kadang tiba-tiba. Dan narkoba sering datang bukan sebagai monster yang menakutkan, melainkan sebagai teman yang tampak akrab.

Ia masuk lewat kesepian.
Lewat pergaulan.
Lewat rasa ingin mencoba.
Lewat keputusasaan yang tidak sempat dipeluk siapa-siapa.

Kita sering memusuhi narkoba seperti memusuhi benda asing. Padahal ia tumbuh dari ruang kosong yang kita biarkan ada di tengah masyarakat: keluarga yang retak, pendidikan yang kehilangan kasih sayang, lingkungan yang sibuk menghakimi tetapi malas mendengar.

Karena itu perang terhadap narkoba tak akan pernah cukup hanya dengan penangkapan.

Penjara bisa mengurung tubuh seseorang, tetapi tidak selalu mampu menyembuhkan kehancuran batinnya. Hukuman dapat membuat orang jera, namun belum tentu membuatnya sembuh. Dan negeri ini sering lebih mahir menghukum daripada memulihkan.

Di titik itulah penyuluhan seperti yang dilakukan Sat Resnarkoba Polres Soppeng menemukan maknanya.

Mereka tidak datang membawa borgol. Mereka datang membawa kata-kata. Dan kadang-kadang, kata-kata yang tulus memang dapat bekerja lebih lama daripada ketakutan.

Tentang narkoba yang merusak otak. Tentang tubuh yang perlahan hancur. Tentang masa depan yang runtuh sedikit demi sedikit. Tentang agama yang melarang manusia mencelakai dirinya sendiri.

Tetapi sesungguhnya, yang paling penting bukanlah penjelasan medis ataupun ancaman hukuman itu. Yang paling penting adalah pengingat bahwa manusia masih punya kesempatan untuk kembali menjadi manusia.

Sebab di balik setiap pecandu, sering tersembunyi seseorang yang sebenarnya ingin ditolong.

Kita hidup di zaman yang aneh. Orang mudah berkata “perangi narkoba”, tetapi lupa bertanya mengapa begitu banyak anak muda ingin lari dari kenyataan hidupnya. Kita sibuk mengejar pengedar, tetapi kadang lalai membangun ruang-ruang harapan.

Padahal narkoba tumbuh subur di tempat-tempat yang kehilangan makna hidup.

Maka memberantas narkoba sejatinya bukan hanya urusan polisi. Ia juga urusan guru, orang tua, tokoh agama, tetangga, bahkan negara yang harus hadir memberi rasa adil dan masa depan.

Sebab manusia yang merasa dicintai biasanya tidak mudah menghancurkan dirinya sendiri.

Dan pagi itu, di sebuah rumah tahanan di Soppeng, kita mungkin belajar sesuatu yang sederhana:
bahwa menyelamatkan manusia tidak selalu dimulai dengan hukuman, tetapi dengan kesediaan mendengarkan luka mereka.

Di balik jeruji itu, ada orang-orang yang pernah jatuh. Namun seperti doa yang tidak pernah benar-benar ditutup langit, harapan rupanya masih menyala.

Kecil.
Diam.
Tetapi belum padam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *