Tajuk Rencana Palapa: AI Masuk Sekolah, Etika Jangan Tertinggal

TAJUK RENCANA95 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

TAJUK RENCANA PALAPA
Suara Redaksi, Sikap untuk Kepentingan Publik

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ketika kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang-ruang kelas, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya kemampuan anak-anak kita menguasai teknologi.

Yang sedang diuji adalah kemampuan kita sebagai masyarakat untuk memastikan bahwa kecerdasan tidak berjalan lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Rabu, 26 Agustus 2026, Polres Soppeng memberikan edukasi mengenai Artificial Intelligence (AI) kepada siswa kelas X dan XI SMK Negeri 1 Soppeng.

Kegiatan itu merupakan bagian dari tindak lanjut implementasi Program Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026, khususnya Indikator 9.1 dan 9.2.

Bagi Redaksi Palapa, kegiatan tersebut patut dilihat lebih jauh daripada sekadar agenda institusi.

Sebab AI bukan lagi sesuatu yang berada di luar kehidupan pelajar.

Ia sudah berada di dalam genggaman mereka.

Ia hadir ketika seorang siswa mencari bahan pelajaran, menyusun gagasan, menerjemahkan bahasa, membuat tulisan, bahkan ketika seseorang membutuhkan jawaban atas sesuatu yang tidak diketahuinya.

Persoalannya kemudian bukan lagi apakah anak-anak kita akan menggunakan AI.

Mereka hampir pasti akan menggunakannya.

Persoalan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah mereka tahu bagaimana menggunakannya dengan benar?

Jangan Hanya Mengajarkan Cara Menggunakan

Tajuk ini perlu ditegaskan sejak awal: masyarakat tidak boleh bersikap takut terhadap teknologi.

Kemajuan teknologi adalah bagian dari perjalanan peradaban. AI memiliki potensi besar untuk membantu pendidikan, memperluas akses pengetahuan, meningkatkan produktivitas, dan membuka berbagai peluang baru bagi generasi muda.

Karena itu, menolak teknologi bukanlah jalan keluar.

Yang diperlukan adalah kemampuan mengendalikan pemanfaatannya.

Anak-anak kita tidak cukup diajarkan bagaimana membuat perintah kepada AI.

Mereka harus diajarkan bagaimana memeriksa jawaban yang diberikan AI.

Mereka harus memahami bahwa informasi yang tampak meyakinkan belum tentu benar.

Mereka harus mengetahui bahwa karya yang dihasilkan teknologi tetap memiliki persoalan mengenai kejujuran, orisinalitas, hak cipta, dan tanggung jawab.

Dan yang paling penting, mereka harus memahami bahwa AI tidak pernah dapat menggantikan pertimbangan moral manusia.

Inilah titik yang tidak boleh luput dari pendidikan.

“The Man Behind the Gun”

Dalam dunia senjata dikenal ungkapan “the man behind the gun”—manusia di balik senjata.

Sebuah senjata tidak menentukan sendiri kepada siapa ia diarahkan. Manusialah yang memegangnya. Manusialah yang menentukan penggunaannya.

Teknologi pun demikian.

AI tidak mempunyai tanggung jawab moral sebagaimana manusia.

Ia bekerja berdasarkan sistem, data, perintah, dan rancangan yang diberikan kepadanya.

Karena itu, semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia yang berada di belakangnya.

The man behind the gun.

Dalam konteks zaman sekarang, kita dapat memperluas maknanya:

The human behind the technology.

Manusia di belakang teknologi.

Di sinilah pendidikan harus berdiri.

Bukan sekadar menghasilkan generasi yang melek teknologi, tetapi generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal sehat dan nuraninya.

Sekolah Tidak Boleh Sendirian

Tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.

Guru tidak mungkin bekerja sendirian.

Orang tua tidak mungkin bekerja sendirian.

Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian.

Begitu pula aparat penegak hukum.

Semua pihak memiliki ruang masing-masing untuk membangun ekosistem digital yang sehat.

Sekolah membangun pengetahuan.

Keluarga membangun karakter.

Pemerintah membangun kebijakan dan perlindungan.

Aparat penegak hukum memberikan pemahaman mengenai konsekuensi hukum dan tanggung jawab sosial.

Media memberikan informasi, pengawasan, sekaligus pendidikan publik.

Jika seluruh unsur tersebut berjalan bersama, maka teknologi akan menjadi kekuatan yang memperkuat manusia.

Sebaliknya, jika pendidikan tertinggal dan pengawasan lemah, teknologi yang seharusnya menjadi alat kemajuan dapat berubah menjadi sarana penyebaran informasi palsu, penipuan, manipulasi, perundungan, pelanggaran privasi, hingga berbagai bentuk penyalahgunaan lainnya.

Karena itu, edukasi AI harus dipandang sebagai bagian dari pendidikan publik yang berkelanjutan.

Bukan kegiatan sekali selesai.

Generasi Digital Membutuhkan Kompas

Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Mereka memperoleh informasi dengan cepat.

Namun cepat memperoleh informasi tidak selalu berarti cepat memperoleh kebenaran.

Mereka dapat membuat berbagai karya dengan bantuan teknologi.

Namun kemampuan membuat karya tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mempertanggungjawabkannya.

Mereka dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik.

Namun jawaban yang cepat tidak selalu merupakan jawaban yang benar.

Karena itu, generasi digital membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kemampuan teknis.

Mereka membutuhkan kompas.

Kompas itu bernama etika.

Kompas itu bernama tanggung jawab.

Kompas itu bernama nurani.

Dan pendidikan harus memastikan ketiganya tidak hilang ketika teknologi semakin berkembang.

Palapa Mendorong Edukasi yang Berkelanjutan

Redaksi Palapa memandang positif langkah Polres Soppeng memberikan edukasi AI kepada para pelajar.

Namun, apresiasi tidak boleh berhenti pada tepuk tangan.

Ia harus dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting:

Apa langkah berikutnya?

Apakah edukasi serupa dapat dilakukan secara berkala?

Apakah materi dapat dikembangkan sesuai tingkat pendidikan?

Apakah sekolah dapat dilibatkan secara lebih luas?

Apakah orang tua dan guru juga dapat memperoleh pemahaman yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena perubahan teknologi berlangsung setiap hari.

Program yang baik harus mampu mengikuti perubahan tersebut.

Jika edukasi hanya berlangsung sekali, sementara teknologi terus berkembang setiap waktu, maka akan selalu ada jarak yang harus dikejar.

Karena itu, Redaksi Palapa mendorong agar edukasi literasi AI tidak berhenti sebagai bagian dari satu program atau satu kegiatan.

Ia harus menjadi bagian dari gerakan literasi digital yang lebih luas.

Jangan Sampai Mesin Lebih Cepat daripada Pendidikan

Inilah kekhawatiran yang harus menjadi perhatian bersama.

Teknologi bergerak sangat cepat.

Pendidikan bergerak dengan proses yang lebih panjang.

Keduanya memang tidak harus bergerak dengan kecepatan yang sama. Tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan arah ketika teknologi melaju.

Kita tidak ingin melihat generasi muda menjadi sangat mahir menggunakan teknologi, tetapi lemah dalam berpikir kritis.

Kita tidak ingin melihat anak-anak mampu menghasilkan tulisan dengan bantuan AI, tetapi kehilangan kebiasaan membaca.

Kita tidak ingin melihat mereka mampu memperoleh berbagai jawaban, tetapi tidak lagi terbiasa bertanya.

Dan kita tentu tidak ingin kecanggihan teknologi membuat manusia kehilangan rasa tanggung jawab terhadap sesama.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan AI tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah siswa mampu menggunakan teknologi.

Ukuran keberhasilannya harus lebih jauh:

Apakah setelah mengenal teknologi, mereka menjadi manusia yang lebih cerdas, lebih kritis, lebih bertanggung jawab, dan lebih beradab?

Jika jawabannya ya, maka teknologi telah menemukan tempat yang benar.

Jika tidak, kita harus berani melakukan evaluasi.

Teknologi Boleh Cerdas, Manusia Harus Bijaksana

Pada akhirnya, kita tidak sedang berhadapan dengan perang antara manusia dan mesin.

Kita sedang menghadapi sebuah pilihan tentang bagaimana manusia menggunakan mesin.

AI boleh semakin cerdas.

Algoritma boleh semakin rumit.

Mesin boleh semakin cepat.

Tetapi jangan pernah membiarkan kecerdasan buatan mengalahkan kecerdasan nurani.

Sebab teknologi tidak memiliki hati untuk merasakan penderitaan orang lain.

Teknologi tidak memiliki keluarga untuk kehilangan.

Teknologi tidak memiliki rasa bersalah ketika melakukan kesalahan.

Manusialah yang memilikinya.

Karena itu, manusia tetap harus menjadi penentu.

The man behind the gun.

The human behind the technology.

Dua ungkapan itu mengingatkan kita pada satu hal yang sama:

alat tidak pernah lebih penting daripada manusia yang menggunakannya.

Maka kepada sekolah, keluarga, pemerintah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, dan seluruh masyarakat, inilah saatnya membangun kesadaran bersama.

Ajarkan anak-anak kita mengenal AI.

Ajarkan mereka memanfaatkannya.

Ajarkan mereka mengkritisinya.

Tetapi yang paling penting, ajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia.

Sebab masa depan bukan milik mereka yang paling cepat menguasai teknologi.

Masa depan adalah milik mereka yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan arah, tanpa kehilangan tanggung jawab, dan tanpa kehilangan nurani.

Teknologi boleh semakin cerdas.

Tetapi manusia di belakangnya harus tetap lebih bijaksana.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *