Keterangan Gambar:
Tampak dalam gambar, dari kiri ke kanan, Dr. Andi Henry Mappesona, S.E., M.Sc., Muh. Yusuf Ramadhani, S.H., Asmiati dan Nurul Fitriani, A.Pd., S.Sos.
Penulis: Abd. Azis Usman
Editor: Alimuddin
BONE — Malam merambat perlahan di Jalan Lapawawoi Karaeng Sigeri, Watampone, Kabupaten Bone. Cahaya lampu yang menghiasi halaman kediaman keluarga Muh. Yusuf Ramadhani, S.H., berpadu dengan wajah-wajah penuh kebahagiaan yang datang membawa doa dan restu.
Selasa malam, 16 Juni 2026, menjadi salah satu malam yang akan selalu dikenang oleh pemuda yang akrab disapa Ramah itu. Setelah sebelumnya menjalani prosesi siraman yang sarat makna dan haru, Ramah kembali menapaki tahapan penting menjelang akad nikah melalui prosesi Mappacci, sebuah tradisi sakral masyarakat Bugis yang diwariskan turun-temurun sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Di tengah suasana yang khidmat, satu per satu anggota keluarga, kerabat, sahabat, dan para tamu yang hadir memberikan pacci di telapak tangan calon mempelai pria. Di balik sentuhan sederhana itu tersimpan doa-doa yang tak terhitung jumlahnya; doa agar langkah yang akan ditempuh menjadi langkah yang diberkahi, doa agar rumah tangga yang akan dibangun kelak menjadi tempat bersemainya cinta, kesabaran, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Mappacci bukan sekadar ritual adat. Ia adalah perjumpaan antara tradisi dan nilai-nilai spiritual. Sebuah pengingat bahwa sebelum manusia mengikat janji suci dalam pernikahan, ada hati yang perlu dibersihkan, niat yang perlu diluruskan, dan doa yang perlu dipanjatkan.
Malam itu, Ramah duduk tenang di tengah lingkaran keluarga besarnya. Namun sesungguhnya, prosesi tersebut bukan hanya tentang dirinya semata.
Di antara wajah-wajah yang tersenyum bahagia, ada seorang perempuan yang menyimpan kisah perjuangan panjang. Sosok itu adalah ibundanya, Asmiati.
Perjalanan hidup Ramah tidaklah sama seperti kebanyakan anak lainnya. Sejak masih kecil, ia dan saudara-saudaranya harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran seorang ayah. Ayahanda mereka telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah, meninggalkan duka yang mendalam sekaligus amanah besar yang harus dipikul oleh sang ibu.
Sejak saat itulah Asmiati menjalani kehidupan dengan ketegaran yang luar biasa.
Ia bukan hanya menjadi ibu bagi anak-anaknya.
Ia juga menjadi ayah.
Di pundaknya tertumpu tanggung jawab membesarkan lima orang anak; tiga putri dan dua putra. Dengan segala keterbatasan dan tantangan hidup yang dihadapi, ia menjalani hari-harinya dengan kesabaran yang nyaris tak pernah mengeluh. Ia menguatkan ketika anak-anaknya membutuhkan sandaran. Ia menghibur ketika kesedihan datang menghampiri. Dan ia terus menanamkan harapan melalui doa-doa yang dipanjatkannya dalam setiap sujud.
Tahun demi tahun berlalu.
Anak-anak yang dahulu berada dalam genggamannya tumbuh menjadi pribadi-pribadi dewasa yang mulai menapaki jalan hidup masing-masing.
Karena itu, malam Mappacci ini bukan hanya menjadi malam kebahagiaan bagi Ramah. Ini juga menjadi malam yang menghadirkan jawaban atas doa-doa panjang seorang ibu yang telah bertahun-tahun berjuang tanpa mengenal lelah.
Barangkali tidak semua perjuangan itu terlihat. Namun Allah SWT tidak pernah membiarkan setiap tetes air mata, setiap pengorbanan, dan setiap doa seorang ibu berlalu tanpa makna.
Suasana kekeluargaan malam itu semakin hangat dengan hadirnya kakak kandung Yusuf, Nurul Fitriani, S.Pd., S.Sos, bersama suaminya, Dr. Andi Henry Mappesona, S.E., M.Sc., yang datang dari Jakarta. Kehadiran mereka menambah kebahagiaan keluarga besar yang berkumpul untuk menyaksikan secara langsung prosesi sakral sang adik menuju hari yang telah lama dinantikan.
Jarak ribuan kilometer antara ibu kota dan kampung halaman seolah tak berarti ketika keluarga dipersatukan oleh cinta dan doa. Malam itu menjadi ruang pertemuan bagi kenangan, harapan, dan rasa syukur yang menyatu dalam suasana penuh kehangatan.
Seluruh rangkaian acara ditata dan dimanage dengan apik oleh REGAL_ORGANEZER di bawah pimpinan Yakub Hasbullah. Penataan yang elegan namun tetap hangat membuat setiap tahapan prosesi berlangsung tertib, khidmat, dan sarat nuansa kekeluargaan.
Di bawah langit Watampone yang teduh, lantunan doa terus mengalir. Para tamu yang hadir tidak hanya menyaksikan sebuah prosesi adat, tetapi juga menjadi saksi perjalanan seorang anak yang sedang melangkah menuju fase baru kehidupannya.
Jika siraman menjadi simbol pembersihan lahir, maka Mappacci adalah penyucian batin. Keduanya berpadu menjadi ikhtiar manusia sebelum menyerahkan seluruh harapan kepada Sang Pemilik Takdir.
Di telapak pacci yang diletakkan penuh penghormatan itu tersimpan harapan agar Yusuf dan calon istrinya, Annizaa, senantiasa diberi kekuatan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Agar cinta yang tumbuh di antara keduanya selalu bersemi dalam ridha Allah SWT. Agar setiap langkah mereka menjadi bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya.
Dan ketika prosesi Mappacci berakhir, malam itu sesungguhnya bukanlah penutup sebuah perjalanan.
Ia adalah gerbang terakhir sebelum akad nikah membuka lembaran baru kehidupan.
Lembaran yang akan ditulis dengan cinta yang halal, tanggung jawab yang mulia, kesetiaan yang dijaga, serta doa-doa yang telah lama dipanjatkan oleh seorang ibu yang tak pernah berhenti berharap kepada Allah SWT.
Di telapak pacci itu, tersimpan cinta keluarga.
Di setiap doa yang mengalun malam itu, tersimpan harapan masa depan.
Dan di hati Yusuf, terpatri langkah menuju sebuah bahtera yang diharapkan menjadi sakinah, mawaddah, warahmah hingga akhir hayat.Keterangan Foto:
Calon mempelai pria, Muh. Yusuf Ramadhani, S.H., menjalani prosesi Mappacci di kediaman keluarganya di Jalan Lapawawoi Karaeng Sigeri, Watampone, Kabupaten Bone, Selasa malam (16/6/2026). Prosesi adat Bugis tersebut menjadi simbol penyucian diri menjelang akad nikah, sekaligus menjadi momen haru yang mengingatkan perjalanan panjang Ibunda Asmiati dalam membesarkan lima anaknya seorang diri sejak kepergian sang suami.










