Dari Pelukan Ibu hingga Tetes Air Kembang, Yusuf Bersiap Menjadi Suami

BUDAYA DAN SENI206 Dilihat

Penulis: Abd. Azis Usman
Editor: Alimuddin

Menjelang hari yang akan mengubah perjalanan hidupnya, Muh. Yusuf Ramadhani, S.H., duduk khidmat di halaman rumah keluarganya pada Selasa, 16 Juni 2026. Di hadapannya, kendi-kendi berisi air kembang dan wajah-wajah penuh kasih dari keluarga serta kerabat yang datang membawa doa.

Sore itu bukan sekadar rangkaian adat. Ia adalah peristiwa batin yang sarat makna. Sebuah prosesi siraman, tradisi luhur yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penyucian diri sebelum seorang insan mengucapkan janji suci pernikahan.

Air yang mengalir perlahan dari tangan para sesepuh dan keluarga terdekat seakan membawa pesan yang sama: membersihkan langkah dari debu masa lalu, menenangkan hati, dan mempersiapkan jiwa untuk memasuki lembaran kehidupan yang baru.

Dalam tradisi Bugis dan Nusantara, air siraman biasanya berasal dari beberapa sumber mata air yang dipadukan dengan bunga setaman. Air itu bukan hanya simbol kesegaran, melainkan perlambang pertolongan, keberkahan, dan harapan agar rumah tangga yang akan dibangun senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

Satu per satu anggota keluarga maju ke depan. Dengan penuh kelembutan mereka membedaki dan menyiram calon mempelai pria. Di antara mereka, tampak sosok yang paling larut dalam suasana haru, Asmiati, ibunda Yusuf.

Bagi Yusuf, perempuan itu bukan hanya seorang ibu. Sejak sang ayah berpulang bertahun-tahun silam, Asmiati juga menjalankan peran sebagai ayah sekaligus kepala keluarga. Dengan keteguhan hati dan kasih yang tak pernah surut, ia membesarkan anak-anaknya hingga mampu berdiri tegak menghadapi kehidupan.

Ketika tiba gilirannya menyiram sang putra, air yang jatuh dari tangannya seolah bercampur dengan doa-doa yang selama ini ia simpan dalam sujud panjang. Doa seorang ibu yang berharap agar anaknya menemukan kebahagiaan, keberkahan, dan ketenteraman dalam rumah tangga yang akan dibangun.

Suasana semakin hangat dengan kehadiran kakak kandung Yusuf, Nurul Fitriani, bersama suaminya, Andi Andre Mappesona, yang datang dari Jakarta untuk turut menyaksikan momen bersejarah tersebut. Kehadiran keluarga besar menjadikan prosesi siraman bukan hanya ritual adat, melainkan juga pertemuan cinta dan ikatan kekeluargaan yang menguatkan.

Acara yang dipandu oleh Vidya itu berlangsung khidmat namun penuh keakraban. Tawa, haru, dan doa berpadu menjadi satu, mengiringi langkah Yusuf menuju fase baru kehidupannya.

Siraman pun berakhir ketika senja mulai menurunkan cahayanya. Namun makna yang ditinggalkan tetap tinggal dalam hati setiap orang yang hadir. Sebab sejatinya, pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, melainkan juga penyatuan dua keluarga dalam ikatan yang diridhai Allah SWT.

Esok hari, Rabu, 17 Juni 2026, Muh. Yusuf Ramadhani, S.H., putra Watampone, akan melangsungkan akad nikah dengan Azisah Azzahra, S.H., putri Bajoe. Sebuah janji suci yang akan menjadi awal perjalanan baru, setelah hari ini ia terlebih dahulu dibersihkan oleh air, dipeluk oleh kasih keluarga, dan dikuatkan oleh doa-doa yang mengalir tanpa henti.

Di bawah guyuran air kembang itu, sesungguhnya yang sedang tumbuh bukan hanya kesiapan seorang mempelai. Tetapi juga harapan tentang keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang kelak menjadi tempat berlabuh bagi cinta dan ibadah sepanjang usia.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *