Sajadah Aspal Gilireng: Saat Seragam dan Doa Menyatu dalam Sebungkus Takjil

POLRI120 Dilihat

Keterangan Gambar:
TEBAR KEBAIKAN DI BULAN SUCI
: Kapolsek Gilireng, Antonius Pasakke, bersama Ketua Bhayangkari Ranting Gilireng, menyerahkan paket takjil kepada seorang warga di depan Mapolsek Gilireng, Selasa (17/3/2026). Aksi simpatik ini merupakan wujud kepedulian Polri dalam mempererat tali asih dan berbagi berkah Ramadan bersama masyarakat pengguna jalan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

Penulis: Sabri
Editor: Alimuddin

WAJO — Matahari sore itu mulai merunduk malu di ufuk barat Kecamatan Gilireng, menyisakan semburat jingga yang membasuh debu-debu di jalanan. Di depan Mapolsek Gilireng, Selasa (17/3/2026), aspal jalanan seolah berubah menjadi hamparan sajadah panjang tempat pengabdian dan kemanusiaan bertemu.

Bukan deru sirine yang menghentikan laju kendaraan, melainkan senyum tulus yang mengembang dari bibir para Bhayangkara. Dipimpin langsung oleh Kapolsek Gilireng, Antonius Pasakke, bersama sang istri tercinta selaku Ketua Bhayangkari Ranting Gilireng, personel kepolisian berdiri di tepi jalan bukan untuk memeriksa surat kendaraan, melainkan untuk menitipkan bekal berbuka puasa bagi para musafir jalanan.

Waktu menunjukkan pukul 17.30 Wita. Di tangan mereka, paket-paket takjil berwarna hijau cerah berpindah tangan dengan iringan doa-doa kecil. Ada rona bahagia terpancar dari wajah para pengendara roda dua yang lelah setelah seharian mencari nafkah, juga ada anggukan syukur dari balik kemudi roda empat yang melintas.

“Kegiatan ini adalah bahasa cinta kami kepada masyarakat. Di bulan yang suci ini, kami ingin memastikan bahwa setiap warga yang masih berada di perjalanan merasa ditemani dan dipedulikan,” ujar Antonius dengan nada lembut, menggambarkan betapa tipisnya sekat antara polisi dan warga saat kasih sayang menjadi jembatannya.

Bagi personel Polsek Gilireng, membagikan takjil bukan sekadar rutinitas sosial. Ia adalah ritual untuk membasuh jiwa, mempererat silaturahmi yang sempat renggang oleh rutinitas, dan menanam benih kebersamaan di tanah Gilireng.
Dalam setiap paket yang diberikan, terselip pesan bahwa keamanan bukan hanya soal penjagaan, tapi soal saling menjaga hati.

Saat azan Maghrib mulai berkumandang di kejauhan pada pukul 18.00 Wita, jalanan kembali sunyi. Namun, kehangatan dari tangan-tangan yang memberi dan menerima itu tetap tertinggal, menjadi pengingat bahwa di balik seragam yang gagah, berdenyut jantung yang penuh dengan empati dan napas religius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *