Di Pagi yang Lebih Dulu Datang, Mereka Menjaga Sunyi: Ketika Tugas dan Nurani Bertemu di Hari Raya

KAMTIBMAS74 Dilihat

Keterangan Gambar:

Personel Polri bersama TNI berdiri di ruas jalan di wilayah Kabupaten Soppeng saat melaksanakan pengamanan Shalat Idul Fitri 1447 H oleh jamaah Muhammadiyah, Jumat (20/3/2026). Kehadiran petugas memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Hasanuddin Tinco

SOPPENG – Fajar belum sepenuhnya merekah ketika langkah-langkah itu lebih dulu hadir di jalanan Soppeng. Udara masih menyimpan sisa dingin malam, namun di beberapa sudut kota, kesunyian mulai diisi oleh kehadiran mereka, para penjaga yang tak ingin ibadah ternoda oleh rasa khawatir.

Di hari ketika sebagian umat telah lebih dulu menyambut Idul Fitri, Jumat, 20 Maret 2026, jajaran Polres Soppeng berdiri di antara harap dan doa. Mereka tidak sekadar menjalankan tugas, tetapi juga menjaga ruang hening agar tetap suci.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., menegaskan bahwa pengamanan dilakukan menyeluruh di berbagai titik. Namun lebih dari itu, ada sesuatu yang tak tertulis dalam setiap langkah personel di lapangan, sebuah panggilan yang tak hanya datang dari komando, tetapi juga dari dalam hati.

Di Kecamatan Lalabata, Donri-Donri, hingga Liliriaja, para personel hadir di masjid-masjid dan musholla. Mereka berdiri di pinggir jalan, mengatur arus, mengawasi dengan tenang. Sebagian petugas tampak sangat patuh melaksanakan perintah komandannya, namun lebih dari itu, mereka juga patuh terhadap panggilan nuraninya.

Karena di hari raya, menjaga orang lain agar bisa beribadah dengan khusyuk adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri oleh jamaah Muhammadiyah yang lebih awal, berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal, berjalan dalam suasana damai. Tidak ada riak, tidak ada gesekan. Yang ada hanyalah perbedaan yang dirawat dengan kedewasaan.

Di balik seragam dan sepatu yang berdebu, ada keikhlasan yang tak selalu terlihat. Mereka tidak berada di saf salat, tetapi menjaga agar saf itu tetap lurus, tetap tenang, tetap khusyuk.

Dan ketika takbir menggema, mungkin mereka hanya bisa mendengarnya dari kejauhan, namun pahala itu, barangkali justru lebih dekat dari yang mereka kira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *