Keterangan Gambar:
Suasana kebersamaan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Al-Aqso Polres Soppeng, Jumat (4/9/2026). Kegiatan diisi dengan doa, hikmah Maulid, pemberian bingkisan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, serta santap bersama. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
EDITORIAL PALAPA
Suara Nurani Redaksi
SUARA PALAPA, SOPPENG — Ada peristiwa yang selesai ketika acara berakhir. Tetapi ada pula peristiwa yang seharusnya terus hidup setelah karpet masjid kembali sunyi, hidangan disantap, dan para tamu meninggalkan tempat.
Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya termasuk di antara peristiwa yang kedua.
Sebab memperingati kelahiran Rasulullah SAW bukan sekadar mengulang sejarah, melainkan menghidupkan kembali nilai yang pernah beliau ajarkan: kejujuran, kasih sayang, kepedulian, persaudaraan dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
Pesan itulah yang terasa di Masjid Al-Aqso Polres Soppeng, Jumat, 4 September 2026. Keluarga besar Polres Soppeng bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, anak yatim piatu dan kaum dhuafa berkumpul dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Bagi Palapa, nilai penting dari kegiatan itu justru terletak pada upaya membawa pesan keagamaan keluar dari ruang seremonial menuju kehidupan sosial.
Maulid dan Makna Sebuah Amanah
Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., dalam sambutannya mengajak seluruh yang hadir untuk menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan itu sederhana, tetapi memiliki kedalaman.
Seorang anggota kepolisian tidak hanya dituntut mampu menjalankan hukum, tetapi juga membutuhkan keluhuran budi ketika berhadapan dengan manusia. Demikian pula seorang pejabat pemerintahan tidak hanya memikul kewenangan administratif, tetapi juga amanah untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Di situlah agama menemukan relevansinya dengan kehidupan bernegara.
Kejujuran menjadi fondasi kepercayaan. Kepedulian menjadi jembatan kemanusiaan. Persaudaraan menjadi kekuatan sosial. Sedangkan kasih sayang membuat kewenangan tidak kehilangan wajah kemanusiaannya.
Karena itu, ajakan untuk meneladani Rasulullah SAW tidak semestinya berhenti di mimbar. Ia harus turun menjadi perilaku, termasuk ketika seseorang menjalankan tugas dan kewenangan publik.
Ketika Kepedulian Mendahului Seremoni
Ada satu bagian dari rangkaian kegiatan yang patut diberi perhatian: pemberian bingkisan kepada anak yatim piatu sebelum memasuki masjid.
Boleh jadi secara lahiriah ia hanyalah sebuah bingkisan.
Namun bagi seorang anak yang menerima, perhatian kecil itu bisa menjadi kenangan besar. Ada pesan yang lebih dalam daripada isi sebuah paket: bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Dalam perspektif kemanusiaan, kepedulian semacam itu memiliki arti penting. Sebab ukuran sebuah peringatan keagamaan tidak hanya terletak pada kemeriahan acaranya, tetapi juga pada seberapa jauh nilai yang dibawa mampu menyentuh kehidupan mereka yang membutuhkan.
Peringatan Maulid kemudian dilanjutkan dengan hikmah yang disampaikan H. Muh. Yunus, S.Ag., M.Ag.I. Jamaah diajak kembali memahami hubungan manusia dengan Allah SWT sekaligus hubungan manusia dengan sesamanya.
Dua hubungan itulah yang sesungguhnya menjadi inti kehidupan.
Kesalehan kepada Allah tidak boleh menjauhkan manusia dari kepedulian sosial. Sebaliknya, kepedulian kepada sesama seharusnya berakar pada kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.
Kebersamaan Tidak Mengenal Sekat
Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, S.E., juga mengingatkan agar Maulid tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Hikmah perjuangan dan keteladanan Rasulullah SAW, menurutnya, harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menemukan bentuknya dalam suasana setelah rangkaian acara.
Pejabat, personel kepolisian, tokoh masyarakat dan warga duduk bersama menikmati santap bersama. Sekat-sekat jabatan untuk sementara mencair dalam suasana persaudaraan.
Inilah wajah kebersamaan yang sesungguhnya.
Kekuasaan dan jabatan memiliki tempatnya. Tetapi di hadapan nilai kemanusiaan, setiap orang tetap membutuhkan ruang untuk saling menghormati dan berbagi.
Soppeng yang dikenal sebagai Bumi Latemmamala tentu membutuhkan modal sosial semacam itu. Pembangunan tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan kebijakan. Ia juga membutuhkan kepercayaan, persaudaraan dan ketenteraman yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri.
Dari Masjid untuk Kehidupan
Rangkaian kegiatan juga diramaikan dengan pengumuman pemenang lomba satuan terkreatif dalam rangka Maulid Nabi 1448 H. Juara pertama diraih Polsek Marioriawa, disusul Satuan Lalu Lintas Polres Soppeng, Satreskrim Polres Soppeng, Polsek Lalabata, dan Bag Ops Polres Soppeng.
Namun, bagi Palapa, kemenangan paling penting bukanlah siapa yang memperoleh juara pertama.
Kemenangan yang lebih besar adalah ketika semangat berlomba dalam kegiatan keagamaan dapat berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan setelah kegiatan berakhir.
Sebab kreativitas boleh berakhir dalam sebuah perlombaan, tetapi akhlak seharusnya tidak mengenal garis finis.
Hal yang sama tampak dalam kepedulian Kapolres Soppeng bersama Ketua Bhayangkari Cabang Soppeng Ny. Anie Hari Budiyanto melalui penyerahan sedekah kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa pada penghujung kegiatan.
Di sana terdapat sebuah pesan yang sangat sederhana: ibadah yang baik seharusnya melahirkan kepedulian yang baik pula.
Editorial Palapa: Jangan Biarkan Maulid Berhenti di Masjid
Palapa memandang, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Polres Soppeng memiliki makna yang lebih luas daripada agenda keagamaan tahunan.
Ia dapat menjadi ruang refleksi bagi institusi kepolisian, pemerintah daerah dan masyarakat bahwa keamanan, ketertiban dan pembangunan pada akhirnya bermuara pada manusia.
Polisi membutuhkan kepercayaan masyarakat. Pemerintah membutuhkan partisipasi rakyat. Masyarakat membutuhkan rasa aman dan keadilan. Semuanya bertemu pada satu kata: keteladanan.
Karena itu, pesan Maulid tidak boleh berhenti ketika lampu masjid dipadamkan.
Ia harus ikut pulang bersama mereka yang hadir.
Ia harus masuk ke ruang pelayanan publik, ke jalan-jalan tempat polisi bertugas, ke kantor tempat kebijakan dirumuskan, ke rumah-rumah tempat keluarga membangun generasi, dan ke tengah masyarakat tempat persaudaraan diuji setiap hari.
Rasulullah SAW telah meninggalkan teladan bahwa kemuliaan bukan semata-mata karena kedudukan, melainkan karena akhlak dan kemanfaatan bagi sesama.
Maka Maulid tahun ini semestinya menjadi lebih dari sekadar perayaan.
Ia adalah panggilan nurani agar setiap amanah dijalankan dengan jujur, setiap kewenangan disertai kebijaksanaan, dan setiap hubungan sosial dibangun dengan kasih sayang.
Ketika anak yatim tersenyum, ketika tangan-tangan saling berbagi, ketika pejabat dan masyarakat duduk tanpa sekat, dan ketika nama Rasulullah SAW disebut dengan penuh kecintaan, sesungguhnya di situlah sebuah peringatan menemukan ruhnya.
Masjid mungkin kembali sunyi.
Tetapi keteladanan tidak boleh ikut sunyi.
Sebab Maulid yang paling indah adalah Maulid yang setelahnya membuat manusia menjadi lebih baik, lebih peduli, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Allah SWT serta sesama manusia.
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani












