Ketika Yassisoppengi Menemukan Ruhnya di Mimbar Walimpong

SYI'AR ISLAM15 Dilihat

Keterangan Gambar: Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng menyampaikan sambutan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Miftahul Jannah, Walimpong, Desa Barae, Kecamatan Marioriwawo, Senin (14/9/2026).

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala
Editor: Alimuddin

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di sebuah masjid, pembangunan menemukan maknanya yang lain.

Bukan sekadar tentang beton yang mengeras, dinding yang meninggi, atau atap yang menaungi jamaah. Pembangunan, pada akhirnya, juga berbicara tentang manusia—tentang kepedulian yang tumbuh, tangan yang bersedia membantu, dan kebersamaan yang membuat sebuah daerah tetap memiliki jiwa.

Senin, 14 September 2026, suasana itu terasa di Masjid Miftahul Jannah, Dusun Walimpong, Desa Barae, Kecamatan Marioriwawo, Soppeng.

Di tempat itu, masyarakat berkumpul memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Bertepatan dengan 12 Rabiul Awal, masjid dipenuhi jamaah dan tokoh masyarakat untuk mengenang keteladanan Rasulullah SAW melalui lantunan doa, hikmah keagamaan, dan silaturahmi.

Gurutta Prof. (HC). Dr. Muhamad Agus, M.Th.I., hadir menyampaikan tausiah.

Tetapi siang itu bukan sekadar tentang sebuah peringatan yang datang, berlangsung, lalu selesai ketika jamaah meninggalkan masjid.

Ada pesan yang lebih jauh.

Tentang bagaimana agama semestinya menumbuhkan kepedulian. Tentang bagaimana silaturahmi menjadi kekuatan sosial. Dan tentang bagaimana pembangunan daerah tidak semestinya hanya diletakkan di atas pundak pemerintah.

Di antara suasana religius itu, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng menyampaikan pandangannya tentang masa depan Bumi La Temmamala.

Ketika Pembangunan Berangkat dari Kebersamaan

Dari mimbar masjid, Suwardi berbicara tentang Yassisoppengi.

Sebuah semangat yang menempatkan gotong royong dan kepedulian sebagai kekuatan bersama dalam membangun daerah.

“Dengan semangat Yassisoppengi, gotong royong dan kepedulian yang tinggi, kita akan memiliki fondasi yang kokoh untuk bersama-sama membangun Bumi La Temmamala yang kita cintai ini,” tutur Suwardi di hadapan jamaah dan tokoh masyarakat.

Pesan itu terdengar sederhana.

Namun, di ruang ibadah, maknanya menjadi lebih dalam.

Sebab pembangunan tidak selamanya dapat diukur dari panjang jalan yang dibangun, jumlah bangunan yang berdiri, atau besarnya anggaran yang terserap.

Ada pembangunan yang tidak tercatat dalam angka-angka.

Yakni ketika rasa memiliki terhadap daerah tumbuh dalam hati masyarakat. Ketika seseorang merasa bahwa persoalan orang lain adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Ketika gotong royong tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berubah menjadi tindakan.

Dan pada siang itu, gagasan tersebut memperoleh bentuk yang nyata.

Rp50 Juta dari Kepedulian Pribadi

Atas nama pribadi, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng menyerahkan bantuan senilai Rp50 juta untuk pembangunan dan operasional Masjid Miftahul Jannah.

Nilai itu memang dapat ditulis sebagai sebuah angka.

Rp50 juta.

Tetapi di balik angka tersebut terdapat kebutuhan sebuah rumah ibadah untuk terus tumbuh dan melayani jamaahnya.

Bantuan itu menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberadaan masjid sebagai tempat ibadah sekaligus ruang perjumpaan masyarakat.

Di sinilah Yassisoppengi menemukan bentuknya.

Bukan hanya diucapkan dari atas mimbar, tetapi diterjemahkan ke dalam sebuah kepedulian yang konkret.

Bagi sebuah masyarakat, rumah ibadah bukan semata bangunan.

Di sana manusia datang membawa doa. Orang tua menitipkan pendidikan agama bagi anak-anaknya. Warga bertemu, bersalaman, bertukar kabar, dan menjaga hubungan yang mungkin tidak selalu terjalin di luar masjid.

Karena itu, merawat masjid juga berarti merawat salah satu ruang kehidupan masyarakat.

Maulid yang Tidak Berakhir di Hari Itu

Suwardi berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sebagai agenda tahunan.

Baginya, momentum keagamaan semestinya menjadi jembatan silaturahmi yang terus hidup, menumbuhkan nilai-nilai agama, sekaligus mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat.

“Semoga silaturahmi ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT,” ujarnya.

Kalimat itu membawa Maulid keluar dari batas seremoni.

Sebab makna sebuah peringatan keagamaan tidak hanya terletak pada bagaimana acara diselenggarakan, tetapi juga pada apa yang tumbuh setelahnya.

Apakah persaudaraan menjadi lebih kuat.

Apakah kepedulian menjadi lebih luas.

Apakah manusia semakin ringan mengulurkan tangan kepada sesamanya.

Di situlah agama bertemu dengan kehidupan sehari-hari.

Bukan dalam kata-kata yang tinggi, tetapi dalam perbuatan yang sederhana dan nyata.

Masjid yang Mempertemukan Banyak Hati

Kehadiran berbagai unsur masyarakat semakin memperlihatkan wajah lain dari Masjid Miftahul Jannah pada siang itu.

Hadir mantan anggota DPRD Kabupaten Soppeng Drs. Amiruddin, Kepala Desa Barae Eka Sakti, S.Keb., bersama tokoh agama, jajaran majelis taklim, pengurus masjid, dan masyarakat.

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda.

Memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Namun, di dalam masjid, mereka duduk dalam suasana yang sama.

Tidak ada jarak yang perlu dibicarakan panjang.

Sebab masjid sejak awal memang dibangun untuk mempertemukan manusia dengan Tuhan, sekaligus mempertemukan manusia dengan manusia.

Dari ruang seperti itulah kehidupan sosial sering kali menemukan kekuatannya.

Pemerintah membutuhkan masyarakat.

Masyarakat membutuhkan pemerintah.

Dan keduanya membutuhkan nilai-nilai yang menjaga agar kekuasaan maupun kepentingan tidak kehilangan arah kemanusiaannya.

Di Antara Kemajuan dan Nurani

Soppeng tentu membutuhkan pembangunan fisik.

Jalan, fasilitas publik, pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan berbagai kebutuhan masyarakat harus terus diperjuangkan.

Namun kemajuan yang hanya mengejar bentuk fisik akan mudah kehilangan makna apabila manusia yang berada di dalamnya dilupakan.

Sebuah daerah tidak hanya membutuhkan bangunan yang kokoh.

Ia juga membutuhkan masyarakat yang saling menjaga.

Tidak hanya membutuhkan program.

Ia membutuhkan kepedulian.

Tidak hanya membutuhkan pemimpin.

Ia membutuhkan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.

Peristiwa di Masjid Miftahul Jannah mungkin tampak sederhana jika dilihat dari luasnya agenda pembangunan Kabupaten Soppeng.

Tetapi justru dalam peristiwa-peristiwa sederhana semacam itulah karakter sebuah masyarakat sering kali terlihat.

Yassisoppengi menjadi berarti ketika ia hidup dalam tindakan.

Ketika gotong royong menjadi kebiasaan.

Ketika kepedulian tidak menunggu diminta.

Dan ketika bantuan tidak sekadar dilihat sebagai nominal, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan bersama.

Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang apa yang dapat didirikan oleh pemerintah.

Pembangunan juga tentang apa yang dapat dirawat bersama.

Masjid Miftahul Jannah menjadi saksi kecil dari pesan itu.

Di bawah kubahnya, sebuah peringatan Maulid mempertemukan agama, kepemimpinan, silaturahmi, dan kepedulian sosial dalam satu ruang.

Di sana, Yassisoppengi tidak sekadar menjadi ungkapan.

Ia menemukan ruhnya dalam kebersamaan.

Sebab ketika manusia bersedia berbagi untuk kebaikan, ketika pemimpin hadir bersama masyarakat, dan ketika kemajuan berjalan seiring dengan nilai-nilai spiritual, pembangunan tidak lagi hanya membangun tempat.

Ia membangun manusia.

Dan dari manusia-manusia yang saling peduli itulah, sebuah daerah menemukan kekuatan untuk melangkah lebih jauh, dengan tangan yang bekerja, hati yang berbagi, dan nurani yang tetap mengingat Tuhan.

Fakta diberitakan.
Manusia dimuliakan.
Nurani dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *