Dari Watampone, Firman Jamil Menyeberangi Dunia Lewat Seni

BUDAYA DAN SENI122 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Alimuddin

SUARA PALAPA, MAKASSAR — Seni rupa bukan sekadar olah bentuk dan warna, melainkan bahasa universal yang melintasi sekat wilayah, budaya, hingga benua. Dari tanah kelahirannya di Watampone, Kabupaten Bone, seniman kontemporer Firman Djamil terus menorehkan jejak rekam artistik yang berani, mendalam, dan sarat akan narasi kebudayaan Bugis di panggung internasional.

Lahir di Bone pada tahun 1964, pertiwi Watampone tidak hanya menjadi tempatnya menempa masa kecil, tetapi juga persemaian awal bakat seninya. Saat menempuh pendidikan di SMA Negeri 156 Watampone dan duduk di bangku kelas IPS 5 hingga kelulusannya pada tahun 1983, Firman menyerap banyak inspirasi. Di almamater inilah spirit seni lukisnya terpantik tajam melalui bimbingan dan gairah seni dari sang guru Seni Rupa, Andi Youshan F.A. Fondasi keperintisan itulah yang kelak membawanya melangkah jauh menembus batas-batas seni rupa global.

Momentum gairah berkarya itu kini kembali menyapa publik akademis dan pencinta seni lokal. Pada Rabu, 23 September 2026, pameran seni karya Firman Djamil resmi digelar di Aula Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Perhelatan ini menjadi panggung reflektif yang mempertemukan ide-ide besar kebudayaan lokal dengan diskursus sains, agama, dan filsafat modern.

Sleeping Cactus: Narasi Filosofis dan Batas Suci Bissu

Salah satu karya terbarunya di tahun 2026 yang turut menjadi sorotan utama dalam pameran ini adalah “SLEEPING CACTUS”. Karya senirupa dimensional ini menampilkan dua batang potongan kaktus sepanjang 75 cm yang disusun berbaring sejajar. Bagian bawahnya diikat dan dibalut kain putih bertorehkan bercak merah darah, disajikan di atas wadah kotak berukuran 70 x 70 cm bertuliskan aksara Bugis, gambar Alosu, serta narasi Bissu-Ugi-I LA GALIGO.

Secara visual, perpaduan bentuk geometris kaktus yang hijau pekat, berstruktur tebal, dan ditumbuhi duri-duri kaku menciptakan harmoni visual yang dramatis. Namun di balik estetika tersebut, Sleeping Cactus menyimpan metafora kritis.

Melalui karya ini, Firman Djamil menegaskan garis batas yang tegas antara identitas gender spiritual dalam Epos I La Galigo—yakni Bissu—dengan fenomena sosial modern LGBT/kaum pelangi.

“Bissu dalam Epos I La Galigo bukanlah fenomena orientasi seksual, apalagi orientasi seksual menyimpang. Bissu adalah identitas gender spiritual yang suci, penghubung antara langit dan bumi yang melampaui dikotomi laki-laki dan perempuan,” tegas Firman dalam deskripsi kuratorial karyanya.

Firman mengingatkan bahwa menjadi Bissu bukanlah pilihan gaya hidup atau orientasi pribadi. Seseorang harus melewati panggilan spiritual (irebba), menguasai bahasa dewa (Torilangi), serta lolos dari berbagai ritual pembuktian kesaktian yang berat.

Menatap Fenomena Zaman dan Pergeseran Global

Dalam karya Sleeping Cactus, Firman juga merekam dinamika zaman. Tanaman kaktus, simbol ketahanan ekstrem yang mampu bertahan tanpa air, dijadikan simbol metaforis atas pilihan hidup berpasangan sesama jenis yang marak di era urban modern.

Karya ini mempertemukan berbagai sudut pandang global yang saling bersinggungan:

  • Perspektif Teologis & Eskatologi: Normalisasi hubungan sesama jenis kerap dipandang sebagai bentuk kemerosotan moral penanda akhir zaman, merujuk pada histori peninggalan kaum Nabi Luth (Sodom).
  • Perspektif Diskursus & Konspirasi: Sudut pandang geopolitik alternatif yang menyoroti wacana pengurangan populasi (depopulation) serta pelemahan institusi keluarga tradisional.
  • Perspektif Hak Asasi & Sains: Pandangan dunia internasional, sains, dan hukum modern yang menempatkannya dalam bingkai kesetaraan HAM serta perlindungan terhadap kelompok minoritas.

Kehadiran pameran Firman Djamil di Aula UIN Alauddin Makassar hari ini menegaskan kembali kapasitasnya sebagai seniman kelahiran Watampone yang tidak hanya membawa kebanggaan daerah ke kancah global, tetapi juga membuktikan bahwa tradisi dan Epos I La Galigo tetap relevan sebagai panduan kritis dalam membaca dinamika dunia modern.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *