Ketika Tongkat Amanah Berpindah di Tanah Sutera

POLRI183 Dilihat

ILUSTRASI

Essay News SUARA PALAPA

Oleh: Sabri

SUARA PALAPA, WAJO—Jarum jam baru melewati pukul sembilan pagi ketika dua tangan itu bertemu di halaman Mapolres Wajo, Jumat, 31 Juli 2026. Tidak ada tepuk tangan yang riuh. Yang terdengar hanya aba-aba upacara, desir angin yang mengibaskan daun-daun tua, dan tatapan puluhan personel yang memahami bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pergantian seorang pejabat.

Di antara dua genggaman tangan itu, sesungguhnya berpindah sebuah amanah.

Jabatan memang tidak memiliki jiwa. Namun, setiap jabatan selalu membawa harapan banyak orang. Ia berpindah dari satu bahu ke bahu yang lain, dari seorang pemimpin yang telah menyelesaikan tugasnya kepada seorang pemimpin yang baru saja memulai perjalanan panjang yang belum tentu mudah.

Begitulah pagi itu di Tanah Wajo.

AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., berdiri menyambut penggantinya, AKBP Diouglas Mahendrajaya, S.H., S.I.K., M.I.K., M.Tr.Opsla. Tidak tampak ekspresi berlebihan. Yang terlihat justru ketenangan, ketenangan seorang pemimpin yang tahu bahwa setiap pengabdian mempunyai batas waktu, dan setiap batas waktu adalah bagian dari ketetapan Tuhan.

Dalam tradisi Bugis, kehormatan tidak selalu diukur dari lamanya seseorang memimpin, melainkan dari jejak yang ditinggalkan setelah ia pergi.

Mungkin itulah sebabnya prosesi penyambutan berlangsung begitu sarat simbol. Kalungan bunga dikenakan dengan penuh hormat. Tari Padduppa mengalun lembut, menghadirkan pesan tua yang diwariskan leluhur: tamu dimuliakan bukan karena kekuasaannya, melainkan karena ia membawa amanah yang harus dihormati.

Tradisi menjadi bahasa yang kadang lebih fasih daripada pidato.

Di balik seragam dinas yang dikenakan para perwira, ada wajah-wajah manusia yang sedang menjalani pergulatan batin. Sebab, setiap perpindahan jabatan selalu menyisakan dua ruang yang berbeda: ruang syukur karena mendapat kepercayaan, dan ruang haru karena harus meninggalkan keluarga besar yang telah bertahun-tahun berjalan bersama.

Menjelang siang, Aula Sandi Polres Wajo berubah menjadi ruang kenangan.

Di sana, kalimat-kalimat perpisahan tidak lagi terdengar sebagai formalitas birokrasi. Setiap ucapan terima kasih membawa potongan-potongan cerita yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam laporan resmi. Tentang malam-malam panjang ketika menjaga keamanan daerah. Tentang keputusan-keputusan sulit yang harus diambil dalam hitungan detik. Tentang keluarga yang sering kali harus rela berbagi waktu dengan tugas negara.

Tidak semua pengabdian tercatat dalam arsip.

Sebagiannya tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja bersama.

Ketika vokal grup Bhayangkari melantunkan lagu perpisahan, beberapa mata mulai berkaca. Bukan karena jabatan itu hilang. Jabatan memang akan selalu datang dan pergi. Yang membuat haru adalah hubungan kemanusiaan yang selama ini tumbuh di balik organisasi yang dikenal tegas dan disiplin.

Di institusi seperti Kepolisian, loyalitas dibangun bukan hanya oleh aturan, melainkan juga oleh rasa saling percaya.

Kasi Humas Polres Wajo, IPTU Kaomi, S.H., menyebut kegiatan kenal pamit sebagai tradisi organisasi untuk menghormati pejabat lama sekaligus menyambut pejabat baru. Tradisi itu, menurutnya, diharapkan memperkuat soliditas internal dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Kalimat itu sederhana.

Namun di baliknya tersimpan filosofi penting: institusi yang kuat tidak dibangun oleh satu tokoh, melainkan oleh kesinambungan nilai yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sore datang perlahan.

Matahari mulai condong ke barat ketika prosesi Pedang Pora mengantar langkah terakhir AKBP Muhammad Rosid Ridho meninggalkan Mapolres Wajo. Pedang-pedang yang terangkat membentuk lorong kehormatan seolah menjadi metafora perjalanan hidup: setiap orang akan memasuki gerbang tugasnya, lalu suatu hari akan keluar melalui gerbang yang sama, hanya dengan cerita yang berbeda.

Pukul 16.05 Wita, kendaraan yang membawa beliau beserta keluarga perlahan meninggalkan halaman Mapolres.

Tidak ada yang benar-benar berakhir.

Yang berakhir hanyalah satu bab.

Bab berikutnya baru saja dimulai.

Kini, layar pengabdian berada di tangan AKBP Diouglas Mahendrajaya. Tantangan keamanan Wajo tentu tidak akan semakin ringan. Dinamika masyarakat terus berubah. Teknologi berkembang cepat. Harapan publik terhadap Polri pun semakin tinggi.

Namun, seperti air yang terus mengalir melewati Sungai Walanae menuju Danau Tempe, estafet kepemimpinan tidak pernah berhenti pada satu nama.

Ia terus bergerak.

Terus mencari orang-orang yang bersedia mengabdikan tenaga, pikiran, bahkan waktu bersama keluarganya demi rasa aman masyarakat.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah pakaian yang suatu hari akan dilepas.

Yang tetap tinggal adalah integritas.

Yang dikenang bukan kursi yang pernah diduduki, melainkan keteduhan yang pernah dihadirkan.

Dan ketika sejarah kecil Polres Wajo menuliskan hari itu sebagai hari pergantian Kapolres, masyarakat mungkin akan mengingatnya dengan cara yang lebih sederhana:

Ada seorang pemimpin yang pergi meninggalkan doa. Ada seorang pemimpin yang datang membawa harapan. Di antara keduanya, amanah tetap berjalan, karena negeri ini tidak pernah boleh kehilangan orang-orang yang bersedia mengabdi dengan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *