Keterangan Foto:
Personel Polsek Belawa bersama petugas Pemadam Kebakaran dan warga berjibaku memadamkan kebakaran yang menghanguskan rumah panggung milik Muh. Jalil di Dusun Tippulu, Desa Sappa, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Sabtu (1/8/2026). Berkat respons cepat seluruh unsur di lapangan, api berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa, sementara polisi masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik. (Foto: Dok Humas Polres Wajo)
FEATURE NEWS | SUARA PALAPA
Oleh: Sabri
SUARA PALAPA, WAJO — Api selalu datang tanpa mengetuk pintu. Ia menyala dalam sekejap, melahap apa yang bertahun-tahun dibangun dengan peluh dan doa. Namun, di balik kobaran itu, selalu ada tangan-tangan yang bergegas menolong, hati-hati yang bersatu, dan harapan yang enggan padam.
Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 09.30 Wita, langit Dusun Tippulu, Desa Sappa, Kecamatan Belawa, mendadak berubah muram. Kepulan asap hitam membubung tinggi dari sebuah rumah panggung milik Muh. Jalil (48). Rumah yang selama ini menjadi tempat beristirahat di kawasan usaha somel kayu itu perlahan dikepung lidah api.
Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh Mail (43), seorang pekerja yang sedang membersihkan mesin somel. Dari kejauhan ia melihat asap pekat mengepul. Ketika berlari naik ke rumah, api telah lebih dahulu menguasai dinding-dinding kayu.
Dalam situasi yang serba cepat, Mail mengambil keputusan yang tepat. Ia memutus aliran listrik dengan mematikan meteran, lalu segera menghubungi Muh. Jalil. Tak lama kemudian, laporan diteruskan kepada petugas Pemadam Kebakaran Sektor Belawa.
Tak berselang lama, sirene kendaraan pemadam memecah kesunyian kampung. Personel Damkar bersama warga berjibaku melawan bara yang terus mengganas, sementara personel Polsek Belawa turut mengamankan lokasi agar proses pemadaman berjalan lancar.
Sekitar pukul 10.30 Wita, kobaran api akhirnya berhasil dijinakkan. Asap masih mengepul, aroma kayu terbakar masih menyisakan duka, tetapi setidaknya api tidak sempat merenggut nyawa.
Kapolsek Belawa, IPTU Awal Syahrani, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan awal di lokasi, kebakaran diduga dipicu oleh hubungan arus pendek listrik.
“Saat kejadian terdapat sebuah charger telepon seluler yang masih terpasang pada stop kontak. Dugaan sementara kebakaran dipicu korsleting listrik, namun penyebab pastinya masih kami dalami melalui pemeriksaan dan olah TKP,” ujarnya.
Akibat kejadian tersebut, rumah panggung mengalami kerusakan cukup parah dengan kerugian materi diperkirakan mencapai Rp40 juta. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun korban luka.
Usai menerima laporan, personel Polsek Belawa segera mendatangi lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memasang garis polisi, serta mengumpulkan sejumlah keterangan guna memastikan penyebab pasti kebakaran.
Di tengah musibah itu, terlihat wajah-wajah yang tidak saling mengenal lelah. Ada petugas pemadam yang terus menyemburkan air, polisi yang mengatur keamanan, serta warga yang bahu-membahu membantu sebisanya. Musibah seakan mengajarkan bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya ketika kepedulian dipanggil.
IPTU Awal Syahrani kemudian mengingatkan masyarakat agar menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bersama. Menurutnya, banyak kebakaran bermula dari kelalaian kecil yang sebenarnya dapat dicegah.
Ia mengimbau masyarakat rutin memeriksa instalasi listrik, kabel, stop kontak, serta peralatan elektronik di rumah. Kabel yang rusak atau sambungan listrik yang tidak layak hendaknya segera diperbaiki. Warga juga diminta tidak menggunakan terlalu banyak colokan pada satu sumber listrik karena dapat memicu panas berlebih.
Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak meninggalkan rumah ketika peralatan elektronik masih tersambung dengan aliran listrik. Kompor, charger, maupun perangkat elektronik lainnya harus dipastikan dalam keadaan aman sebelum rumah ditinggalkan.
“Yang paling penting adalah kewaspadaan bersama. Jika melihat asap atau api, segera lakukan tindakan awal yang aman dan laporkan kepada petugas agar api tidak meluas,” pesan Kapolsek.
Musibah memang tak pernah memilih waktu. Namun, ikhtiar, kepedulian, dan kewaspadaan adalah anugerah yang selalu dapat dipilih manusia.
Di Dusun Tippulu, rumah panggung itu boleh saja kehilangan sebagian wujudnya. Tetapi semangat gotong royong yang hadir pagi itu justru memperlihatkan bahwa ketika satu keluarga diuji, seluruh kampung ikut menjaga. Sebab pada akhirnya, bukan hanya rumah yang berhasil diselamatkan dari amukan api, melainkan juga keyakinan bahwa di balik setiap cobaan, Allah selalu menghadirkan tangan-tangan yang menjadi jalan pertolongan.






