Bunyi Mesin Jahit, Jalan Panjang ke Senayan

PROFIL177 Dilihat

FEATURE SUARA PALAPA

Oleh: Alimuddin
Pemimpin Redaksi Palapa Media Group

Jarum itu bergerak naik-turun, menembus lipatan kain yang terbentang di atas meja kayu. Bunyinya berirama, cepat, lalu melambat, kemudian kembali berpacu mengikuti tekanan kaki pada pedal mesin jahit. Di ruang sederhana itulah, bertahun-tahun silam, seorang pemuda asal Kabupaten Soppeng belajar membaca arti kehidupan.

Bukan dari pidato.

Bukan pula dari ruang rapat.

Melainkan dari selembar kain yang harus diselesaikan dengan teliti agar layak dikenakan orang lain.

Di sana, jauh sebelum namanya dikenal dalam dunia politik nasional, Dr. H. Muh. Aras, S.Pd., M.M. pernah menjadi seorang tukang jahit.

Barangkali, sejarah memang kerap memulai kisah-kisah besarnya dari ruang yang nyaris tak diperhatikan.

Di Sulawesi Selatan, merantau bukan sekadar berpindah tempat. Ia adalah laku budaya. Meninggalkan kampung halaman berarti meninggalkan kenyamanan untuk menguji harga diri di tanah orang.

Muh. Aras memilih jalan itu.

Dari Soppeng, ia menuju Makassar membawa bekal yang tak banyak selain keberanian bekerja. Menjahit menjadi salah satu cara bertahan hidup. Profesi yang mengajarkan kesabaran, karena setiap helai benang yang putus harus disambung kembali, setiap kesalahan jahitan harus dibongkar sebelum diperbaiki.

Tak ada tepuk tangan bagi seorang penjahit.

Yang ada hanyalah kepuasan ketika hasil kerjanya selesai dengan rapi.

Nilai-nilai semacam itulah yang acap kali membentuk karakter seseorang, jauh sebelum masyarakat mengenalnya melalui jabatan.

Di sela-sela perjuangan mencari nafkah, pendidikan tetap berjalan.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan di Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Makassar. Langkah itu dilanjutkan dengan Magister Manajemen di Universitas Hasanuddin (Unhas), sebelum akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Negeri Makassar pada 2019.

Bagi sebagian orang, gelar akademik adalah pencapaian pribadi.

Namun bagi mereka yang menempuhnya sambil berjuang memenuhi kebutuhan hidup, setiap ijazah sering kali menyimpan cerita yang tidak tertulis: malam-malam yang dipakai belajar, waktu yang dibagi antara pekerjaan dan ruang kuliah, serta keyakinan bahwa ilmu adalah jalan panjang untuk memperluas pengabdian.

Perjalanan itu kemudian memasuki ruang yang berbeda.

Muhammad Aras pernah mengabdikan diri sebagai dosen di IAIN Bone. Dunia pendidikan memberinya kesempatan berbagi pengetahuan sekaligus menyaksikan bagaimana generasi muda membangun harapan.

Sesudahnya, politik menjadi jalan pengabdian berikutnya.

Di internal Partai Persatuan Pembangunan, ia dipercaya memimpin DPW PPP Sulawesi Selatan. Amanah itu mengantarnya mengikuti kontestasi Pemilu 2019 hingga terpilih sebagai anggota DPR Republik Indonesia mewakili Sulawesi Selatan II.

Di Komisi V DPR RI, ia menangani bidang yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung: pembangunan infrastruktur, transportasi, daerah tertinggal, transmigrasi, hingga urusan meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Bagi masyarakat, jalan raya, jembatan, pelabuhan, maupun sarana transportasi bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan harapan dengan kesempatan hidup yang lebih baik.

Namun setiap perjalanan menuju ruang kekuasaan selalu menyimpan ujian yang sama.

Seberapa jauh seseorang mampu menjaga nilai-nilai yang dahulu membesarkannya?

Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada Muh. Aras. Ia berlaku bagi setiap orang yang menerima amanah publik.

Sebab jabatan pada akhirnya hanyalah persinggahan.

Yang menetap adalah rekam jejak.

Publik akan mengingat bukan semata-mata berapa lama seseorang menduduki kursi kekuasaan, melainkan apa yang ditinggalkan setelah masa jabatan berakhir.

Mungkin karena itulah kisah seorang mantan tukang jahit selalu memiliki daya tarik tersendiri.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu bergerak lurus. Jalan menuju ruang pengabdian dapat berawal dari tempat yang sederhana, dari pekerjaan yang jauh dari sorotan, dari tangan yang terbiasa bekerja sebelum terbiasa melambaikan salam kepada khalayak.

Dalam tradisi Bugis dikenal petuah, “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata”, hanya kerja keras yang sungguh-sungguh yang mengundang rahmat Tuhan.

Petuah itu tidak menjanjikan kemudahan. Ia hanya mengajarkan bahwa setiap ikhtiar harus disertai kesabaran, kejujuran, dan doa.

Pada akhirnya, sejarah bukan sekadar mencatat siapa yang pernah memegang jabatan.

Sejarah lebih lama mengingat mereka yang mampu menjadikan jabatan sebagai jalan pengabdian.

Dan barangkali, di antara riuh perdebatan politik yang silih berganti, bunyi mesin jahit dari masa lalu itu masih terdengar lirih, mengingatkan bahwa amanah sebesar apa pun selalu dijahit oleh benang-benang integritas. Ketika benang itu tetap utuh, kepercayaan pun akan bertahan. Tetapi ketika ia putus, nama besar tidak lagi cukup untuk menambalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *