Di Ujung Waktu, Silaturahmi Menemukan Jalannya Kembali

UCAPAN SELAMAT128 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE INMEMORIUM PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Ada perjumpaan yang hanya berlangsung beberapa saat, tetapi kenangannya mampu menetap puluhan tahun. Ada nama yang lama tak terdengar, namun ketika kembali disebut, seketika masa lalu terasa begitu dekat, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan.

Begitulah silaturahmi.

Ia bukan sekadar pertemuan antara dua manusia. Ia adalah jembatan yang kadang dibangun oleh kenangan, disambungkan oleh teknologi, lalu dipertemukan kembali oleh takdir Allah SWT.

Pada Ahad, 23 Agustus 2026, usia Arbainah L genap 55 tahun. Hari itu bukan hanya tentang bertambahnya angka pada perjalanan usia. Lebih dari itu, ia menjadi kesempatan untuk menengok kembali jejak kehidupan: tentang masa sekolah, persahabatan, keluarga, dan orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan panjang kehidupan.

Di antara mereka yang kembali menemukan jejak itu adalah Pemimpin Redaksi Palapa Media Group, Alimuddin.

Bagi Alimuddin, Arbainah bukan sekadar nama yang muncul di layar telepon atau media sosial. Ia adalah bagian dari kenangan lama di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebuah kenangan yang berawal dari ruang kelas, ketika keduanya berada dalam posisi yang berbeda: seorang guru dan seorang siswi.

Dari Ruang Kelas Muara Badak

Tahun 1987.

Ketika itu Alimuddin masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) dan mengajar Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Muara Badak. Di antara para siswa yang tekun mengikuti pelajaran terdapat Arbainah, siswi kelas II B.

Masa itu masih sederhana.

Seragam putih-biru, ruang kelas, buku pelajaran, papan tulis, dan suara guru yang menjelaskan pelajaran menjadi bagian dari keseharian. Tidak ada Facebook. Tidak ada WhatsApp. Bahkan telepon genggam pun belum menjadi bagian dari kehidupan manusia seperti sekarang.

Yang ada hanyalah perjumpaan nyata.

Wajah-wajah yang saling dikenal. Suara yang terdengar setiap hari. Dan kenangan yang tanpa disadari sedang ditanam untuk tumbuh puluhan tahun kemudian.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 1 Muara Badak pada sekitar 1987/1988, Arbainah melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya di Kota Samarinda.

Jalan kehidupan kemudian membawa masing-masing menuju arah yang berbeda.

Arbainah menapaki kehidupan bersama keluarga di Samarinda. Sementara Alimuddin menjalani perjalanan panjang dalam dunia pendidikan, jurnalistik, dan pengabdian masyarakat hingga kemudian menetap dan beraktivitas di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Jarak pun terbentang.

Muara Badak dan Soppeng berada di dua pulau yang berbeda. Ribuan kilometer memisahkan ruang kehidupan mereka.

Namun, ada sesuatu yang tidak mengenal jarak: kenangan.

Ketika Teknologi Menjadi Jembatan Takdir

Puluhan tahun berlalu.

Dunia berubah. Cara manusia berkomunikasi pun berubah.

Facebook dan WhatsApp menghadirkan kembali wajah-wajah lama yang pernah hilang dari pandangan. Nama-nama yang dahulu hanya tersimpan dalam ingatan kembali muncul dalam daftar pertemanan.

Silaturahmi lama menemukan jalannya.

Tahun 2022 menjadi salah satu titik pertemuan kembali itu.

Ketika Alimuddin melakukan kunjungan ke Samarinda dalam kapasitasnya sebagai Ketua PWI Kabupaten Soppeng, kabar keberadaannya di kota itu tersebar melalui media sosial.

Arbainah mengetahui kabar tersebut.

Telepon pun berdering.

Pak, saya Arbainah. Ketika di SMP Negeri Muara Badak dulu, sekitar tahun 1987, Bapak guru Bahasa Inggris kami di kelas II B,” sapa Arbainah, sebagaimana dikenang kembali dalam perjumpaan itu.

Sejenak, masa lalu seperti mengetuk pintu ingatan.

Oh ya, saya ingat. Sekarang ananda di mana?” tanya Alimuddin.

“Saya di rumah, Pak. Nanti saya kirim lokasi melalui Google Maps. Kita bertemu di warung makan saya di Samarinda,” jawab Arbainah.

Sebuah percakapan sederhana.

Namun dari percakapan sederhana itulah sebuah perjumpaan yang telah tertunda puluhan tahun akhirnya menemukan jalannya.

Secangkir Kopi dan Kenangan Putih-Biru

Hari itu, pertemuan berlangsung hangat.

Alimuddin datang bersama Darwis, anggota PWI dari Soppeng. Di sana telah menunggu Arbainah bersama kakaknya.

Mereka bertemu di warung makan milik Arbainah.

Makanan tersaji. Kopi menemani percakapan.

Tetapi sesungguhnya yang paling banyak tersaji hari itu bukanlah makanan, melainkan kenangan.

Percakapan bergerak dari satu cerita ke cerita lainnya. Tentang kehidupan hari ini. Tentang keluarga. Tentang pendidikan. Tentang Muara Badak. Tentang Samarinda. Dan tentu saja tentang masa ketika seragam putih-biru masih menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Masa lalu yang telah berjarak puluhan tahun terasa kembali dekat.

Tidak ada kemewahan dalam pertemuan itu.

Hanya sebuah warung makan, percakapan sederhana, secangkir kopi, dan manusia-manusia yang pernah dipertemukan oleh perjalanan hidup.

Namun justru di situlah keindahannya.

Sebab persahabatan yang tulus tidak membutuhkan panggung yang megah untuk kembali menyala.

Setelah pertemuan di warung makan, percakapan berlanjut di kediaman Arbainah di Samarinda.

Hari itu menjadi salah satu halaman kecil yang indah dalam buku besar kehidupan mereka.

Usia Bertambah, Silaturahmi Jangan Berkurang

Kini, Arbainah telah memasuki usia 55 tahun.

Setengah abad lebih perjalanan hidup tentu bukan waktu yang singkat. Di dalamnya terdapat suka dan duka, keberhasilan dan ujian, perjumpaan dan perpisahan, tawa dan air mata.

Namun usia pada akhirnya bukan sekadar angka.

Usia adalah kesaksian.

Kesaksian tentang berapa banyak waktu yang telah Allah SWT titipkan. Berapa banyak manusia yang pernah hadir. Berapa banyak kebaikan yang telah dilakukan. Dan berapa banyak hati yang masih bersedia membuka pintu silaturahmi.

Karena itu, ulang tahun tidak semestinya hanya menjadi perayaan bertambahnya usia.

Ia adalah momentum untuk bersyukur.

Bahwa Allah masih memberikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Masih memberi kesehatan untuk menjalani hari. Masih menghadirkan sahabat lama. Dan masih membuka pintu silaturahmi yang dahulu mungkin sempat tertutup oleh jarak dan kesibukan.

Dari Soppeng, Sulawesi Selatan, doa itu pun disampaikan kepada Arbainah di Samarinda, Kalimantan Timur.

Atas nama keluarga besar Palapa Media Group, Pemimpin Redaksi Alimuddin bersama seluruh wartawan dan staf redaksi menyampaikan:

Selamat ulang tahun ke-55 kepada Ibu Arbainah Makmur.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, keberkahan usia, kebahagiaan bersama keluarga, kemudahan dalam setiap urusan, serta ketenteraman dalam menjalani kehidupan.

Semoga setiap langkah senantiasa berada dalam lindungan dan ridha-Nya.

Dan semoga tali silaturahmi yang telah terjalin sejak masa putih-biru, kemudian kembali dipertemukan oleh perjalanan panjang kehidupan, tetap terjaga hingga akhir hayat.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Karena Kenangan Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Pada akhirnya, manusia mungkin lupa tanggal sebuah pertemuan. Bisa saja lupa percakapan yang pernah berlangsung. Bahkan wajah-wajah yang dahulu begitu akrab perlahan dapat memudar dalam ingatan.

Tetapi kebaikan memiliki caranya sendiri untuk bertahan.

Ia tinggal di hati.

Dan silaturahmi adalah salah satu bentuk kebaikan yang tidak mengenal usia.

Dari Muara Badak menuju Samarinda. Dari Kalimantan Timur menuju Soppeng di Sulawesi Selatan. Dari ruang kelas sederhana tahun 1987 hingga perjumpaan kembali pada zaman digital puluhan tahun kemudian.

Jarak ternyata tidak selalu memisahkan.

Kadang jarak justru mengajarkan manusia betapa berharganya sebuah pertemuan.

Sebab pada setiap perjumpaan, ada kehendak Allah SWT yang bekerja dalam diam.

Dan pada setiap silaturahmi yang kembali terjalin, ada pesan sederhana yang layak kita renungkan:

Usia boleh bertambah, waktu boleh berlalu, jarak boleh membentang. Tetapi selama hati masih membuka pintu, persaudaraan akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *