Dari Magrib ke Malam: Merawat Iman dan Silaturahmi di Paroto

SYI'AR ISLAM28 Dilihat

Keterangan Gambar:

Seorang penceramah menyampaikan tausiyah dalam rangkaian Safari Magrib Mengaji Tingkat Kecamatan Lilirilau di Masjid Nurul Huda Batuasange, Desa Paroto, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperdalam wawasan keagamaan, mempererat silaturahmi, sekaligus menyampaikan pesan-pesan kamtibmas kepada masyarakat. (Foto: Dokumentasi)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Muhammad Tang

SUARA PALAPA, SOPPENG — Ketika azan Magrib memanggil manusia meninggalkan kesibukan dunia, sebuah masjid di Desa Paroto, Kecamatan Lilirilau, menjadi tempat berkumpulnya hati-hati yang ingin kembali mengingat Tuhan.

Di Masjid Nurul Huda Batuasange, Selasa malam, 11 Agustus 2026, lantunan doa, nasihat keagamaan, dan silaturahmi menyatu dalam kegiatan Safari Magrib Mengaji Tingkat Kecamatan Lilirilau.

Bukan sekadar agenda rutin. Di sana, waktu selepas Magrib seolah menemukan makna yang lebih dalam: menghidupkan masjid, menyambung persaudaraan, sekaligus menghadirkan ruang belajar agama bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut digelar secara rutin setiap bulan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Al-Qur’an (LP2A) Kecamatan Lilirilau bekerja sama dengan pemerintah kecamatan, unsur TNI-Polri, pemerintah desa dan kelurahan se-Kecamatan Lilirilau.

Ketua Tim Magrib Mengaji, H. Herman, bersama Sekretaris Hj. Kartini, S.Ag., turut mengatur jadwal kegiatan yang menjangkau berbagai wilayah, dari pusat kecamatan hingga pelosok desa.

Ada tujuan yang sederhana, tetapi bernilai besar: memberikan tambahan wawasan keagamaan kepada masyarakat, termasuk mereka yang tidak memperoleh kesempatan belajar agama melalui pendidikan formal secara memadai.

Sebab pengetahuan agama tidak semestinya berhenti di ruang-ruang sekolah. Ia perlu tumbuh di masjid, di tengah keluarga, dalam majelis taklim, dan melalui perjumpaan antarmanusia yang dilandasi ketulusan.

Dari masjid ke masjid, Safari Magrib Mengaji juga menjadi jembatan silaturahmi antara pemerintah, tokoh agama, pendidik, masyarakat, dan kelompok majelis taklim. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, perjumpaan semacam itu menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak hanya dibangun oleh jalan dan bangunan, tetapi juga oleh hubungan baik antarsesama.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek Lilirilau AKP Aidil Akbar menyampaikan imbauan kamtibmas dari Kapolres Soppeng.

Pesan itu terutama ditujukan kepada keluarga. Orang tua diingatkan agar senantiasa memberikan perhatian dan pengawasan kepada putra-putrinya, termasuk dalam penggunaan telepon genggam dan media sosial.

Teknologi, di satu sisi, membuka jendela pengetahuan. Namun tanpa pendampingan, ruang digital juga dapat membawa anak-anak dan remaja kepada berbagai pengaruh yang tidak diinginkan.

Karena itu, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan menyerahkan mereka kepada sekolah. Rumah tetap menjadi madrasah pertama, sementara orang tua adalah penjaga pertama yang mengenali arah langkah anak-anaknya.

Malam itu, tausiyah disampaikan Al-Ustadz H. Ismail Marzuki Al-Bugizi, S.Ag., dari Kabupaten Wajo.

Pesan-pesan keagamaan menjadi inti dari pertemuan tersebut. Bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk menghidupkan kesadaran bahwa ilmu yang baik semestinya melahirkan akhlak yang baik.

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Lilirilau, K.M. H. Alimuddin, S.Ag., M.Hi., bersama para penyuluh agama; Kepala Desa Paroto Makmur, S.Ip., bersama Ketua Tim Penggerak PKK Desa Paroto; serta tokoh agama, pendidik dan tokoh masyarakat.

Setelah rangkaian kegiatan, seusai salat Isya, jamaah melanjutkan dengan zikir bersama yang dipandu K.M. H. Alimuddin.

Dalam hening zikir, suasana masjid seperti menemukan bahasa yang tidak membutuhkan banyak kata. Manusia kembali mengingat bahwa di balik segala urusan dunia, ada kehidupan batin yang juga perlu dirawat.

Malam kemudian ditutup dengan santap bersama.

Barangkali hidangan itu sederhana. Namun kebersamaan yang lahir di atasnya menyimpan makna yang tidak sederhana. Sebab ketika manusia duduk bersama tanpa sekat, berbagi makanan dan percakapan, silaturahmi tumbuh menjadi sesuatu yang nyata.

Safari Magrib Mengaji di Paroto akhirnya bukan hanya tentang perjalanan dari satu masjid ke masjid lainnya.

Ia adalah ikhtiar kecil untuk merawat cahaya di tengah masyarakat: cahaya ilmu, cahaya persaudaraan, dan cahaya kepedulian.

Sebab masjid tidak hanya tempat manusia bersujud. Ia juga tempat manusia belajar menjadi manusia—lebih mengenal Tuhannya, lebih peduli kepada sesamanya, dan lebih berhati-hati menjaga generasi yang akan meneruskan perjalanan kehidupan.

Dan mungkin, dari setiap Magrib yang dihidupkan dengan ilmu dan zikir, ada harapan yang perlahan tumbuh: semoga masyarakat tetap memiliki tempat untuk pulang ketika dunia terasa terlalu bising.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *