Maulid dan Keteladanan: Ketika Polisi Hadir di Tengah Masyarakat

SYI'AR ISLAM13 Dilihat

Keterangan Gambar: Kapolsek Marioriawa AKP H. Musmulyadi, S.Pd.I., bersama unsur pemerintah, tokoh masyarakat dan jamaah menghadiri Peringatan Maulid Akbar tingkat Kecamatan Marioriawa di Lapangan Lade Welonge, Desa Laringgi, Rabu (23/9/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)

Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SOPPENG — Malam itu, Lapangan Lade Welonge bukan sekadar ruang berkumpul. Di bawah cahaya yang menerangi panggung dan wajah-wajah jamaah, masyarakat Marioriawa merawat sebuah ingatan yang telah berabad-abad menjadi sumber teladan: kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M tingkat Kecamatan Marioriawa, di Desa Laringgi, Rabu, 23 September 2026, mempertemukan unsur pemerintah, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, majelis ta’lim dan warga dalam satu ruang silaturahmi.

Tema yang diusung—“Meneladani Rasulullah Muhammad SAW untuk Mewujudkan Masyarakat yang Rahmatan Lil Alamin”—mengandung pesan yang sederhana, tetapi tidak ringan: keteladanan tidak berhenti pada peringatan, melainkan diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmah Maulid yang disampaikan Ustaz H. Jumrah Ibrahim, S.Ag., menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mengajak jamaah kembali melihat nilai-nilai yang melekat pada keteladanan Rasulullah SAW: kejujuran, kesabaran, kepedulian dan persaudaraan.

Di antara para undangan hadir Kapolsek Marioriawa Polres Soppeng AKP H. Musmulyadi, S.Pd.I. Hadir pula Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, SE., Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Soppeng H. Naspiding, jajaran pemerintah Kecamatan Marioriawa, para kepala desa dan lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus majelis ta’lim serta Bhayangkari Ranting Marioriawa.

Bagi Redaksi Palapa, kehadiran aparat kepolisian dalam ruang keagamaan seperti ini patut dilihat bukan semata-mata dari seragam yang dikenakan, melainkan dari pesan sosial yang menyertainya.

Polisi memang memiliki mandat menjaga keamanan dan ketertiban. Namun masyarakat juga mengenal polisi melalui perjumpaan-perjumpaan kemanusiaan: ketika warga membutuhkan pelayanan, ketika sebuah kegiatan berlangsung, dan ketika komunikasi dibangun tanpa jarak.

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., sebagaimana disampaikan dalam keterangan yang diterima redaksi, menempatkan kegiatan keagamaan sebagai salah satu ruang untuk memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat.

Menurutnya, Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum untuk memahami dan menerapkan keteladanan beliau dalam kehidupan. Nilai kejujuran, kepedulian, kesabaran dan persaudaraan, kata Kapolres, penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam kehidupan sosial yang semakin membutuhkan ruang perjumpaan.

Sebab, keamanan tidak hanya lahir dari aturan dan penegakan hukum. Ia juga tumbuh dari kepercayaan. Dan kepercayaan membutuhkan komunikasi, keteladanan serta kehadiran yang dirasakan masyarakat.

Namun, Redaksi Palapa memandang bahwa kehadiran aparat di tengah kegiatan keagamaan juga harus tetap ditempatkan dalam koridor profesionalitas dan penghormatan terhadap kemajemukan masyarakat. Polisi hadir sebagai pelayan masyarakat, bukan sebagai pemilik ruang sosial.

Di situlah nilai keteladanan memperoleh maknanya.

Maulid mengajarkan manusia untuk mengenang Rasulullah SAW melalui akhlak. Sementara tugas kepolisian menuntut kehadiran melalui pelayanan. Keduanya bertemu pada satu nilai yang universal: memperlakukan manusia dengan hormat dan menjaga kehidupan bersama dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, kegiatan Maulid di Marioriawa semestinya tidak berhenti ketika lampu panggung dipadamkan dan jamaah meninggalkan lapangan.

Pesan tentang persaudaraan harus kembali ke rumah-rumah. Nilai kejujuran harus hadir dalam pekerjaan. Kepedulian harus menemukan jalannya di tengah masyarakat. Dan kesabaran harus menjadi bagian dari cara manusia menghadapi perbedaan.

Demikian pula bagi institusi kepolisian, kedekatan dengan masyarakat akan memiliki makna yang lebih dalam apabila diteruskan dalam pelayanan yang adil, transparan, profesional dan menghormati hukum serta hak setiap warga.

Pada akhirnya, Maulid bukan hanya tentang mengenang seseorang yang telah lahir lebih dari empat belas abad silam. Ia adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita bawa dari keteladanan itu ke dalam kehidupan hari ini?

Sebab, cahaya keteladanan tidak diukur dari seberapa terang panggung sebuah peringatan, melainkan dari seberapa jauh ia menerangi perilaku manusia setelah acara selesai.

Dan ketika polisi, pemerintah, ulama serta masyarakat duduk bersama dalam suasana silaturahmi, yang patut dijaga bukan hanya ketertiban acaranya, tetapi juga nilai kemanusiaan yang menyertainya.

Semoga dari Marioriawa, Maulid kembali menemukan maknanya: bahwa agama mengajarkan kasih sayang, kehidupan membutuhkan persaudaraan, dan kekuasaan pelayanan harus selalu berpihak pada martabat manusia.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *