Keterangan Gambar:
Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., saat memantau langsung aktivitas dan pelayanan di SPBU Pertamina dalam kegiatan jalan pagi penuh kehangatan. (Foto: Dok. Humas Polres SOPPENG)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
ESSAY PALAPA
Refleksi Nurani di Atas Fakta
Oleh: Petta Barang
SUARA PALAPA, SOPPENG — Fajar baru saja menyibak tirai kelam di bumi Latemmamala. Ketika sebahagian raga masih terbuai hangatnya peraduan, fajar Jumat (21/8/2026) menyaksi sebuah ikhtiar. Bukan riuh sirine atau derap langkah prajurit yang megah, melainkan derap langkah kaki sederhana yang menyusuri sudut-sudut Soppeng.
Di sana, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menyatukan denyut nadinya dengan helaan napas masyarakat.
Bagi seorang pengabdi, kepemimpinan bukanlah sebatas amanah struktural, melainkan ibadah yang menuntut kepekaan jiwa. Langkah kaki sang Perwira Menengah pagi itu bermula di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Soppeng. Di tempat di mana nutrisi dan harapan dirajut untuk generasi penerus, ia memastikan bahwa setiap butir pengabdian tersaji dengan standar kejujuran dan kepedulian yang luhur.
Perjalanan berlanjut menyusuri sudut-sudut Polsek Lalabata. Tanpa sekat kesombongan, ia menyapa para jajaran, menyuntikkan kesadaran bahwasanya seragam cokelat yang melekat adalah jubah pelayanan, bukan perisai kekuasaan. Dari sana, langkahnya mengayun menuju area SPBU Pertamina. Di tengah antrean warga yang bersiap menjemput rezeki ilahi, Kapolres hadir berdiri di sana, menatap dari dekat, memastikan roda ekonomi masyarakat berputar tanpa hambatan dan keadilan terasa di ruang publik.
“Saya ingin melihat langsung kondisi di lapangan, bukan sekadar menerima lembaran laporan di atas meja. Apa yang sudah berjalan baik adalah wujud syukur yang wajib kita pertahankan, sementara yang kurang adalah amanah untuk segera kita perbaiki. Kehadiran kita di tengah masyarakat bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari pertanggungjawaban nurani dan takdir kepemimpinan,” tutur AKBP Hari Budiyanto dengan keteguhan yang teduh.
Pesan kepekaan itu digaungkan secara mendalam kepada seluruh bawahannya. Ia mengingatkan bahwa menjadi pengayom masyarakat menuntut mata yang peka dan hati yang lapang.
“Jangan menunggu persoalan menjelma badai baru kita melangkah. Kenali lingkungan, bangun dialog yang menyejukkan, dan berikan pelayanan terbaik. Polisi harus hadir sebagai penyejuk saat warga dahaga akan keadilan, serta menjadi penyelesai masalah saat masyarakat merindu ketenangan,” tegasnya penuh wibawa.
Jalan pagi itu sejatinya bukan sekadar gerak raga demi menjaga kebugaran jasmani. Ia adalah ritus spiritual seorang pemimipim yang menundukkan hati di hadapan tugas-tugas kemanusiaan. Dalam kesederhanaan langkah tersebut, terselip doa dan komitmen tegas untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta martabat masyarakat Soppeng agar tetap kondusif dan penuh keberkahan.
Matahari makin meninggi, membiaskan sinar kehangatan di atas tanah Soppeng. Namun, jejak-jejak langkah sunyi pagi itu telah tertinggal abadi, sebuah bukti sahih bahwa ketika kepemimpinan dijalankan dengan kerendahan hati dan kepedulian yang tulus, kehadiran negara tak lagi sekadar angka atau kata, melainkan rasa aman yang meresap hingga ke lubuk jiwa masyarakat.










