Merawat Amanah: Polres Soppeng Membuka Diri Untuk Pelayanan Mulia

POLRI51 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. (tengah, meja bertuliskan KAPOLRES) memimpin dengan khidmat Forum Konsultasi Publik 2026 di Aula Tantya Sudhirajati, Selasa (28/7/2026). Forum yang mengusung semangat Transformasi Menuju Polri yang PRESISI ini menjadi ruang dialog terbuka antara Polri dan masyarakat untuk merawat amanah pelayanan yang transparan, humanis, dan berkualitas. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Syamsuddin Andy

SOPPENG, SUARA PALAPA – Ada yang lebih teduh dari sekadar forum. Di Aula Tantya Sudhirajati, Selasa, 28 Juli 2026, seragam cokelat itu tidak sedang menjaga jarak. Ia justru mendekat, membuka telinga, dan merundukkan hati.

Polres Soppeng menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) 2026. Temanya terasa administratif: Pelayanan Publik yang Transparan, Akuntabel, Cepat, Mudah, dan Berkualitas. Namun roh di dalamnya jauh lebih dalam – tentang bagaimana negara belajar menjadi pelayan, dan pelayan belajar menjadi manusia.

Di barisan depan, Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memimpin langsung. Di sekelilingnya duduk mereka yang selama ini menjadi simpul kehidupan Soppeng: Pejabat Utama Polres, para operator layanan, wakil Pemerintah Kabupaten, para akademisi, pewarta, pegiat organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, hingga warga pengguna layanan. Tidak ada sekat. Yang ada hanya satu meja dialog.

“Kepercayaan masyarakat adalah amanah yang harus kami jaga,” ucap AKBP Aditya Pradana dengan suara yang tenang namun kokoh.

Kalimat itu menjadi kunci. Bagi Kapolres, forum ini bukan seremoni tahunan untuk menggugurkan kewajiban. Ia adalah cermin. Tempat Polri bercermin pada wajah rakyatnya sendiri, menerima kritik sebagai vitamin, menampung saran sebagai cahaya.

“Kami ingin pelayanan di Polres Soppeng terus tumbuh sesuai detak kebutuhan masyarakat. Kritik dan masukan dari forum ini adalah bahan evaluasi yang sangat berharga untuk menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, transparan, dan berkah,” tegasnya.

Rangkaian pagi itu dimulai dengan khidmat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, doa dipanjatkan, memohon agar setiap ikhtiar pelayanan diridai oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian Kapolres membuka forum secara resmi.

Sesi intelektual pun mengalun. Dr. Andi Ahmad Rahmansah San, S.Sos., M.M., membentangkan hakikat pelayanan publik yang berkualitas – tentang pentingnya transparansi yang jujur, akuntabilitas yang berani, profesionalisme aparatur, hingga inovasi dan digitalisasi yang memudahkan, bukan mempersulit.

Senada, Andi Dhamrah, S.Sos., M.M., dari Pemerintah Kabupaten Soppeng, menguraikan ikhtiar transformasi digital melalui perizinan berbasis elektronik, seraya menekankan: tidak ada pelayanan hebat tanpa sinergi yang kuat antara pemerintah dan Polri.

Sementara itu, AKP Ahmad Saeni merunutkan fondasi hukum dan prinsip humanis pelayanan Polri, dari tantangan lapangan hingga strategi besar: reformasi birokrasi, peningkatan kompetensi personel, hingga pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat sebagai tolok ukur ketulusan melayani.

Dialog menjadi jantung acara. Aspirasi mengalir. Peserta berharap pemanfaatan teknologi informasi semakin dimaksimalkan, sosialisasi standar pelayanan dan alur pengaduan lebih masif, serta sarana-prasarana yang lebih nyaman, ramah bagi ibu, lansia, dan difabel.

Semua dicatat. Semua didengar. Para narasumber menegaskan bahwa setiap masukan adalah hutang moral yang akan ditindaklanjuti dalam penyempurnaan standar pelayanan.

Di penghujung forum, AKBP Aditya Pradana kembali mengingatkan: pelayanan prima takkan lahir dari satu tangan. Ia adalah kerja berjamaah – antara Polri, pemerintah, kampus, media, dan masyarakat.

“Polres Soppeng akan terus berinovasi, memperbaiki kualitas pelayanan, serta membuka ruang komunikasi agar setiap pelayanan benar-benar memberikan kemudahan, kepastian, dan rasa puas,” pungkasnya.

Forum pun usai. Aman, tertib, dan lancar. Namun ia meninggalkan sesuatu yang lebih lama dari sekadar notulensi rapat. Ia meninggalkan jejak keyakinan: bahwa ketika sebuah institusi berani membuka pintunya untuk dikritik, di situlah wibawa sejati tumbuh. Bukan dari jarak yang angker, melainkan dari keberanian untuk melayani dengan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *