Ketika Nama Seseorang Menghilang, Sesungguhnya Nurani Kitalah yang Sedang Dicari

POLRI196 Dilihat

ESSAY SUARA PALAPA

Oleh: Sabri

Ada sunyi yang tidak lahir dari malam. Ia lahir dari sebuah kehilangan.
Bukan kehilangan harta, bukan pula kehilangan jabatan, melainkan hilangnya seorang manusia dari pelukan keluarganya. Sejak saat itu, waktu berubah menjadi ruang tunggu yang panjang. Setiap denting jam adalah harapan. Setiap dering telepon adalah doa yang diam-diam berharap membawa kabar baik.
Begitulah kiranya yang kini dirasakan keluarga Mitha.

Di suatu tempat, mungkin ada seorang ibu yang tak lagi mampu memejamkan mata tanpa menyebut nama anaknya dalam doa. Ada ayah yang berusaha tegar meski dadanya dipenuhi ribuan pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Ada saudara-saudara yang setiap hari menatap jalan, berharap sosok yang dirindukan tiba-tiba muncul sambil berkata, “Saya sudah pulang.”

Kehilangan seseorang tidak hanya mengosongkan satu kursi di rumah. Ia juga mengosongkan sebagian hati orang-orang yang mencintainya.

Di tengah kegelisahan itulah aparat kepolisian bekerja.
Bukan sekadar menjalankan prosedur hukum, tetapi menunaikan amanah kemanusiaan.

Penyelidikan dilakukan, informasi dihimpun, saksi dimintai keterangan, dan setiap kemungkinan ditelusuri dengan harapan dapat menemukan titik terang.

Hukum memang berbicara melalui bukti. Namun kemanusiaan berbicara melalui kepedulian.

Karena itu, penyelidikan terhadap orang hilang bukan semata-mata soal berkas perkara. Ia adalah ikhtiar mengembalikan harapan kepada sebuah keluarga yang nyaris tenggelam dalam kecemasan.

Di zaman ketika kabar menyebar lebih cepat daripada kebenaran, masyarakat pun memikul tanggung jawab yang tidak kecil.

Informasi yang belum pasti jangan diubah menjadi vonis. Dugaan jangan dijadikan kepastian. Sebab satu kalimat yang tidak benar dapat melukai hati keluarga yang sedang terluka.

Empati jauh lebih berharga daripada sensasi.

Menyebarkan informasi yang benar adalah bentuk sedekah. Menahan diri dari kabar yang belum terverifikasi juga merupakan ibadah. Sebab agama mengajarkan agar setiap berita diperiksa sebelum dipercaya dan disebarluaskan.

Allah SWT berfirman agar orang-orang beriman meneliti setiap kabar yang datang agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Pesan ilahi itu terasa semakin relevan di tengah derasnya arus informasi hari ini.

Pada akhirnya, setiap manusia bisa saja berada di posisi yang sama.
Hari ini kita membaca berita tentang orang lain. Esok, bisa jadi kita yang menunggu kabar dari seseorang yang kita cintai.

Karena itu, jangan pernah lelah menjadi manusia yang peduli.

Jika memiliki informasi, sampaikan kepada pihak yang berwenang. Jika tidak memiliki informasi, kirimkan doa. Bila tak mampu melakukan keduanya, setidaknya jangan menambah beban keluarga dengan kabar yang belum tentu benar.
Sesungguhnya, menemukan seseorang yang hilang bukan hanya tugas aparat.
Itu adalah panggilan nurani seluruh masyarakat.

Sebab ketika satu orang menghilang, yang sedang diuji bukan hanya kemampuan penyidik mengungkap fakta, melainkan juga kemampuan kita menjaga rasa kemanusiaan.

Semoga Allah SWT membimbing setiap langkah pencarian, melindungi mereka yang bekerja siang dan malam, menguatkan keluarga yang sedang menanti, dan mempertemukan kembali mereka yang terpisah dalam keadaan selamat.

Karena pada akhirnya, setiap ikhtiar akan kembali kepada-Nya. Dan setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *