Merawat Persatuan, Menjaga Marwah PWI Sulsel

EDITORIAL175 Dilihat

EDITORIAL SUARAPALAPA.ID

Ada pelajaran penting yang patut dicatat dari pelaksanaan Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan tahun 2026. Bukan semata-mata soal siapa yang terpilih menjadi ketua, melainkan bagaimana proses itu berlangsung hingga melahirkan aklamasi yang diterima bersama.

Dalam sebuah organisasi profesi yang dihuni oleh para wartawan dengan latar belakang pemikiran, karakter, dan kepentingan yang beragam, persatuan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan. Ia harus dirawat. Bahkan sering kali harus didahulukan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Di tengah dinamika itulah, sejumlah figur memainkan peran penting sebagai perekat organisasi. Salah satu nama yang banyak disebut dalam proses konsolidasi menjelang Konferprov PWI Sulsel adalah Faizal Palapa.

Suarapalapa.id memandang bahwa kontribusi terbesar seorang kader organisasi tidak selalu diukur dari jabatan yang diraih. Justru dalam banyak kesempatan, mereka yang bekerja di balik layar sering kali memberikan sumbangsih yang jauh lebih besar bagi keberlangsungan organisasi.

Faizal Palapa menjadi contoh bagaimana komunikasi yang sehat, pendekatan yang santun, dan kemampuan membangun kepercayaan dapat menghadirkan suasana yang lebih kondusif. Ketika perbedaan pandangan berpotensi menciptakan jarak, dialog menjadi jembatan. Ketika ego organisasi mulai mengemuka, kepentingan bersama harus kembali ditempatkan sebagai tujuan utama.

PWI sebagai rumah besar wartawan memiliki tanggung jawab moral yang tidak ringan. Di tengah derasnya arus informasi, disrupsi teknologi, dan tantangan terhadap kredibilitas media, organisasi wartawan membutuhkan soliditas yang kuat. Persatuan menjadi modal utama untuk menjaga marwah profesi sekaligus memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi.

Karena itu, aklamasi dalam Konferprov PWI Sulsel hendaknya tidak dipahami sekadar sebagai kemenangan seseorang. Yang lebih penting adalah kemenangan semangat kebersamaan. Kemenangan nilai-nilai persaudaraan. Kemenangan kesadaran bahwa organisasi akan lebih kuat jika seluruh elemen berjalan dalam satu barisan.

Dalam perspektif yang lebih luas, proses ini juga memberikan pesan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal tampil di depan. Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi tanpa memaksa, menyatukan tanpa mendominasi, dan menggerakkan tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

Di tanah Bugis-Makassar, terdapat nilai luhur yang diwariskan turun-temurun: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge—saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai inilah yang sejatinya harus terus hidup dalam tubuh organisasi wartawan.

Suarapalapa.id meyakini bahwa masa depan PWI Sulsel tidak hanya ditentukan oleh ketua yang terpilih, tetapi juga oleh kesediaan seluruh kader untuk menjaga persatuan setelah konferensi usai. Sebab sejarah menunjukkan, organisasi besar tidak runtuh karena perbedaan pendapat, melainkan karena hilangnya kemampuan untuk merawat kebersamaan.

Hari ini, ketika dinamika konferensi telah berlalu, tugas sesungguhnya baru dimulai. Merawat kepercayaan. Menjaga marwah organisasi. Menguatkan solidaritas profesi. Dan memastikan bahwa PWI tetap menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh wartawan.

Jika itu dapat diwujudkan, maka aklamasi yang terjadi bukan hanya menjadi catatan administratif organisasi, melainkan akan dikenang sebagai momentum yang memperkokoh persatuan insan pers Sulawesi Selatan.

Persatuan adalah kekuatan. Dan marwah organisasi hanya akan tegak apabila seluruh elemen bersedia menjaganya bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *