Faizal Palapa Sekretaris PWI Sulsel Masa Bakti 2021-2026 dan Ketua Panitia Konferprov PWI Sulsel 2026
Penulis: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group
Di setiap peristiwa besar, selalu ada satu nama yang tidak berdiri paling depan, tetapi justru menjadi pengikat yang menyatukan banyak langkah. Ia bekerja tanpa banyak sorot lampu, menata jalan tanpa meminta tepuk tangan, dan memastikan setiap perbedaan menemukan titik temu.
Pada Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan 2026, nama itu adalah Faizal Palapa. Ia menduduki jabatan Sekretaris PWI Sulsel Periode 2021-2026 dan Ketua Panitia Konferprov PWI Sulsel 2026.
Ketika dinamika pemilihan Ketua PWI Sulsel menghangat dan berbagai spekulasi bermunculan, Faizal memilih berjalan dalam ketenangan. Ia tidak tampil sebagai tokoh yang gemar mengumbar pengaruh. Namun, banyak mata melihat bagaimana komunikasi yang dibangunnya perlahan menjembatani berbagai kepentingan hingga melahirkan sebuah kesepakatan besar: aklamasi.
Di balik ruang-ruang diskusi yang penuh pertimbangan, di sela percakapan yang tidak terekam kamera, Faizal hadir sebagai perekat. Ia memahami bahwa organisasi wartawan bukan sekadar arena kontestasi, melainkan rumah bersama yang harus dijaga kehormatannya.
Mungkin itulah sebabnya banyak rekan wartawan menyebutnya sebagai figur sentral. Bukan karena jabatan yang disandang, melainkan karena kemampuannya merawat komunikasi dan membangun kepercayaan.
Aklamasi yang akhirnya mengantarkan kepemimpinan baru di PWI Sulsel bukanlah peristiwa yang lahir dalam semalam. Ia merupakan hasil dari rangkaian dialog panjang, kesediaan untuk saling mendengar, dan keinginan kuat menjaga persatuan organisasi. Dalam proses itu, nama Faizal Palapa disebut sebagai salah satu tokoh yang aktif menghubungkan berbagai pihak hingga perbedaan pandangan dapat dipertemukan dalam satu tujuan bersama.
Namun kisah ini sesungguhnya lebih besar daripada sekadar soal pemilihan ketua.
Ia adalah cerita tentang bagaimana kepemimpinan kadang tidak selalu hadir dalam bentuk pidato yang menggelegar. Ada kepemimpinan yang tumbuh dalam kesediaan mendengarkan. Ada pengaruh yang bekerja dalam diam. Dan ada keteladanan yang tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kepercayaan.
Di tengah tantangan dunia pers yang terus berubah, kebutuhan akan persatuan menjadi semakin penting. Wartawan tidak hanya dituntut menjaga profesionalisme, tetapi juga menjaga marwah organisasi sebagai rumah besar insan pers.
Faizal Palapa tampaknya memahami pesan itu. Ia memilih merawat jembatan, bukan membangun sekat. Ia menempatkan kebersamaan di atas kepentingan pribadi. Sikap yang dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar sering dimaknai sebagai bentuk kebijaksanaan: menjaga siri’ organisasi dengan cara memelihara persaudaraan.
Pada akhirnya, aklamasi Ketua PWI Sulsel 2026, menghasilkan Suwardi Thahir sebagai Ketua PWI Sulsel Masa Bakti 2026-2031 dengan Dahlan Abubakar sebagai Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel, mungkin akan tercatat sebagai sebuah peristiwa organisasi biasa. Namun di balik catatan sejarah itu, tersimpan kisah tentang seorang pekerja sunyi merajut benang-benang persatuan.
Dan ketika hiruk-pikuk konferensi telah usai, nama Faizal Palapa tetap dikenang bukan karena seberapa keras ia berbicara, melainkan karena seberapa kuat ia menyatukan.
Sebab dalam banyak peristiwa besar, sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang tampil di panggung. Tetapi persatuan, hampir selalu, dibangun oleh mereka yang bekerja dalam senyap.






