Menjemput Berkah di Maccini Sawah: Ketika PWI Sulsel Membuka Pintu untuk Rakyat

PERS139 Dilihat

Oleh: Alimuddin
Inspirasi Penulis dari Release PWI Sulsel

MAKASSAR – Jarum jam baru saja menyentuh angka sembilan pagi ketika aroma doa dan kebersamaan menyeruak di Jalan Maccini Sawah No. 12, Kota Makassar. Hari itu, Jumat, 19 Juni 2026, bukan sekadar hari biasa bagi insan pers di Sulawesi Selatan. Di bawah langit pagi yang teduh, sebuah awal baru sedang ditenun dengan benang-benang harapan, spiritualitas, dan komitmen kemanusiaan yang tulus.

Tepat pukul 09.00 Wita—sebuah waktu yang sengaja dipilih dengan rapalan doa agar membawa aliran keberkahan dan kelancaran, H. Suwardi Thahir menapakkan kaki di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan. Kehadirannya di sana bukan sekadar seremonial serah terima jabatan, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk membawa organisasi wartawan tertua di Indonesia ini kembali ke khittahnya: menjadi rumah yang teduh bagi anggotanya dan menara suar bagi masyarakatnya.

“Momentum ini bukan sekadar pindah kantor, tetapi juga menandai awal perjalanan baru PWI Sulsel,” tutur Mappiar, salah satu tokoh wartawan senior yang matanya berbinar menyaksikan fajar baru kepemimpinan yang terpilih secara aklamasi ini.

Kehangatan di Atas Tikar Kebersamaan

Seperti yang terekam indah dalam dokumentasi gambar, acara syukuran itu jauh dari kesan formal yang kaku. Di atas bentangan tikar, dalam ruang yang sederhana namun sarat kehangatan, sekat-sekat protokoler melebur. Hidangan tradisional tersaji, tawa renyah mengalun, dan senyum merekah dari para tokoh pers yang hadir.


Terlihat Kepala Stasiun TVRI Sulsel, Andi Fatahuddin, duduk membaur bersama jajaran pemilik media, wartawan senior dari RRI, Harian Fajar, Sinergi, serta ibu-ibu dari Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI). Potret dalam tersebut merangkum sebuah esensi penting: bahwa kekuatan pers tidak hanya lahir dari tajamnya pena, melainkan dari eratnya silaturahmi dan doa yang dipanjatkan bersama-sama.

Membumikan Pena, Melayani Sesama

Bagi Suwardi Thahir, amanah memimpin PWI Sulsel adalah sebuah tanggung jawab moral yang vertikal dan horizontal. Pers, di matanya, harus menjadi jembatan kemaslahatan. Salah satu langkah nyata yang ia canangkan adalah penguatan profesionalisme melalui program Uji Kompetensi Wartawan (UKW), serta merajut sinergi strategis lewat nota kesepahaman (MoU) dengan TVRI dan berbagai media lainnya.

Namun, di atas semua cetak biru program tersebut, ada denyut humanis yang ingin ia hidupkan di rumah baru mereka. Suwardi sadar betul, di mata publik, kata “wartawan” dan “PWI” adalah dua hal yang tak terpisahkan.

“Bukan hanya teman-teman wartawan, masyarakat yang berkepentingan atau berhubungan dengan PWI bisa datang tanpa ragu-ragu. Tempat ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menyampaikan masukan demi perbaikan organisasi,” ucap Suwardi dengan nada bicara yang teduh namun penuh ketegasan.

Ia ingin mengetuk kesadaran bahwa kantor PWI bukanlah menara gading yang eksklusif dan menakutkan. Di bawah kepemimpinannya, tempat ini bertransformasi menjadi ruang terbuka tempat rakyat bisa mengadu, menitipkan aspirasi, atau sekadar bertukar pikiran.

Simbol Pengabdian yang Hakiki

Bergerak di bawah payung hukum yang jelas dan legitimasi yang kuat, PWI Sulsel kini bersiap merangkul generasi muda untuk memperkuat barisan. Langkah kaki mereka kini dipastikan lebih mantap, meniti jalan pengabdian yang tidak hanya mengejar aktualitas berita, tetapi juga kemanfaatan sosial.

Matahari perlahan meninggi di atas kawasan Maccini Sawah, menutup acara syukuran yang bersahaja namun sakral itu. Sebuah babak baru telah dimulai. Kantor PWI Sulsel kini berdiri bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai simbol penguat kerja sama, tempat bertemunya nurani pers, pemerintah, dan masyarakat.

“Intinya, keberadaan kantor ini akan menjadi simbol penguatan kerja sama dalam memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan pemerintah, khususnya di Sulawesi Selatan,” pungkas Suwardi, menutup kalimatnya dengan sebuah optimisme yang melangit, namun tetap membumi.

Dari Maccini Sawah, sebuah komitmen suci telah diikrarkan: menulis dengan hati, mengabdi untuk negeri, dan melangkah dalam rida-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *