Menjahit Kebersamaan, Menjaga Marwah Pers, Duet Suwardi-Dahlan Harapan Baru PWI Sulsel

EDITORIAL99 Dilihat

Editorial Suarapalapa.id

Pers yang kuat tidak lahir dari organisasi yang gaduh. Ia tumbuh dari tradisi intelektual yang sehat, kepemimpinan yang inklusif, dan komitmen yang teguh terhadap etika profesi.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik saat ini, mulai dari disrupsi digital, banjir informasi, maraknya disinformasi, hingga tekanan ekonomi media, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan memasuki babak baru kepemimpinannya.

Konferensi Provinsi PWI Sulsel 2026 telah melahirkan dua figur yang tidak asing bagi dunia pers Sulawesi Selatan. Di satu sisi ada Dr. Ir. Suwardi Thahir, M.Si, yang dipercaya menakhodai PWI Sulsel periode 2026–2031. Di sisi lain, berdiri Dr. H. M. Dahlan Abubakar, M.Hum, yang mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel pada periode yang sama.

Bagi kami, duet ini bukan sekadar hasil kontestasi organisasi. Ia adalah pertemuan antara energi kepemimpinan dan kebijaksanaan pengalaman.

Suwardi Thahir membawa semangat pembaruan, penguatan organisasi, dan pembinaan generasi wartawan masa depan. Sementara Dahlan Abubakar hadir sebagai penjaga nilai, perawat memori, dan benteng moral profesi jurnalistik.

Keduanya mewakili dua unsur yang selalu dibutuhkan dalam setiap organisasi: gerak dan arah.

Suwardi Thahir dikenal sebagai organisator yang tumbuh dari lingkungan pers itu sendiri.

Ia memahami bahwa tantangan wartawan masa kini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Wartawan tidak lagi hanya dituntut mampu menulis berita. Mereka juga harus menguasai teknologi digital, memahami verifikasi informasi yang semakin rumit, serta menjaga independensi di tengah derasnya arus kepentingan.

Dalam berbagai kesempatan, Suwardi selalu menekankan pentingnya membangun organisasi yang inklusif.

Gagasan tersebut tampak sederhana. Namun sesungguhnya itulah fondasi utama sebuah organisasi profesi yang sehat. PWI bukan milik kelompok tertentu. PWI adalah rumah bersama. Rumah yang harus mampu merangkul wartawan muda dan senior, wartawan media cetak maupun digital, wartawan kota maupun daerah.

Di era ketika fragmentasi semakin mudah terjadi, kemampuan menyatukan perbedaan justru menjadi kualitas kepemimpinan yang paling berharga.

Di sisi lain, hadir Dahlan Abubakar.

Nama yang telah lama menjadi bagian dari sejarah pers Sulawesi Selatan.

Puluhan tahun ia mengabdikan diri sebagai wartawan, akademisi, penulis, dan penggerak literasi. Dari ruang redaksi hingga ruang kuliah, dari artikel surat kabar hingga puluhan buku yang ditulisnya, Dahlan selalu menunjukkan satu keyakinan yang sama: bahwa kata-kata adalah bagian dari peradaban.

Ia memahami bahwa pers bukan sekadar industri informasi.

Pers adalah penjaga ingatan masyarakat.

Karena itulah, ketika dipercaya memimpin Dewan Kehormatan PWI Sulsel, publik pers melihatnya sebagai sosok yang tepat.

Di tengah dunia digital yang bergerak begitu cepat, etika sering kali menjadi korban pertama yang terlupakan.

Dahlan hadir untuk mengingatkan bahwa profesionalisme tanpa integritas hanyalah kemasan kosong.

Bahwa wartawan tidak cukup hanya cepat.
Ia juga harus benar.
Tidak cukup hanya populer.
Ia juga harus dipercaya.

Bagi Suarapalapa.id, kekuatan terbesar duet Suwardi Thahir dan Dahlan Abubakar bukan terletak pada jabatan yang mereka sandang.

Kekuatan mereka terletak pada simbol yang mereka representasikan. Suwardi mewakili masa depan. Dahlan mewakili akar.

Suwardi berbicara tentang inovasi. Dahlan mengingatkan tentang nilai.
Suwardi bergerak membawa organisasi menghadapi tantangan zaman.
Dahlan memastikan organisasi tidak kehilangan kompas moralnya.

Dan sejarah selalu menunjukkan bahwa organisasi yang mampu bertahan lama adalah organisasi yang berhasil menjaga keseimbangan antara keduanya.

Hari ini, ketika kecerdasan buatan mulai memasuki ruang redaksi, ketika media sosial sering kali lebih cepat daripada media arus utama, dan ketika kepercayaan publik terhadap media terus diuji, tugas organisasi pers menjadi semakin berat.

Karena itu, kepemimpinan PWI Sulsel lima tahun ke depan tidak boleh hanya diukur dari jumlah program kerja yang terlaksana.

Keberhasilannya harus diukur dari seberapa banyak wartawan yang semakin profesional. Seberapa kuat etika jurnalistik ditegakkan.
Seberapa besar organisasi mampu menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh anggotanya. Dan seberapa tinggi kepercayaan masyarakat terhadap pers dapat dipertahankan.

Pada akhirnya, jabatan akan berganti. Kepengurusan akan berakhir. Namun nilai-nilai yang ditanamkan akan tetap hidup.

Jika Suwardi Thahir berhasil membangun organisasi yang inklusif dan adaptif, serta Dahlan Abubakar berhasil menjaga marwah dan integritas profesi, maka warisan terbesar mereka bukanlah catatan administrasi organisasi.

Warisan itu adalah lahirnya generasi wartawan yang lebih kompeten, lebih beretika, dan lebih bertanggung jawab kepada publik.

Karena sesungguhnya, masa depan pers tidak ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini. Melainkan oleh nilai apa yang diwariskan kepada wartawan esok hari.

Dan dalam konteks itulah, duet Suwardi Thahir dan Dahlan Abubakar layak diberi ruang untuk bekerja, sekaligus diawasi agar tetap setia pada amanah yang mereka emban: menjaga kebebasan pers, merawat marwah profesi, dan mengabdi kepada kepentingan publik.

Redaksi Suarapalapa.id
“Pers yang merdeka bukan hanya berani menyuarakan kebenaran, tetapi juga berani menjaga kehormatannya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *