Dr. Ir. Suwardi Thahir, M.Si., Menjahit Kebersamaan, Menjaga Marwah Pers

PROFIL112 Dilihat

Penulis: Alimuddin

Di tengah hiruk-pikuk dunia jurnalistik yang terus berubah, ada sosok yang lebih senang bekerja dalam senyap daripada tampil di panggung sorotan. Ia bukan tipe pemimpin yang membangun pengaruh melalui retorika panjang, melainkan melalui konsistensi, kedekatan, dan keteladanan.

Namanya Dr. Ir. Suwardi Thahir, M.Si.

Bagi kalangan wartawan Sulawesi Selatan, nama itu bukanlah nama baru. Ia telah lama menjadi bagian dari perjalanan organisasi pers, pembinaan kompetensi wartawan, serta berbagai upaya memperkuat profesionalisme jurnalistik di daerah ini. Ketika Konferensi Provinsi PWI Sulsel 2026 digelar di Makassar, mayoritas pemegang hak suara akhirnya menitipkan amanah kepadanya untuk memimpin PWI Sulsel periode 2026–2031. Ia terpilih secara aklamasi, sebuah penanda kuat atas tingkat penerimaan dan kepercayaan yang dimilikinya di kalangan insan pers Sulawesi Selatan.

Dari Dunia Teknik ke Dunia Komunikasi

Suwardi Thahir menempuh pendidikan teknik hingga meraih gelar insinyur. Namun perjalanan hidup membawanya tidak hanya bergelut dengan angka, rancangan, dan perencanaan pembangunan.

Seiring waktu, ia justru menemukan ruang pengabdian yang luas dalam dunia komunikasi dan jurnalistik. Perpaduan latar belakang teknik dan ilmu sosial membentuk karakter kepemimpinannya yang sistematis, terukur, namun tetap komunikatif.

Dalam berbagai kesempatan, rekan-rekannya mengenal Suwardi sebagai sosok yang lebih mengutamakan penyelesaian persoalan daripada memperbesar perbedaan. Karakter inilah yang kemudian membuatnya diterima lintas generasi wartawan, baik senior maupun muda.

Guru bagi Banyak Wartawan

Tidak semua guru berdiri di depan kelas.

Sebagian menjadi guru melalui pengalaman hidup, melalui ruang redaksi, melalui diskusi panjang di warung kopi, atau melalui proses pendampingan terhadap wartawan muda yang sedang mencari arah.

Dalam berbagai testimoni yang muncul menjelang Konferprov PWI Sulsel, banyak wartawan menyebut Suwardi sebagai guru jurnalistik mereka. Ia dikenal aktif membimbing, menguji kompetensi wartawan, serta terlibat dalam berbagai kegiatan peningkatan profesionalisme pers.

Di mata banyak jurnalis muda, Suwardi bukan hanya pengurus organisasi. Ia adalah mentor yang memahami bahwa regenerasi merupakan syarat utama agar pers tetap hidup.

Organisator yang Menyatukan

Dalam organisasi profesi, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang lumrah.

Namun kemampuan menjembatani perbedaan adalah kualitas yang tidak dimiliki semua orang.

Selama bertahun-tahun berkiprah di PWI Sulawesi Selatan, Suwardi dikenal sebagai figur yang mampu membangun komunikasi dengan berbagai kelompok. Ia tidak menempatkan organisasi sebagai milik satu kelompok tertentu, melainkan rumah bersama bagi seluruh anggota. Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu pesan utama yang terus ia suarakan menjelang pemilihan Ketua PWI Sulsel.

“Saya ingin PWI Sulsel menjadi organisasi yang inklusif, bukan eksklusif,” demikian komitmen yang ia sampaikan kepada publik.

Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan cara pandangnya terhadap organisasi.

Pemimpin di Era Disrupsi

Suwardi memahami bahwa tantangan pers hari ini berbeda dengan satu dekade lalu.

Media cetak mengalami transformasi besar. Media digital tumbuh pesat. Kecerdasan buatan mulai mengubah pola kerja jurnalistik. Di saat yang sama, tuntutan profesionalisme dan etika semakin tinggi.

Karena itu, dalam berbagai forum ia menekankan pentingnya inovasi, adaptasi, serta sinergi antargenerasi wartawan. Menurutnya, organisasi pers harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar jurnalistik.

Bagi Suwardi, perubahan teknologi bukan ancaman. Yang menjadi ancaman adalah ketika wartawan berhenti belajar.

Ketua PWI Sulsel 2026–2031

Pada 2 Juni 2026, Konferprov PWI Sulsel menetapkan Suwardi Thahir sebagai Ketua PWI Sulsel masa bakti 2026–2031. Penetapan secara aklamasi tersebut menjadi simbol kepercayaan besar anggota PWI terhadap kepemimpinannya.

Amanah yang diterimanya tidak ringan.

Di pundaknya kini bertumpu harapan untuk:

  • memperkuat kompetensi wartawan;
  • menjaga etika profesi;
  • meningkatkan kualitas organisasi;
  • mempererat hubungan antargenerasi insan pers;
  • serta menjaga independensi dan kebebasan pers yang bertanggung jawab.

Duet dengan Dahlan Abubakar

Banyak kalangan pers menilai duet Suwardi Thahir sebagai Ketua PWI Sulsel dan Dr. H. M. Dahlan Abubakar sebagai Ketua Dewan Kehormatan merupakan kombinasi yang saling melengkapi.

Suwardi hadir dengan energi kepemimpinan organisasi dan pembinaan anggota. Dahlan membawa pengalaman panjang, kebijaksanaan, serta otoritas moral dalam menjaga kode etik jurnalistik.

Sejumlah wartawan senior bahkan menggambarkan keduanya sebagai “mur dan baut” yang saling menguatkan dalam membangun PWI Sulawesi Selatan ke depan.

Warisan yang Sedang Dibangun

Dalam dunia jurnalistik, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari program kerja yang selesai dilaksanakan.

Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika organisasi yang dipimpinnya mampu melahirkan generasi penerus yang lebih baik.

Itulah warisan yang tampaknya sedang dibangun oleh Suwardi Thahir.

Ia tidak sedang membangun monumen untuk dirinya sendiri. Ia sedang berupaya membangun rumah bersama bagi wartawan Sulawesi Selatan—rumah yang terbuka, inklusif, profesional, dan bermartabat.

Dan di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, barangkali itulah bentuk kepemimpinan yang paling dibutuhkan oleh dunia pers hari ini.

Profil Singkat

Nama: Dr. Ir. Suwardi Thahir
Pendidikan: Insinyur (Teknik), Magister (M.Si), Doktor
Profesi: Wartawan Senior, Organisator Pers, Penguji Kompetensi Wartawan
Jabatan: Ketua PWI Sulawesi Selatan
Visi: PWI Sulsel yang inklusif, profesional, adaptif, dan menjadi rumah bersama seluruh wartawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed