Ketika Negara Membuka Jalan Pulang

EDITORIAL149 Dilihat

EDITORIAL SUARAPALAPA.ID

Ada satu hal yang sering luput dalam cara kita memandang perubahan manusia: kita terlalu mudah mengingat kesalahannya, tetapi terlalu pelit memberi ruang bagi perbaikannya.

Di tengah kehidupan sosial yang semakin keras dan cepat menghakimi, sebuah kegiatan sederhana yang digelar Polres Wajo pada awal Juni ini justru menghadirkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar layanan penghapusan tato gratis. Program tersebut sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: hak setiap manusia untuk memulai kembali.

Selama ini, institusi kepolisian identik dengan fungsi penegakan hukum. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun masyarakat modern membutuhkan lebih dari sekadar aparat yang menjaga ketertiban. Masyarakat membutuhkan negara yang mampu memahami bahwa keamanan tidak hanya lahir dari penindakan, tetapi juga dari pembinaan.

Karena itulah kegiatan yang melibatkan komunitas hijrah dan masyarakat yang ingin menghapus tato patut dibaca sebagai sebuah pendekatan sosial yang progresif.

Tato memang hanya tinta di atas kulit. Tetapi dalam banyak kasus, ia juga menyimpan cerita panjang tentang masa lalu seseorang. Ada yang membuatnya saat usia muda. Ada yang melakukannya sebagai bentuk pemberontakan. Ada pula yang sekadar mengikuti lingkungan pergaulan. Seiring waktu, sebagian dari mereka memilih jalan hidup yang berbeda dan ingin meninggalkan simbol-simbol masa lalu tersebut.

Masalahnya, proses perubahan sering kali tidak mudah. Seseorang yang berusaha memperbaiki diri kerap berhadapan dengan stigma yang terus melekat. Masa lalu menjadi label yang sulit dihapus, bahkan ketika niat untuk berubah sudah begitu kuat.

Di sinilah negara seharusnya hadir.

Bukan untuk menghakimi masa lalu warga negaranya, melainkan membantu mereka menatap masa depan yang lebih baik.

Apa yang dilakukan Polres Wajo menunjukkan wajah kepolisian yang lebih humanis. Sebuah wajah yang melihat masyarakat bukan semata sebagai objek pengawasan, tetapi sebagai manusia yang memiliki peluang untuk bertumbuh dan memperbaiki diri.

Pendekatan seperti ini penting karena keamanan sosial sejatinya tidak hanya dibangun melalui patroli, penindakan, atau penegakan aturan. Keamanan juga lahir ketika masyarakat merasa dirangkul, diberi kesempatan, dan tidak ditinggalkan dalam proses perubahannya.

Program hapus tato gratis mungkin terlihat sederhana dari luar. Namun dampaknya bisa jauh lebih luas. Ia membangun kepercayaan antara masyarakat dan aparat. Ia memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan sosial. Dan yang tidak kalah penting, ia mengirimkan pesan bahwa perubahan adalah sesuatu yang layak didukung.

Tentu saja, menghapus tato tidak otomatis menghapus seluruh persoalan hidup seseorang. Perubahan karakter, perilaku, dan cara pandang tetap membutuhkan proses panjang. Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Negara yang bijak adalah negara yang membantu warga mengambil langkah pertama itu.

Di tengah berbagai persoalan sosial yang masih membelit bangsa ini, pendekatan-pendekatan kemanusiaan seperti yang dilakukan di Wajo perlu mendapatkan tempat yang lebih luas. Sebab keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari seberapa banyak pelanggaran yang berhasil ditindak, tetapi juga dari seberapa banyak warga yang berhasil dibimbing kembali ke jalan yang lebih baik.

Pada akhirnya, setiap manusia memiliki masa lalu. Tetapi tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya.

Ketika negara hadir membuka jalan pulang bagi mereka yang ingin berubah, di situlah sesungguhnya makna pelayanan publik menemukan wajahnya yang paling manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *