Merajut Persatuan, Menjaga Marwah Organisasi

EDITORIAL151 Dilihat

Editorial Suara Palapa

Konferensi telah usai. Pilihan telah ditentukan. Demokrasi organisasi telah menemukan titik akhirnya. Namun sesungguhnya, di dalam setiap organisasi yang sehat, pekerjaan terbesar justru dimulai setelah kompetisi berakhir.

Momentum itulah yang kini tengah dihadapi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan. Dua pekan pasca-Konferensi Provinsi, perhatian publik pers kini tertuju pada proses penyempurnaan kepengurusan masa bakti 2026–2031 yang sedang difinalisasi oleh tim formatur.

Bagi sebagian orang, penyusunan kepengurusan mungkin hanya dipandang sebagai agenda administratif yang lazim terjadi setelah pemilihan ketua. Padahal sesungguhnya, proses ini merupakan fase paling menentukan dalam membangun fondasi organisasi lima tahun ke depan. Di ruang inilah kualitas kepemimpinan diuji. Bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah dalam kontestasi, melainkan siapa yang mampu merangkul seluruh kekuatan organisasi untuk berjalan menuju tujuan yang sama.

Tim formatur yang terdiri atas Ketua PWI Sulsel terpilih H. Suwardi Thahir, Sarjono sebagai representasi PWI Pusat, Abdul Razak Arsyad mewakili PWI daerah, Mappiar sebagai representasi wartawan senior, serta Dahlan Abubakar selaku Ketua Dewan Kehormatan Provinsi terpilih, memikul amanah yang tidak ringan. Mereka tidak sekadar menyusun daftar nama dan jabatan, tetapi menentukan arah perjalanan organisasi profesi wartawan terbesar di Sulawesi Selatan dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Di tengah transformasi digital yang bergerak sangat cepat, organisasi profesi pers tidak lagi cukup hanya menjadi wadah berhimpun. PWI dituntut menjadi pusat peningkatan kompetensi, benteng etika jurnalistik, ruang perlindungan profesi, sekaligus penggerak lahirnya wartawan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.

Karena itu, penyusunan kepengurusan idealnya tidak semata didasarkan pada pertimbangan representasi atau keseimbangan internal organisasi. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menghadirkan figur-figur yang memiliki integritas, kapasitas, pengalaman, serta komitmen untuk bekerja demi kepentingan organisasi secara kolektif.

Dalam konteks tersebut, langkah membangun komunikasi dengan berbagai elemen internal organisasi patut diapresiasi. Sikap membuka ruang dialog dan merangkul seluruh potensi yang ada menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Sebab organisasi profesi yang besar tidak dibangun oleh kelompok yang saling berhadap-hadapan, melainkan oleh individu-individu yang bersedia menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

PWI Sulawesi Selatan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu organisasi profesi wartawan yang berpengaruh di kawasan timur Indonesia. Modal sejarah tersebut tentu harus dijaga melalui penguatan soliditas internal. Persatuan bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam forum-forum resmi, melainkan harus diwujudkan dalam praktik organisasi sehari-hari.

Editorial ini memandang bahwa rekonsiliasi pasca-konferensi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik saat ini jauh lebih besar daripada perbedaan yang muncul dalam dinamika organisasi. Ancaman disinformasi, menurunnya kepercayaan publik terhadap media, tekanan ekonomi industri pers, hingga tuntutan profesionalisme wartawan membutuhkan organisasi yang kokoh dan bersatu.

Karena itu, kepengurusan yang sedang disusun hendaknya menjadi representasi semangat kebersamaan, bukan sekadar akumulasi kepentingan. Kepemimpinan yang lahir harus mampu menghadirkan rasa memiliki bagi seluruh anggota, menciptakan ruang kolaborasi, serta membangun optimisme bahwa PWI Sulawesi Selatan akan semakin kuat dan relevan di masa mendatang.

Pada akhirnya, publik pers Sulawesi Selatan tidak hanya menunggu pengumuman susunan pengurus baru. Yang lebih penting adalah menunggu lahirnya energi baru yang mampu memperkuat marwah organisasi dan menjaga kehormatan profesi wartawan.

Sebab sebesar apa pun tantangan yang menghadang dunia pers, semuanya akan lebih mudah dihadapi apabila organisasi berdiri dalam satu barisan: bersatu dalam tujuan, kokoh dalam integritas, dan teguh menjaga nilai-nilai jurnalistik yang menjadi fondasi utama profesi ini.

Di tengah proses konsolidasi yang masih berlangsung, harapan itu terus tumbuh. Harapan agar PWI Sulawesi Selatan tidak sekadar memiliki kepengurusan baru, tetapi juga menghadirkan babak baru yang lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih mampu menjawab tuntutan zaman.

Makassar, Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *