Ketika Murid Bertambah Usia, Guru Memanjatkan Doa

Uncategorized201 Dilihat

Ilustrasi

Penulis: Alimuddin
Pemimpin Redaksi Palapa Media Group

Ada murid yang cuma lewat sebentar di buku absensi, lalu pelan-pelan hilang begitu saja seiring bergantinya tahun ajaran.

Tapi ada juga murid yang jejaknya tetap tinggal lama di ingatan guru, bukan cuma karena pintar di kelas, tapi karena semangat belajarnya, keberaniannya tampil, dan sikapnya yang terus tumbuh selama proses pendidikan.

Hari ini, Selasa, 30 Juni 2026, Mariana Ana genap berusia 48 tahun.

Usia yang tentu sudah tidak muda lagi, tapi menyimpan perjalanan panjang tentang tumbuh, berjuang, berkeluarga, dan mengabdi. Setiap tahun yang berlalu bukan cuma soal bertambahnya angka, tapi juga lembar demi lembar kisah hidup yang ditulis oleh waktu dan takdir.

Buat banyak orang, ulang tahun adalah momen untuk merayakan. Tapi buat seorang guru, hari lahir murid sering jadi momen untuk mengenang, tentang bagaimana dulu seorang anak duduk di bangku sekolah, menatap papan tulis dengan penuh cita-cita, lalu sekarang menjalani hidup dengan perannya sendiri di tengah masyarakat.

Nama Mariana Ana membawa ingatan kembali ke puluhan tahun lalu, di MTs Nurul Jadid Muara Badak, sebuah madrasah setingkat SMP yang berada di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur.

Waktu itu, Kecamatan Muara Badak masih masuk wilayah Kabupaten Kutai, sebelum pemekaran administratif membuatnya menjadi bagian dari Kabupaten Kutai Kartanegara seperti sekarang.

Di lingkungan madrasah itulah benih-benih kepemimpinan, disiplin, dan spiritualitas mulai ditanamkan.

Mariana termasuk salah satu siswi yang cukup menonjol dalam proses itu.

Ia dikenal rajin ikut berbagai kegiatan sekolah. Bukan cuma aktif belajar di kelas, Mariana juga terlibat dalam OSIS, aktif di kegiatan Pramuka, dan tekun mengikuti kelompok belajar keislaman.

Semua kegiatan itu membentuk dirinya bukan hanya jadi pelajar yang paham pelajaran sekolah, tapi juga pribadi yang belajar soal kepemimpinan, tanggung jawab, ukhuwah, disiplin, dan pengabdian.

Penulis sendiri saat itu mengabdi sebagai guru Bahasa Inggris di MTs Nurul Jadid Muara Badak, sekaligus mengajar di SMA Nurul Jadid Muara Badak. Selain mengajar, penulis juga diberi amanah sebagai Pembina OSIS dan Pembina Pramuka.

Dari ruang kelas sampai kegiatan organisasi dan pembinaan karakter, penulis melihat langsung bagaimana Mariana tumbuh jadi siswi yang aktif, santun, disiplin, dan punya semangat belajar yang kuat.

Salah satu hal yang paling membekas dari Mariana adalah keberaniannya berbicara di depan umum.

Ia sering mewakili sekolah dalam berbagai lomba pidato tingkat kecamatan, terutama saat peringatan hari-hari besar Islam. Tema yang dibawakannya banyak seputar nilai keislaman dan nasionalisme.

Di usia remaja, Mariana sudah belajar bahwa agama dan cinta tanah air bukan dua hal yang saling bertentangan.

Justru dari keduanya lahir manusia yang utuh, beriman kepada Allah, berakhlak mulia, mencintai bangsanya, dan siap memberi manfaat untuk orang lain.

Mimbar pidato yang dulu ia naiki mungkin sederhana.

Tapi dari tempat sederhana itulah keberanian ditempa.

Dari sana juga kemampuan berpikir, menyusun gagasan, dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan mulai terasah.

Setelah lulus dari MTs Nurul Jadid, Mariana melanjutkan sekolah ke tingkat SLTA di Kota Samarinda.

Seperti murid-murid lainnya, waktu kemudian membawa Mariana menjalani jalannya sendiri. Pendidikan, pengalaman hidup, dan berbagai fase kehidupan membentuk dirinya menjadi pribadi yang makin matang.

Tahun demi tahun berlalu.

Kesibukan dan jarak membuat komunikasi antara guru dan murid tidak selalu terjaga intens. Tapi silaturahmi yang tulus memang kadang tidak butuh sering-sering bertemu.

Pada tahun 2023, saat penulis berada di Samarinda, sebuah percakapan lewat telepon genggam kembali mempertemukan dua jejak masa lalu itu.

Dalam obrolan hangat itu, Mariana menyampaikan bahwa dirinya sekarang sudah berkeluarga dan tinggal di Kabupaten Kutai Timur.

Percakapannya memang singkat.

Tapi hangatnya silaturahmi tidak selalu diukur dari lamanya ngobrol. Kadang, beberapa menit saja sudah cukup untuk menghidupkan lagi kenangan puluhan tahun.

Setelah itu, komunikasi kembali terputus karena kesibukan masing-masing.

Namun kenangan tidak pernah benar-benar hilang.

Hari ini, saat usia Mariana genap 48 tahun, doa pun kembali dipanjatkan.

Dalam pandangan Islam, bertambahnya usia bukan sekadar bertambah angka.

Itu adalah amanah.

Itu juga pengingat bahwa Allah SWT masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, menebar manfaat, dan menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Setiap ulang tahun sejatinya adalah momen muhasabah.

Sudah sejauh mana perjalanan iman dijaga?

Sudah berapa banyak kebaikan yang ditanam?

Sudah berapa hati yang dibantu, dikuatkan, dan dibahagiakan?

Di hari yang istimewa ini, penulis yang juga merupakan mantan guru Mariana Ana sekaligus kini mengemban amanah sebagai Pemimpin Redaksi Palapa Media Group, menyampaikan doa tulus:

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, umur yang berkah, rezeki yang halal dan lapang, ketenangan jiwa, kebahagiaan dalam rumah tangga, serta perlindungan dalam setiap langkah kehidupan Mariana Ana bersama keluarga. Semoga setiap usia yang bertambah menjadi jalan menuju ridha Allah, dan setiap amal kebaikan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan dunia maupun akhirat.

Selamat ulang tahun ke-48, Mariana Ana.

Dari ruang kelas di Muara Badak yang mungkin sudah berubah bentuk, dari barisan Pramuka yang dulu menanamkan disiplin, dari forum OSIS yang mengajarkan kepemimpinan, sampai mimbar pidato yang melatih keberanian, semuanya jadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirimu hari ini.

Waktu boleh terus berjalan.

Jarak boleh memisahkan.

Komunikasi boleh saja terputus.

Tapi bagi seorang guru, murid yang pernah tumbuh dengan semangat belajar dan akhlak yang baik tidak akan benar-benar hilang dari ingatan.

Karena pada akhirnya, salah satu kebahagiaan terbesar seorang pendidik adalah melihat murid-muridnya tumbuh menjadi manusia yang tetap menjaga iman, adab, dan nilai-nilai kebaikan.

Barakallahu fii umrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *