Ketika Rindu Tak Sempat Pulang: Sebait Puisi dari Jauh untuk Smabo 83

PENDIDIKAN153 Dilihat

Pewarta: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)

Ada kalanya sebuah reuni bukan hanya tentang pertemuan manusia, tetapi juga tentang perjumpaan jiwa-jiwa yang pernah tumbuh bersama di lorong waktu yang sama. Tentang kenangan yang tak pernah benar-benar pergi, meski usia terus berjalan dan jarak memisahkan langkah.

Malam itu, sebuah bunyi notifikasi memecah sunyi di ponsel saya. Sederhana saja bunyinya, namun entah mengapa terasa begitu dalam. Sebuah pesan masuk dari salah seorang sahabat alumni Smabo 83, dari kaum hawa, yang sedang berada di Jawa Timur. Saya tidak bertanya lebih jauh tentang perjalanan yang sedang ia tempuh. Barangkali ada urusan keluarga, pekerjaan, atau mungkin sekadar menepi dari hiruk kehidupan. Namun dari pesan singkatnya, saya tahu satu hal: hatinya sedang berada di Bollangi, bersama teman-teman seperjuangan masa putih abu-abu.

Ia menitipkan sebuah puisi untuk dibacakan pada reuni Smabo 83 di Bollangi-Malino, 9–10 Mei 2026.

Tetapi bersama puisi itu, terselip pula sebuah amanah yang lirih namun berat dijaga.

“Tabe puang… titip tulisan ini di reuni, nama dirahasiakan.”

Saya terdiam cukup lama membaca pesan itu. Sebab dalam dunia pertemanan, amanah adalah kehormatan. Menyebut nama berarti mengkhianati kepercayaan, sementara menyembunyikannya membuat puisi ini seolah datang dari ruang sunyi yang tak bernama. Namun mungkin memang demikian hakikat persaudaraan: tidak selalu membutuhkan tepuk tangan dan pengakuan. Kadang, cukup dengan ketulusan yang diam-diam tinggal di hati.

Ia berkata, puisi itu mewakili teman-teman yang tak sempat hadir.

Mereka yang mungkin tertahan jarak. Tertambat pekerjaan. Terikat keadaan. Atau sedang diuji hidup dalam cara yang hanya Tuhan dan dirinya yang tahu. Namun seperti doa yang melintasi langit tanpa suara, kerinduan mereka tetap menemukan jalan menuju Bollangi.

Dan bukankah persahabatan sejati memang demikian?

Tak selalu duduk di kursi yang sama, tetapi tetap saling menyebut dalam doa.

Di usia yang tak lagi muda, kita mulai menyadari bahwa waktu adalah tamu yang tak pernah menunggu. Rambut memutih perlahan, langkah tak lagi secepat dulu, dan satu demi satu sahabat mulai sibuk dengan jalan hidup masing-masing. Tetapi kenangan masa sekolah selalu punya cara untuk mengetuk kembali pintu hati: suara bel istirahat, lorong kelas yang riuh, canda sederhana di kantin sekolah, hingga tawa yang terasa begitu jujur tanpa kepentingan.

Reuni akhirnya bukan sekadar acara temu kangen. Ia menjadi pengingat bahwa manusia sesungguhnya hidup dari kenangan baik dan silaturahmi yang dijaga dengan cinta.

Dan di tengah dinginnya udara Bollangi, puisi tanpa nama itu mungkin akan dibacakan dengan suara bergetar, namun justru di situlah keindahannya. Sebab tidak semua rindu harus hadir dalam rupa. Ada yang cukup datang sebagai doa.

Ini puisinya:

Peluk dari Jauh untuk Smabo 83

(Puisi Titipan Seorang Sahabat yang Memilih Tetap Menjadi Rahasia)

Di antara kabut Bollangi yang turun perlahan
Namaku mungkin tak terdengar dipanggil malam ini
Namun percayalah, hatiku sedang duduk bersama kalian
Di antara tawa, doa, dan kenangan yang kembali pulang.

Langkah ini belum sempat sampai
Pada ruang reuni yang dipenuhi wajah-wajah masa muda
Maafkan…
Raga boleh tertahan oleh perjalanan dan keadaan
Tetapi rindu tak pernah tahu cara untuk menjauh.

Empat puluh tiga tahun telah berjalan
Namun suara bel sekolah itu masih terdengar jelas
Seolah waktu belum benar-benar pergi.

Aku masih ingat
Kita berlari menuju kantin dengan wajah riang
Duduk bercanda di bawah pohon
Menertawakan hal-hal sederhana
Yang kini justru terasa paling berharga.

Lorong sekolah itu mungkin telah sunyi
Namun jejak persahabatan kita masih tinggal di sana
Melekat pada dinding kenangan
Yang tak sanggup dihapus usia.

Malam ini…
Saat kalian saling berjabat tangan
Izinkan aku hadir lewat doa-doa yang diam
Lewat bait-bait kecil yang kutitipkan
Agar namaku tetap menjadi rahasia
Dan persaudaraan tetap menjadi cahaya.

Bersenda-guraulah untukku
Tertawalah sepuasnya malam ini
Karena melihat kalian bahagia
Adalah bahagiaku juga dari kejauhan.

Semoga silaturahmi ini tetap menyala
Seperti riuh jam istirahat di masa sekolah dulu
Hangat, akrab, tanpa sekat dan pura-pura.

Dan bila Allah masih mengizinkan waktu
Insyaa Allah
Kita akan kembali dipertemukan
Dalam pelukan reuni berikutnya.

Untuk semua sahabat Smabo 83…
Kutitip peluk dari jauh
Karena sesungguhnya
Jarak hanya memisahkan mata
Bukan hati.

Far from eyes… but never far from the heart.
Jauh di mata, tetap dekat di jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *