Tiga Bulan di Rumah Wartawan

PERS118 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kolase pengurus dan panitia Konferensi PWI Sulawesi Selatan. Tampak Plt Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh bersama jajaran panitia pelaksana dan pengarah konferensi yang dibentuk dalam rapat pleno di Sekretariat PWI Sulsel, Makassar, Sabtu (14/3/2026), untuk mempersiapkan Konferensi Provinsi PWI Sulsel periode 2026–2031.

Oleh: Alimuddin (Pemred Palapa Mdia Group)

Ramadhan sering mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: setiap amanah pada akhirnya harus kembali kepada waktu.

Di sebuah gedung merah di Jalan Maccini Sawah, Makassar, para wartawan berkumpul pada Sabtu siang, 14 Maret 2026. Mereka tidak sedang mengejar berita yang panas, tidak pula memburu pernyataan pejabat. Mereka justru sedang membicarakan rumah mereka sendiri, ganisasi yang selama ini menjadi tempat bernaung para pencari kabar: Persatuan Wartawan Indonesia.

Di ruang rapat sekretariat PWI Sulawesi Selatan, sebuah estafet kepemimpinan berlangsung dengan suasana yang tenang. Tidak ada sorak-sorai, tidak pula ketegangan yang mencolok. Hanya percakapan yang mengalir pelan, seperti orang-orang yang sedang menyadari bahwa perjalanan organisasi selalu berada di antara pergantian waktu.

Melalui keputusan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, Zulkifli Gani Ottoh, yang akrab dipanggil Zugito, ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Ketua PWI Sulawesi Selatan. Ia menerima mandat itu untuk memimpin organisasi sementara waktu sekaligus menyiapkan Konferensi Provinsi yang akan memilih ketua definitif masa bakti 2026–2031.

Waktu yang diberikan tidak panjang: tiga bulan.

Zugito, selain Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, ia juga didaulat menjadi Plt. Ketua PWI Sulsel oleh PWI Pusat.

Dalam sambutannya, Agus, sapaan akrabnya, tidak banyak berbicara tentang jabatan. Ia justru mengingat perjalanan lima tahun yang dilalui organisasi itu. Ada dinamika, ada perbedaan pandangan, ada pula tantangan yang kadang menguji kebersamaan.

Namun dari perjalanan itu, ada satu hal yang ia sebut dengan rasa syukur: berdirinya gedung sekretariat PWI Sulsel yang kini berstatus milik organisasi.

Gedung itu mungkin hanya bangunan bagi orang luar. Tetapi bagi para wartawan, ia lebih dari sekadar kantor. Ia adalah rumah.

“Semoga kepemimpinan sementara ini berjalan baik hingga konferensi provinsi terlaksana,” ujar Agus.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun cukup untuk menggambarkan satu kenyataan: organisasi profesi, seperti juga kehidupan, selalu berjalan melalui pergantian tangan.

Bagi Zugito, amanah ini bukan sesuatu yang asing. Ia pernah memimpin PWI Sulawesi Selatan selama dua periode sebelum kini berkiprah di tingkat nasional. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa memimpin organisasi wartawan bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menjaga semangat kolektif para anggotanya.

Karena itu, dalam sambutannya ia tidak banyak berbicara tentang strategi. Ia memilih mengajak para wartawan kembali pada satu hal yang paling mendasar: persatuan.

“Kantor sekretariat ini adalah rumah wartawan. Rumah ini harus kita hidupkan bersama,” katanya.

Kalimat itu menggantung sejenak di ruang rapat.

Di luar gedung, langit Makassar siang itu tampak cerah. Ramadhan membawa suasana yang lebih hening dari biasanya, seakan memberi ruang bagi orang-orang untuk merenung tentang perjalanan mereka sendiri.

Bagi PWI Sulsel, tiga bulan ke depan akan menjadi waktu yang penting. Dalam waktu itu, organisasi harus mempersiapkan Konferensi Provinsi yang akan menentukan arah kepemimpinan lima tahun mendatang.

Usai serah terima jabatan, rapat berlanjut dengan agenda membentuk panitia konferensi.

Faisal Palapa dipercaya sebagai Ketua Organizing Committee (OC), didampingi Alfian Zugito sebagai sekretaris dan H. Rukman Nawawi sebagai bendahara.

Sementara itu, Moh. Arafah ditunjuk sebagai Ketua Steering Committee (SC) dengan Manaf Rachman sebagai sekretaris.

Struktur itu menjadi langkah awal menuju konferensi yang diharapkan berlangsung tertib dan bermartabat.

Menjelang sore, rapat pleno perlahan selesai. Para wartawan mulai meninggalkan ruangan. Sebagian berdiri di teras sekretariat, berbincang ringan sambil menunggu waktu berbuka.

Angin sore dari laut membawa kesejukan yang tipis.

Di bulan Ramadhan, manusia sering diingatkan bahwa jabatan hanyalah titipan dan waktu hanyalah kesempatan.

Dan di rumah wartawan ini, tiga bulan ke depan akan menjadi ujian kecil bagi satu hal yang selalu dijaga oleh profesi ini: kepercayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *