Menentukan Arah PWI Sulsel: Pertarungan Dua Arus di Graha Pena

PERS120 Dilihat

Oleh: Alimuddin

Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Di balik proses pemilihan ketua organisasi, tersimpan pertaruhan yang lebih besar: arah masa depan organisasi wartawan tertua di negeri ini di tengah perubahan lanskap media yang kian cepat dan kompleks.

Selasa, 2 Juni 2026, Gedung Graha Pena Fajar di Makassar akan menjadi arena tempat para pemilik hak suara menentukan pilihan. Bukan hanya memilih figur ketua, tetapi juga memilih gagasan, pendekatan kepemimpinan, dan jalan yang diyakini mampu membawa PWI Sulawesi Selatan menghadapi tantangan zaman.

Dari proses verifikasi yang dilakukan PWI Pusat, hanya dua pasangan yang dinyatakan memenuhi syarat dan resmi maju dalam kontestasi. Keduanya datang dengan latar belakang, pengalaman, dan basis dukungan yang sama-sama kuat.

Pada nomor urut satu, tampil Amrullah Basri Gani berpasangan dengan Abd. Jurlan. Amrullah bukan nama asing dalam industri media Sulawesi Selatan. Sebagai Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Fajar, ia tumbuh dalam lingkungan media yang sejak lama menjadi salah satu pusat gravitasi pers di kawasan timur Indonesia. Pengalamannya mengelola perusahaan media menjadi modal yang diyakini para pendukungnya mampu menjawab tantangan organisasi di era disrupsi digital.

Di sisi lain, nomor urut dua menghadirkan pasangan Suwardi Thahir dan HM Dahlan Abubakar. Suwardi dikenal luas di kalangan wartawan sebagai sosok yang lama berkecimpung dalam bidang pendidikan dan pengujian kompetensi wartawan. Rekam jejaknya di Lembaga Uji Kompetensi PWI membentuk citra sebagai figur yang menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas profesi. Bersanding dengannya, Dahlan Abubakar hadir sebagai salah satu tokoh pers senior Sulawesi Selatan yang telah melewati berbagai fase perkembangan dunia jurnalistik daerah.

Pertemuan dua pasangan ini membuat Konferprov PWI Sulsel kali ini memiliki dimensi yang berbeda. Di satu sisi, terdapat kekuatan yang lahir dari pengalaman mengelola industri media modern. Di sisi lain, hadir arus yang menekankan penguatan kapasitas profesi dan pemulihan marwah organisasi.

Karena itu, kontestasi ini tidak dapat dibaca semata-mata sebagai persaingan personal. Yang sedang berhadapan sesungguhnya adalah dua penekanan kepemimpinan yang berbeda, meskipun keduanya berangkat dari tujuan yang sama: menjaga eksistensi dan relevansi PWI di tengah perubahan yang terus bergerak.

Tantangan yang menunggu pengurus baru tidaklah ringan. Dunia pers saat ini menghadapi tekanan ekonomi media, derasnya arus informasi digital, maraknya disinformasi, serta tuntutan peningkatan kompetensi wartawan yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, organisasi profesi dituntut tetap menjadi rumah bersama yang mampu menjaga independensi, etika, dan solidaritas anggotanya.

Dalam konteks itulah, pemilihan ketua PWI Sulsel menjadi lebih bermakna. Forum ini bukan sekadar soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana organisasi dapat keluar dari proses demokrasi ini dengan tetap menjaga persatuan, kehormatan profesi, dan kepercayaan publik.

Juru Bicara Konferprov PWI Sulsel, Muhammad Arafah, menyebut rivalitas kedua figur tersebut diperkirakan akan menghadirkan dinamika yang hangat sepanjang pelaksanaan konferensi. Prediksi itu bukan tanpa alasan. Kedua kandidat memiliki basis dukungan yang nyata dan sama-sama memiliki rekam jejak panjang dalam dunia pers Sulawesi Selatan.

Kini perhatian insan pers daerah tertuju ke Graha Pena. Di gedung itu, suara-suara wartawan dari berbagai kabupaten dan kota akan bertemu dalam satu keputusan kolektif. Sebuah keputusan yang akan menentukan siapa yang memegang kemudi PWI Sulawesi Selatan hingga 2031.

Pada akhirnya, sejarah organisasi selalu ditulis oleh pilihan-pilihan yang diambil pada momen seperti ini. Dan Konferprov PWI Sulsel 2026 tampaknya akan menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan panjang pers Sulawesi Selatan.

Catatan Redaksi:

Dalam perspektif jurnalistik, Konferprov PWI Sulsel 2026 menarik karena mempertemukan dua figur yang merepresentasikan dua kekuatan penting dalam organisasi pers: pengelolaan industri media dan penguatan profesionalisme wartawan. Siapa pun yang terpilih, tantangan utamanya bukan hanya memenangkan suara, melainkan menyatukan organisasi dan menjawab perubahan besar yang sedang berlangsung di dunia pers Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *