Menjaga Jalan Pulang

POLRI166 Dilihat

Keterangan Gambar:

Latihan untuk Jalan Pulang
Personel Polres Soppeng mengikuti Latihan Pra Operasi Ketupat 2026 di Aula Tantya Sudhirajati, Rabu (11/3/2026). Latihan ini menjadi bagian dari persiapan pengamanan arus mudik dan perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, ketika ribuan warga akan kembali ke kampung halaman mereka. (Foto: Humas Polres Soppeng)

AKBP Aditya Pradana: “Jadikan setiap tugas sebagai bentuk pengabdian dan ibadah.”

Penulis: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)
Penulis terinspirasi dari Press Release yang dibagikan Humas Polres Soppeng ke Group WhatsApp Wartawan Soppeng

Dari sebuah aula di Polres Soppeng, para polisi memulai persiapan menjaga jutaan langkah yang akan bergerak pulang pada Hari Raya.

SOPPENG — Pagi itu, Aula Tantya Sudhirajati Polres Soppeng dipenuhi barisan seragam cokelat yang berdiri tegak. Lampu ruangan memantul di meja panjang. Di dinding, lambang negara menggantung tenang, seakan ikut menyaksikan persiapan sebuah tugas yang tak sederhana.

Ramadan belum selesai.
Tetapi perjalanan menuju Idul Fitri sudah mulai dihitung.

Di ruangan itu, Rabu pagi, 11 Maret 2026, Polres Soppeng menggelar Latihan Pra Operasi Kepolisian Terpusat Ketupat 2026. Sebuah latihan yang setiap tahun digelar, namun selalu membawa makna yang sama: memastikan masyarakat dapat pulang ke kampung halaman dengan aman.

Wakapolres Soppeng Kompol Sudarmin membuka kegiatan tersebut tepat pukul 09.00 WITA. Ia didampingi Kabag Ops Kompol Abdul Rahman. Di hadapan mereka, para pejabat utama, perwira, serta puluhan personel yang akan terlibat dalam operasi mengikuti setiap paparan dengan penuh perhatian.

Tema latihan tahun ini terdengar formal: meningkatkan kemampuan dan profesionalitas Polri dalam pelayanan Idul Fitri 1447 Hijriah guna memelihara keamanan dalam negeri.

Namun di balik kalimat itu, sesungguhnya tersimpan tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Mudik adalah tradisi.
Tetapi bagi aparat keamanan, ia juga musim kewaspadaan.

Selama sesi latihan, para peserta menerima berbagai materi dari pejabat fungsi kepolisian. Mulai dari strategi pengamanan lalu lintas, analisis intelijen terhadap potensi kerawanan, pengawasan internal personel, hingga langkah antisipasi menghadapi gangguan keamanan selama arus mudik dan perayaan Lebaran.

Setiap materi seperti peta kecil yang disusun untuk membaca kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di lapangan.

Operasi Ketupat 2026 sendiri akan berlangsung selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026. Sebanyak 85 personel Polres Soppeng akan diterjunkan ke berbagai pos pengamanan dan pelayanan. Mereka akan bekerja bersama unsur TNI dan instansi terkait lainnya.

Di jalan raya nanti, mereka akan berdiri di simpang-simpang padat, di jalur mudik yang panjang, di pos-pos kecil yang sering menjadi tempat orang bertanya arah.

Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana menegaskan bahwa latihan pra operasi ini merupakan langkah penting untuk memastikan seluruh personel benar-benar memahami tugasnya.

Menurutnya, Operasi Ketupat bukan sekadar rutinitas tahunan.

Ia adalah bentuk nyata pelayanan negara kepada masyarakat.

“Melalui latihan ini kami ingin memastikan seluruh personel Polres Soppeng benar-benar siap, baik dari segi kemampuan, koordinasi maupun sikap pelayanan kepada masyarakat. Pengamanan Idul Fitri adalah tanggung jawab kita bersama untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang menjalankan ibadah maupun melakukan perjalanan mudik,” ujarnya.

Namun yang paling ditekankan Kapolres bukan hanya soal kesiapan teknis.

Ia berbicara tentang sikap.

Polisi, katanya, harus hadir dengan pendekatan yang humanis, profesional, dan penuh tanggung jawab.

“Senyum, sapa dan salam kepada masyarakat. Jadikan setiap tugas sebagai bentuk pengabdian dan ibadah,” pesannya.

Di tengah keramaian arus mudik nanti, pesan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah wajah pelayanan negara akan terlihat.

Kapolres juga mengingatkan seluruh personel untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi kerawanan: kriminalitas, kemacetan lalu lintas, hingga kemungkinan bencana alam.

Karena setiap perjalanan pulang selalu membawa harapan.

Dan harapan itu harus dijaga.

Menjelang tengah hari, sekitar pukul 12.00 WITA, kegiatan latihan berakhir. Aula kembali lengang. Kursi-kursi perlahan kosong.

Tetapi di luar ruangan, waktu terus berjalan menuju hari besar umat Islam.

Dan ketika jutaan orang nanti bergerak pulang ke kampung halaman, ada para polisi yang tetap berdiri di jalan.

Menjaga perjalanan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *