Keterangan Gambar:
Personel Polres Soppeng memberikan penghormatan terakhir dalam prosesi pemberangkatan dan pemakaman kedinasan almarhum Aipda Ashar Ladai di Pekuburan Keluarga Batumemmanae, Desa Belo, Kecamatan Ganra, Soppeng. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
Oleh: Syamsuddin Andy
SUARA PALAPA, SOPPENG — Di bawah langit siang yang terang, sebuah perjalanan kehidupan akhirnya sampai pada batasnya.
Tak ada lagi bunyi langkah sepatu dinas. Tak ada lagi seragam yang dikenakan untuk menjalankan tugas. Yang tersisa hanyalah keheningan, doa, dan penghormatan dari orang-orang yang pernah berjalan bersama dalam satu jalan pengabdian.
Selasa, 8 September 2026, keluarga besar Polres Soppeng mengantarkan Aipda Ashar Ladai, Bintara Satuan Lalu Lintas Polres Soppeng, menuju peristirahatan terakhirnya di Pekuburan Keluarga Batumemmanae, Desa Belo, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng.
Hari itu, tugas kedinasan berubah menjadi penghormatan. Rekan sejawat yang selama ini hadir dalam barisan pengabdian, kini dilepas dalam suasana duka yang mendalam.
Sekitar pukul 14.30 WITA, upacara pemberangkatan jenazah dilaksanakan dengan khidmat. Wakapolres Soppeng Kompol Tamar, S.Sos. memimpin prosesi tersebut.
Setelah itu, upacara pemakaman secara kedinasan dipimpin Kabag Sumda Polres Soppeng Kompol Sulaeman Abu, S.H., M.H.
Barisan personel berdiri tegak. Wajah-wajah yang biasanya tegas dalam menjalankan tugas, hari itu menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.
Para Pejabat Utama dan personel Polres Soppeng hadir. Demikian pula personel Polsek Ganra, Lilirilau dan Donri-Donri, satu kelompok personel Satuan Lalu Lintas, personel gabungan Polres dan Polsek jajaran, regu penembak salvo dari Satuan Sabhara, serta Bhayangkari Polres Soppeng.
Mereka datang bukan sekadar memenuhi kewajiban kedinasan.
Mereka datang sebagai saudara.
Sebab di dalam institusi kepolisian, pengabdian bukan hanya tentang tugas dan kewenangan. Ada persaudaraan yang tumbuh dari kebersamaan, dari lelah yang pernah dipikul bersama, dari doa keluarga yang senantiasa mengiringi setiap langkah anggota Polri ketika meninggalkan rumah untuk menjalankan tugas.
Salam Terakhir di Ujung Pengabdian
Prosesi berjalan perlahan dan penuh penghormatan.
Laporan perwira upacara mengawali rangkaian penghormatan kepada almarhum. Riwayat singkat dibacakan sebagai pengingat bahwa di balik pangkat dan seragam, ada seorang manusia yang pernah mengabdikan waktu, tenaga dan kehidupannya untuk institusi.
Jenazah kemudian diturunkan ke liang lahat.
Pada saat itulah, suasana semakin hening.
Tembakan salvo menggema sebagai penghormatan terakhir. Bunga ditaburkan oleh keluarga. Doa dipanjatkan. Tanah perlahan menutup jasad yang telah menyelesaikan perjalanan duniawinya.
Dalam tradisi kedinasan, salvo adalah penghormatan.
Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, bunyi itu mungkin terasa seperti penanda bahwa seseorang yang dicintai benar-benar telah pergi.
Pergi dari dunia, tetapi tidak dari ingatan.
Sebab manusia mungkin meninggalkan dunia, tetapi kebaikan dan pengabdiannya dapat terus hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah merasakannya.
Kehilangan yang Mengajarkan Keikhlasan
Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan duka cita atas berpulangnya Aipda Ashar Ladai.
Bagi keluarga, kata Kapolres, kepergian almarhum adalah kehilangan yang begitu dalam. Namun bagi institusi Polri, khususnya Polres Soppeng, kepergian tersebut juga menjadi kehilangan seorang rekan dalam perjalanan panjang pengabdian.
“Atas nama pimpinan dan seluruh keluarga besar Polres Soppeng, kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya almarhum Aipda Ashar Ladai. Semoga seluruh pengabdian dan amal baik almarhum selama menjalankan tugas mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT,” ujar Kapolres.
Pesan itu bukan sekadar ungkapan belasungkawa.
Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa setiap pengabdian pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik kehidupan.
Manusia bekerja, berjuang dan berbuat baik. Tetapi kapan perjalanan itu berakhir, hanya Allah SWT yang mengetahui.
Karena itu, Kapolres mengingatkan seluruh personel agar momentum tersebut menjadi renungan bersama.
Di balik seragam yang dikenakan seorang anggota Polri, selalu ada keluarga yang menunggu di rumah. Ada orang tua yang berharap anaknya pulang. Ada pasangan yang menanti. Ada anak-anak yang menggantungkan harapan pada sosok ayah atau ibu yang menjalankan tugas.
“Kita semua tentu merasa kehilangan. Namun, kita juga harus menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Kehadiran rekan-rekan sejawat dalam suasana seperti ini adalah bentuk kepedulian dan rasa persaudaraan,” ungkapnya.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.
Bahwa ketika seorang anggota telah pergi, kewajiban kemanusiaan belum selesai.
Masih ada keluarga yang harus dikuatkan. Masih ada kesedihan yang harus dipeluk dengan kepedulian. Masih ada doa yang perlu terus dilangitkan.
Pengabdian Tak Berhenti di Liang Lahat
Kapolres juga mengajak seluruh personel untuk menghormati jasa dan pengabdian almarhum dengan meneruskan nilai-nilai baik yang telah ditinggalkan.
“Kita hormati jasa dan pengabdian almarhum. Jadikan apa yang telah beliau berikan kepada institusi sebagai motivasi bagi kita yang masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan pengabdian,” tambah AKBP Hari Budiyanto.
Kalimat itu menjadi semacam pesan terakhir bagi mereka yang masih berdiri dalam barisan.
Bahwa kematian seorang anggota bukan sekadar akhir sebuah perjalanan, melainkan juga pengingat bagi yang masih hidup.
Bahwa waktu adalah amanah.
Bahwa seragam adalah tanggung jawab.
Dan bahwa setiap pengabdian akan meninggalkan jejak yang suatu hari akan dikenang oleh orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Sekitar pukul 16.20 WITA, seluruh rangkaian upacara pemberangkatan dan pemakaman selesai.
Barisan perlahan meninggalkan lokasi.
Tanah telah menutup peristirahatan Aipda Ashar Ladai. Namun doa dan penghormatan belum benar-benar berakhir.
Di tempat itu, keluarga kehilangan seorang yang dicintai. Polres Soppeng kehilangan seorang anggota. Dan para personel yang masih melanjutkan tugas pulang membawa sebuah renungan: setiap keberangkatan untuk bertugas sesungguhnya adalah sebuah amanah, sementara kepulangan terakhir adalah kepastian yang tak seorang pun dapat menghindarinya.
Allah SWT berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Maka ketika langkah manusia berhenti di batas kehidupan, yang tinggal bukan lagi pangkat, jabatan atau seragam.
Yang tinggal adalah amal.
Yang dikenang adalah kebaikan.
Dan yang diharapkan adalah rahmat Allah SWT.
Selamat jalan, Aipda Ashar Ladai.
Semoga pengabdian yang telah ditunaikan menjadi amal yang diterima, kesalahan diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan serta keikhlasan.
Sebab pada akhirnya, setiap kita sedang menempuh perjalanan yang sama, pulang kepada-Nya.
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani






