Di Ujung Takdir, Keheningan Menjemput Seorang Pedagang Pasar

BERITA DUKA5 Dilihat

Keterangan Gambar:

Petugas Polres Soppeng bersama tim medis melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan awal terhadap seorang pria yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Pasar Sentral Soppeng, Jumat (10/7/2026). Hasil pemeriksaan luar menunjukkan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban sebelum jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)

Oleh: Petta Barang

SOPPENG, SUARA PALAPA – Di antara riuh suara transaksi yang setiap hari menghidupkan Pasar Sentral Soppeng, Jumat pagi (10/7/2026), waktu seakan berhenti sejenak. Langkah para pedagang melambat, percakapan meredup, dan wajah-wajah yang biasanya dihiasi semangat mencari rezeki berubah menjadi tatapan penuh iba. Seorang lelaki yang selama ini dikenal sederhana dan bersahaja ditemukan telah mengakhiri perjalanan hidupnya.

Dalam keyakinan setiap insan beriman, kematian adalah janji yang tak pernah ingkar. Ia datang tanpa mengetuk pintu, tanpa memilih tempat, usia, ataupun keadaan. Allah SWT telah mengingatkan, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Pada pagi itu, ketetapan Ilahi menghampiri Muh. Saing (50), seorang petani yang juga menggantungkan hidup sebagai pedagang dan selama ini tinggal seorang diri di kawasan Pasar Sentral Soppeng, Kelurahan Lapajung, Kecamatan Lalabata.

Menurut keterangan sejumlah saksi, sekitar pukul 08.30 WITA, almarhum masih sempat memanggil seorang warga yang berada tidak jauh dari tempatnya beristirahat. Melihat kondisinya yang melemah, saksi menghampiri dan dengan penuh empati mengingatkan almarhum untuk mengucapkan syahadat serta memperbanyak mengingat Allah. Sebuah bisikan keimanan yang lahir dari kepedulian sesama manusia di detik-detik yang diduga menjadi penghujung perjalanan hidupnya.

Tak berselang lama, warga kembali memeriksa keadaan korban. Namun, ia sudah tidak lagi memberikan respons. Warga kemudian menghubungi pihak berwenang agar penanganan dilakukan sesuai prosedur.

Laporan tersebut segera ditindaklanjuti. Personel Piket Polsek Lalabata bersama Unit Identifikasi Satreskrim dan Piket Fungsi Polres Soppeng yang dipimpin Pamapta I Polres Soppeng, Aiptu Fitra Jaya, tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara, mengumpulkan keterangan para saksi, serta mengevakuasi jenazah ke RSUD Latemmamala Soppeng.

Pemeriksaan luar yang dilakukan dokter jaga RSUD Latemmamala, didampingi personel Inafis Polres Soppeng, menemukan adanya darah yang keluar dari mulut korban yang diduga akibat pecahnya pembuluh darah. Selain itu, ditemukan pembengkakan pada bagian perut, betis, dan kaki yang diduga berkaitan dengan kondisi penyakit yang diderita almarhum. Dari hasil pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Keluarga menerima peristiwa itu sebagai sebuah musibah dan takdir Allah SWT. Mereka menyatakan keberatan dilakukan autopsi serta menuangkannya dalam surat pernyataan resmi. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan di wilayah Laburawung, Kelurahan Lapajung, Kecamatan Lalabata.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., menyampaikan belasungkawa atas wafatnya almarhum sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak membangun opini maupun menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan awal bersama tenaga medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kami mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi dan tetap menghormati privasi serta perasaan keluarga yang sedang berduka,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk kehidupan, setiap manusia sedang berjalan menuju garis akhir yang telah ditentukan Sang Pencipta. Tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana dan kapan perjalanan itu akan usai. Yang tersisa hanyalah amal, doa, dan kenangan baik yang ditinggalkan.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal baiknya, serta menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan. Sebab pada akhirnya, setiap kepulangan adalah nasihat paling sunyi bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan menuju keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *