Keterangan Gambar:
Kepala Desa Donri-Donri, Jamil Hasan, bersama warga dan keluarga almarhum mengikuti prosesi pemakaman almarhum Makka di Pekuburan Islam Tajuncu, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, Selasa (2/6/2026). Kehadiran pemerintah desa dalam prosesi duka tersebut menjadi wujud kepedulian sosial, kebersamaan, dan penguatan tali persaudaraan di tengah masyarakat.
Penulis: Usman
Editorbl: Alimuddin
Langit siang di Tajuncu tampak teduh, seolah ikut menundukkan diri ketika langkah-langkah pelayat perlahan mengiringi perjalanan terakhir seorang warga menuju keabadian. Di tengah hamparan tanah kubur yang mulai terbuka, suara percakapan mereda, digantikan keheningan yang hanya sesekali dipecah oleh lantunan doa dan desiran angin yang menyapu dedaunan.
Pada Selasa, 2 Juni 2026, Kepala Desa Donri-Donri, Jamil Hasan, hadir bersama masyarakat untuk mengantar almarhum Makka ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pekuburan Islam Tajuncu, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng.
Kehadiran orang nomor satu di Desa Donri-Donri itu bukan sekadar memenuhi kewajiban seremonial. Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga, ia datang sebagai bagian dari masyarakat yang turut merasakan kehilangan. Di hadapan liang lahat yang telah disiapkan, batas antara jabatan dan rakyat seakan luluh. Yang tersisa hanyalah sesama manusia yang sedang mengantar saudaranya kembali kepada Sang Pencipta.
Keluarga almarhum menyambut kehadiran Kepala Desa dengan hangat. Ucapan belasungkawa yang disampaikan menjadi penguat hati bagi mereka yang tengah berjuang menerima takdir. Dalam tradisi masyarakat Bugis, duka tidak pernah dipikul sendiri. Kesedihan menjadi milik bersama, dan doa-doa dipanjatkan secara berjamaah agar keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keteguhan.
Jamil Hasan menegaskan bahwa pemerintah desa harus hadir dalam seluruh dinamika kehidupan masyarakat, termasuk ketika warga menghadapi musibah dan kehilangan.
Menurutnya, tugas pemerintah desa tidak hanya berkutat pada administrasi, pembangunan infrastruktur, maupun pelayanan publik semata. Lebih dari itu, pemerintah juga memiliki tanggung jawab sosial dan moral untuk memastikan setiap warga merasakan kehadiran negara hingga ke tingkat paling dekat, yakni desa.
“Kami ingin masyarakat Desa Donri-Donri merasakan bahwa pemerintah selalu hadir, baik dalam suasana bahagia maupun saat menghadapi kesedihan. Kebersamaan seperti inilah yang harus terus dijaga,” ungkapnya.
Di pemakaman itu, tanah yang ditimbun perlahan menjadi pengingat akan satu kenyataan yang tak pernah dapat dihindari manusia: setiap kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada pemiliknya. Jabatan, harta, dan segala kebanggaan duniawi akan berakhir pada titik yang sama, meninggalkan amal serta jejak kebaikan selama hidup.
Karena itulah, tradisi saling menguatkan saat berduka memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hadir secara fisik. Ia menjadi wujud kasih sayang, solidaritas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.
Kehadiran Kepala Desa bersama warga dalam prosesi pemakaman tersebut juga menjadi gambaran bahwa gotong royong dan persaudaraan masih tumbuh subur di tengah kehidupan masyarakat Donri-Donri. Saat seorang warga berpulang, seluruh komunitas ikut mengambil bagian dalam perjalanan terakhirnya, memastikan tidak ada keluarga yang merasa sendiri menghadapi kehilangan.
Di antara tanah merah yang menutupi liang lahat dan doa-doa yang mengalir dari bibir para pelayat, tersimpan pesan sederhana namun abadi: bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar sebuah masyarakat. Dan selama nilai itu tetap dijaga, Desa Donri-Donri akan terus menjadi rumah yang hangat bagi setiap warganya, baik dalam suka maupun duka.






