Ilustrasi
Oleh: Syukur Mariorante Katalawala
Senja baru saja melabuhkan tirainya di ufuk barat Desa Kancana, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, NTB, ketika sebuah pesan duka menyelinap masuk ke dalam ruang obrolan WhatsApp PWI Sulsel.
Senin (22/6/2026) tepat pukul 19.11 WITA, gawai para wartawan bergetar, membawa untaian kalimat penuh ketabahan dari seorang tokoh pers Sulsel:
“Innalillahi wainna ilaihi Raji’un, mohon doanya kiranya Ibunda saya Hj. Hafsah H. Abidin diterima di sisi-Nya. Almarhum berpulang, Senin (22/6/2026) pukul 18.45…”
Kalimat itu dikirimkan langsung oleh Dr. H. Muh. Dahlan Abubakar. Pria yang baru saja terpilih sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Formatur dalam Konferprov PWI Sulsel, Selasa (2/6/2026) lalu.
Namun malam itu, ia melepaskan sejenak jubah kebesarannya sebagai jurnalis senior. Ia kembali menjadi seorang anak yang sedang menatap kepergian kiblat kasih sayangnya.
Jarak, Bakti, dan Amanah yang Menjalin Satu
Kisah kepergian Hj. Hafsah adalah tentang lingkaran takdir yang puitis sekaligus menyentuh hati. Beberapa hari lalu, panggilan rindu dan firasat membawa Dahlan menempuh jarak dari Makassar menuju tanah kelahirannya di Bima. Ibunda tercinta sedang terbaring lemah, digerogoti sakit di hari-hari tuanya.
Sebagai anak sulung, Dahlan tahu di mana ia harus berada ketika tubuh sang ibu mulai rapuh dimakan waktu. Di sisi ranjang itulah, sebuah harmoni luar biasa antara bakti kepada orang tua dan tanggung jawab pada profesi berpadu tanpa celah.
Meski raganya berada di pelosok Bima demi menjaga sang ibu, tanggung jawabnya memimpin formatur kepengurusan PWI Sulsel periode 2026–2031 tetap ia pikul. Melalui layar kaca Zoom Meeting, di sela-sela desah napas berat ibundanya, Dahlan memimpin rapat-rapat penting organisasi. Satu tangannya menggenggam jemari sang ibu yang kian mendingin, sementara pikirannya menata masa depan pers Sulawesi Selatan. Sebuah dedikasi yang sunyi, namun bergemuruh oleh rasa tanggung jawab.
Berpulang dalam Dekapan Doa
Senin malam itu, takdir menjemput ketetapan-Nya. Tepat pukul 18.45 WITA, dalam suasana yang khusyuk dan dipenuhi ridha, Hj. Hafsah H. Abidin mengembuskan napas terakhirnya.
Kepergiannya begitu indah dan tenang. Sang khalik memanggilnya pulang ke haribaan-Nya dengan disaksikan langsung oleh suami tercinta, sang putra sulung Dahlan Abubakar, adik-adiknya, serta ketujuh anaknya. Tidak ada kesendirian, yang ada hanyalah untaian selawat dan doa yang mengantar kepergian sang ibu menuju keabadian.
Bagi seorang hamba yang beriman, kematian bukanlah akhir, melainkan jembatan yang mempertemukan seorang kekasih dengan Kekasih Tertingginya.
Almarhumah berpulang di tanah kelahirannya, dikelilingi oleh buah hati yang berhasil ia didik menjadi insan-insan yang bermanfaat bagi sesama.
Doa dan Simpati yang Mengalir
Kehilangan ini tidak hanya menjadi duka bagi keluarga besar di Bima, tetapi juga menyisakan kesedihan mendalam bagi jagat pers di Sulawesi Selatan. Ucapan belasungkawa berdatangan, salah satunya dari Pemimpin Redaksi Palapa Media Group, Alimuddin.
“Kami atas nama keluarga besar Palapa Media Group menyampaikan turut berdukacita dan berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ibunda dari Bapak Dr. H. Muh. Dahlan Abubakar,” tutur Alimuddin penuh takzim.
“Semoga segala amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala khilaf dan dosanya, serta ditempatkan di tempat terbaik, jannah-Nya.
Kepada sanak keluarga yang ditinggalkan, semoga senantiasa dianugerahi kesabaran, ketabahan, dan ketawakkalan yang luas dalam menghadapi ujian takdir ini,” pungkasnya.
Kini, pena sang wartawan senior mungkin jeda sejenak, namun doa-doa takkan pernah putus mengalir, mengiringi tidur panjang sang Ibunda di keheningan bumi Parado.
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu ‘anha.






