​Ketika Walennae Menguji Kesabaran: Merajut Asa di Tanah Watampanua yang Terekah

BENCANA22 Dilihat

​​Keterangan Gambar:

Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H., bersama jajaran TNI, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat saat meneliti dari dekat luka retakan tanah akibat longsor di sepanjang jalan tepian Sungai Walennae, Desa Watampanua, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Selasa (18/8/2026). (Foto: Dok. Humas Polres Wajo)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

​FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

SUARA PALAPA, WAJO — Ada duka yang terpahat diam-diam di balik bisikan angin pagi di tepian Sungai Walennae. Di tempat di mana geliat roda kehidupan warga Desa Watampanua biasanya berputar menuju ladang dan harapan, kini terhampar keheningan yang lain. Bumi Watampanua, tepatnya di Dusun Warasalae, Kecamatan Pammana, terekah dan melisankan duka akibat bencana tanah longsor yang mengikis ruas jalan utama sepanjang 25 meter.

​Jalan yang dulunya menjadi saksi bisu tawa anak-anak sekolah, tapak kaki petani pembawa hasil bumi, serta tumpuan rezeki warga, kini terputus total. Namun, di balik takdir alam yang tak tertebak ini, kemanusiaan justru hadir bersemi lebih erat.

​Selasa pagi (18/8/2026), sekitar pukul 09.30 Wita, saat matahari mulai menanjak, suasana di tepi sungai berangsur riuh. Bukan oleh kepanikan, melainkan oleh kepedulian yang menyatu. Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H., hadir tidak sekadar membawa seragam dan wewenang, melainkan melangkah dengan nurani seorang pengayom rakyat.

​Di sisinya, melangkah bersama Kepala Dinas PUPR Kabupaten Wajo Muh. Ibnu Hasyim, Camat Pammana Andi Yasman Ampa, Danramil 1406-06 Pammana Kapten Inf. Ibrahim Bahar, perwakilan BPBD Lukman, S.E., serta Kepala Desa Watampanua H. Made Ali. Lengkap dengan keteladanan aparat TNI-Polri dan kehangatan warga setempat, mereka berdiri bahu-membahu menatap langsung luka di atas tanah tersebut.

​Bumi tampaknya tengah menyampaikan pesannya. Kemarau terik yang mendera sekian lama telah memicu dahaganya tanah hingga mengering dan meretak. Lalu, manakala fluktuasi dan luapan air Sungai Walennae menghempas pada musim-musim sebelumnya, fondasi bumi di tepian itu pun tak lagi sanggup menahan beban. Sebuah ikhtiar alam yang mengingatkan manusia akan betapa rapuhnya kehidupan di hadapan sang Maha Pencipta.

​Dengan tatapan penuh ketulusan dan nada bicara yang mengayomi, AKP Ami Suandi menatap tajamnya tebing yang luruh. Baginya, keselamatan setiap helai napas warga adalah amanah tertinggi yang dititipkan Tuhan.

​“Kami hadir bersama seluruh unsur pemerintah daerah dan TNI untuk memastikan tidak ada warga kami yang menjadi korban. Kerusakannya cukup dalam dan parah, jalan ini untuk sementara tak bisa disapa roda kendaraan. Namun, kepedulian dan keselamatan masyarakat adalah yang utama dan tidak boleh terputus,” ujar AKP Ami Suandi dengan nada menyejukkan.

​Ia pun tak jemu-jemu mengingatkan warga agar menahan diri dan mengutamakan kehati-hatian. Di balik himbauannya, tersirat pesan religius bahwa setiap musibah membawa panggilan untuk lebih waspada, bersabar, dan saling menjaga keselamatan jiwa.

​Koordinasi lintas sektor segera dirajut. Penanganan darurat direncanakan, garis-garis pengamanan dipasang, dan pemantauan titik-titik rawan susulan terus ditingkatkan. Kehadiran para pimpinan dan petugas di tengah debu dan retakan tanah itu seolah menyalakan kembali lenteranya harapan warga Watampanua yang sempat redup.

​Kegiatan peninjauan yang berlangsung hangat, aman, dan kondusif itu akhirnya ditutup dengan doa-doa yang terpanjat diam-diam di dada setiap orang yang hadir.

​Tanah boleh saja retak dan terputus oleh deru alur Walennae, namun ikatan persaudaraan, kepedulian negara, dan keteguhan iman masyarakat Pammana takkan pernah goyah. Sebab di balik setiap cobaan yang menyapa bumi, selalu ada tangan-tangan tulus yang siap mengulurkan harapan baru. (PMG/Sabri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *