Api Membakar Lahan Bera, Kepedulian Warga dan Polisi Tak Padam

BENCANA291 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG — Api selalu datang tanpa mengetuk pintu. Dalam sekejap, hamparan lahan yang sebelumnya tenang dapat berubah menjadi kepulan asap dan bara. Namun, di tengah panas yang mengancam, selalu ada tangan-tangan yang memilih bergerak untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Itulah yang terjadi di Bera, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Soppeng, Senin (7/9/2026).

Ketika kabar kebakaran lahan terdengar, sejumlah personel Polsek Marioriawa segera bergerak menuju lokasi. Mereka dipimpin Kanit Reskrim Polsek Marioriawa, Aiptu Syarifuddin, didampingi Kanit Provos Aiptu Nurdin K, Kanit Sabhara Aiptu Suardi, serta Bhabinkamtibmas Desa Laringgi Aiptu Ibrahim.

Di lokasi, mereka mendapati Ketua RT 003/RW 001 Dusun Bera, Rasid, bersama sejumlah warga telah lebih dahulu berjibaku menghadapi api.

Tidak ada sekat antara seragam dan pakaian warga. Di tengah kepungan asap, semuanya berdiri dalam satu kepentingan: menghentikan api agar tidak menjalar lebih luas.

Kebakaran tersebut melanda lahan milik warga dengan luas sekitar tiga hektare. Kehadiran personel Polsek Marioriawa menjadi tambahan kekuatan sekaligus membangkitkan semangat masyarakat sekitar untuk bersama-sama melakukan pemadaman.

Api dilawan dengan apa yang tersedia. Tenaga dikerahkan, kewaspadaan ditingkatkan, dan setiap titik bara diperiksa agar tidak kembali menyala.

Sebab dalam musim kemarau yang panjang, satu bara kecil dapat menjadi awal dari musibah yang lebih besar.

Setelah memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi merambat ke lahan lainnya, Aiptu Syarifuddin mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran, khususnya selama musim kemarau.

Pesan itu bukan sekadar imbauan. Ia lahir dari kenyataan bahwa alam yang kering mudah tersulut, sementara kelalaian kecil dapat meninggalkan kerugian besar.

Di balik peristiwa itu, ada pula kesedihan pemilik lahan. Tanaman yang dirawat dengan harapan dan ketekunan harus menghadapi kerusakan akibat kobaran api.

Aiptu Syarifuddin, atas nama Kapolsek Marioriawa, menyampaikan rasa prihatin dan duka atas kerugian yang dialami pemilik lahan. Ia mengajak korban untuk bersabar sekaligus menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga untuk tidak terulang lagi,” ujar Syarifuddin menyampaikan pesan Kapolsek Marioriawa.

Di Bera, api memang meninggalkan jejak pada lahan. Tetapi hari itu, ada jejak lain yang justru lebih kuat: kepedulian.

Polisi datang bukan hanya membawa kewajiban sebagai penjaga keamanan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari masyarakat yang ikut merasakan kecemasan warga ketika api mulai membesar.

Begitu pula warga. Mereka tidak menunggu semuanya datang dari luar. Mereka berdiri bersama, saling membantu, karena keselamatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, sebuah kebakaran bukan hanya tentang api yang membakar lahan. Ia juga mengingatkan manusia tentang betapa rapuhnya sesuatu yang selama ini dianggap biasa—sebidang tanah, tanaman, dan kehidupan yang tumbuh di atasnya.

Dan ketika musibah datang, Allah memperlihatkan bahwa kekuatan manusia sering kali bukan terletak pada siapa yang paling kuat, melainkan pada siapa yang bersedia bergandengan tangan ketika sesama membutuhkan pertolongan.

Api boleh padam.

Kerugian mungkin membutuhkan waktu untuk dipulihkan.

Tetapi semangat gotong royong dan kepedulian yang tumbuh di Bera, semoga tetap menyala—menjadi cahaya kecil yang mengingatkan kita bahwa menjaga sesama dan menjaga alam adalah bagian dari amanah kehidupan.


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *