Merajut Persatuan, Menata Masa Depan: Formatur PWI Sulsel Menyempurnakan Kepengurusan 2026–2031

PERS19 Dilihat

MAKASSAR, SUARA PALAPA – Di dalam setiap organisasi yang sehat, pergantian kepemimpinan bukanlah sekadar pergantian nama dan jabatan. Ia adalah proses panjang yang menuntut kebijaksa naan, kedewasaan, dan kemampuan merangkul seluruh energi yang pernah bertemu dalam dinamika demokrasi organisasi. Di sanalah nilai sebuah kepemimpinan diuji: bukan pada saat memenangkan kompetisi, melainkan ketika berhasil menyatukan kembali seluruh elemen setelah kompetisi berakhir.

Dua pekan setelah Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan menetapkan kepengurusan baru, suasana itulah yang kini tengah terasa di tubuh organisasi wartawan terbesar di daerah ini. Di balik berbagai pertemuan, komunikasi, dan konsolidasi yang berlangsung secara intensif, tim formatur bergerak menyusun fondasi kepengurusan masa bakti 2026–2031.

Pekerjaan tersebut tidak berjalan dalam gegap gempita. Ia berlangsung tenang, terukur, dan penuh pertimbangan. Satu demi satu nama dibicarakan, dipertimbangkan, lalu ditempatkan pada posisi yang dianggap mampu memperkuat organisasi menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Mandat itu berada di pundak lima tokoh yang dipercaya mengawal proses penyusunan kepengurusan. Mereka adalah Ketua PWI Sulsel terpilih H. Suwardi Thahir, Sarjono sebagai representasi PWI Pusat, Abdul Razak Arsyad mewakili PWI daerah, Mappiar sebagai representasi wartawan senior, serta Dahlan Abubakar yang terpilih memimpin Dewan Kehormatan Provinsi.

Kelima figur tersebut memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Mereka bukan hanya menyusun struktur organisasi, tetapi juga merancang arah perjalanan PWI Sulawesi Selatan lima tahun ke depan. Di tengah perubahan lanskap media yang bergerak sangat cepat, kebutuhan akan organisasi profesi yang kuat, adaptif, dan berintegritas menjadi semakin penting.

Bagi H. Suwardi Thahir, penyusunan kepengurusan bukanlah ruang untuk membagi-bagi posisi, melainkan momentum untuk memperkuat kembali ikatan kekeluargaan di dalam tubuh organisasi.

Menurutnya, PWI Sulawesi Selatan harus tetap menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh anggotanya. Karena itu, komunikasi dan dialog terus dibangun agar kepengurusan yang lahir nantinya benar-benar mencerminkan semangat persatuan yang menjadi ruh organisasi.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa rekonsiliasi pasca-konferensi tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan politik organisasi, melainkan juga sebagai kebutuhan moral. Sebab organisasi profesi yang kuat selalu dibangun di atas fondasi saling menghormati, bukan sekadar kesamaan pilihan dalam sebuah kontestasi.

Semangat merangkul juga terlihat dari terbukanya ruang komunikasi dengan berbagai elemen internal, termasuk tokoh-tokoh yang sebelumnya berada dalam dinamika kompetisi konferensi. Langkah ini menjadi pesan bahwa kepentingan organisasi harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok ataupun individu.

Dalam perspektif yang lebih luas, upaya membangun kepengurusan yang inklusif memiliki arti strategis bagi masa depan PWI Sulawesi Selatan. Tantangan dunia jurnalistik hari ini tidak lagi sederhana. Transformasi digital, derasnya arus informasi, maraknya disinformasi, hingga tuntutan peningkatan kompetensi wartawan membutuhkan organisasi yang solid dan memiliki visi yang jelas.

Karena itu, banyak kalangan menilai bahwa rekonsiliasi pasca-konferensi merupakan modal penting untuk menjaga stabilitas organisasi sekaligus memastikan keberlanjutan program-program strategis. Dengan bersatunya seluruh potensi yang dimiliki, PWI akan lebih kuat menjalankan fungsi pendidikan, peningkatan kompetensi, perlindungan profesi, serta penguatan etika jurnalistik.

Pada akhirnya, publik dan anggota PWI Sulawesi Selatan kini menantikan pengumuman resmi susunan kepengurusan yang tengah difinalisasi. Harapan yang tumbuh bukan semata terhadap hadirnya wajah-wajah baru dalam struktur organisasi, melainkan terhadap lahirnya kepemimpinan yang mampu menjadikan persatuan sebagai kekuatan utama.

Sebab di era ketika dunia jurnalistik menghadapi berbagai ujian dan perubahan yang begitu cepat, organisasi profesi tidak hanya membutuhkan pengurus yang cakap bekerja. Ia juga membutuhkan pemimpin yang mampu merawat kebersamaan, menjaga marwah profesi, dan menuntun organisasi tetap berdiri tegak sebagai rumah besar bagi para wartawan.

Dari ruang-ruang konsolidasi yang kini berlangsung, harapan itu perlahan sedang dirajut. Sebuah ikhtiar untuk menata masa depan, menjaga integritas, dan memastikan bahwa PWI Sulawesi Selatan tetap menjadi pilar penting dalam membangun ekosistem pers yang sehat, merdeka, dan bertanggung jawab. (*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *